[Nafsiyah] Seringnya Kita Lupa, Adab terhadap Guru

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Imam Abu Zakariya Al-Anbani pernah berkata, “Ilmu tanpa adab seperti jasad tanpa roh, dan adab tanpa ilmu pohon yang tidak berbuah.”

Para ulama salaf mengajarkan kita untuk senantiasa menghormati guru. Sebab, guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan ialah ilmu agama yang mulia ini.

Para pewaris Nabi, begitu julukan bagi mereka para pemegang kemuliaan ilmu agama. Kedudukan mereka tinggi di hadapan Sang Pencipta. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu.”

Para pengajar agama, mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, mereka semua itu termasuk bagian orang-orang yang disampaikan Rasul dalam hadisnya, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR Ahmad)

Jika seorang murid mempunyai akhlak yang kurang baik kepada gurunya, ia akan mendapatkan dampak negatif terhadapnya. Hilangnya keberkahan ilmu, misalnya.

Maka, hendaklah seorang murid mengetahui, tunduknya mereka kepada guru adalah kebanggaan, sedangkan rendah dirinya adalah kemuliaan.

Imam Syafi’i berkata, “Gagalnya seorang murid mendapatkan ilmu, [itu] karena memusuhi penghuninya.”

Bukan hanya hilangnya keberkahan ilmu, bahkan hingga tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya jikalau seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya.

Adab yang Harus Diketahui

Duduk dengan tenang di hadapan guru, tidak bersandar atau membentangkan kaki juga, merupakan bagian dari adab di hadapan guru.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik, dengan sangat pelan karena memuliakannya. Agar beliau tidak mendengar suara jatuhnya lembaran itu.” (Al-Manhaj As-Sawiy)

Seperti halnya juga para Sahabat ketika duduk bersama Rasulullah Saw., tidak ada seorang pun yang berbicara apalagi bercanda yang tidak berguna. Hanya ingin mendapatkan berkah dari Rasulullah Saw..

Namun saat ini, kita sering mendapati sikap murid yang tak acuh, tak peduli di saat gurunya sedang menyampaikan pengajaran. Malah tidak sedikit yang menceritakan keburukan guru-gurunya. Astaghfirullah. Padahal, kita diminta untuk terus bersabar dengan sikap keras dan akhlak buruk seorang guru.

Oleh sebab itu, banyaklah bersyukur atas ilmu dan arahan yang telah didapatkan. Berharap dengan kesabaran yang kita miliki bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk membalas jasa-jasa guru kita ialah mendoakan yang terbaik untuknya. Karena kebaikan hanya bisa dibalas dengan kebaikan pula.

Ulama Salaf mengatakan. “Tidaklah saya mengerjakan salat kecuali saya mendoakan guru-guruku.” Bahkan ketika guru-guru kita telah tiada, tetaplah mendoakan mereka. Hari ini kita masih terseok-seok mencari ilmu, sementara Allah juga mengangkat ilmu dari kita dengan kematian ulama-ulama kita.

Patutlah kita bersedih dan berupaya untuk terus mengejar ilmu dari pemiliknya. Tak lupa memahami adab-adab yang benar terhadap guru agar ilmu yang kita dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat baik untuk agama dan kehidupan.

Semoga Allah mencurahkan rahmat dan ampunan-Nya untuk semua guru kita yang telah membantu kita untuk semakin dekat dengan Rabb kita. Aamiin. [MNews/Rnd]

Tinggalkan Balasan