Gali Lubang, Tutup Lubang. Banyak Galinya Minim “Nutupnya”

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

Gali-gali-gali-gali-gali lobang
Gali-gali-gali-gali-gali lobang
Lobang digali menggali lobang
Untuk menutup lobang

Tertutup sudah lobang yang lama
Lobang baru terbuka
Gali lobang tutup lobang
Pinjam uang bayar hutang

Gali lobang tutup lobang
Pinjam uang bayar hutang

(Rhoma Irama)

MuslimahNews.com, OPINI — Lagu gali lubang tutup lubang ciptaan Bang Rhoma ini pastinya tak asing di telinga kita. Lagu yang menggambarkan kondisi riil masyarakat, baik konglomerat maupun “konglomelarat” mengikuti kebiasaan ini. Bukan karena terpaksa, tapi karena tuntutan keinginan dan kebutuhan kepentingan.

Sayangnya sebagian besar tradisi ini berhubungan dengan riba. Di mana riba merupakan aktivitas yang dilarang agama.

Belum lama ini, Bank Indonesia (BI) melakukan survei kepada badan usaha-badan usaha. Hasil survei tersebut menjelaskan korporasi membutuhkan biaya tambahan untuk mendukung aktivitas operasional bisnis kuartal I 2021. Korporasi yang membutuhkan tambahan dana berada pada sektor pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.

Dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) diketahui, korporasi membutuhkan biaya tambahan. Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono mengungkap pembiayaan ini akan diambil dari kredit bank. Sebagian dari dana perusahaan (cnnindonesia.com, 18/1/21).

Menggali Sebab Musabab

Keterpurukan korporasi ini tak lain merupakan imbas dari pandemi. Pandemi berhasil memukul setiap sektor terutama usaha, tak terkecuali korporasi. Padahal, pemerintah sudah memilih tak melakukan karantina total dengan alasan menjaga keseimbangan ekonomi. Nyatanya, meskipun telah mengupayakannya, masalah ini tetap terjadi.

Meski pemerintah sudah memilih tak melakukan karantina total dengan alasan menjaga keseimbangan ekonomi. Nyatanya, meskipun telah mengupayakannya, masalah ini tetap terjadi.

Pandemi mau tak mau juga berakibat pada minimnya mobilitas masyarakat. Sehingga masyarakat sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini membuat masyarakat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Imbasnya tentu terjadi pada pengusaha atau korporasi. Khususnya korporasi yang bergerak di bidang industri dan perdagangan.

Dengan semakin lesunya kondisi pasar, pendapatan industri tak sebesar pengeluaran. Hal ini memaksa industri melakukan penghematan anggaran. Oleh sebab itu, kesulitan ini berdampak pada PHK para pekerja. Seperti daur ulang kehidupan. Masyarakat yang ter-PHK akan berpengaruh pada berkurangnya tingkat konsumsi masyarakat.

Namun, seiring dengan kebijakan pemerintah yang memaksa untuk menggerakkan roda ekonomi, meski di situasi pandemi, berakibat banyak korporasi kesulitan untuk memulai kembali menggerakkan roda bisnisnya. Pemerintah melihat tidak ada cara lain meningkatkan pendapatan nasional selain dengan menggerakkan ekonomi para korporasi.

Mencari Penyelesaian Setengah Hati

Selama ini, sudah menjadi kebiasaan umum jika kurang modal dalam usaha, jalan keluarnya adalah berutang. Sebagaimana lagu Bang Rhoma di atas. Gali lubang tutup lubang. Padahal negeri ini sudah terlalu banyak utangnya.

Jika kredit bank jadi dilakukan, sedang uang yang tersimpan di bank minim, membuatnya mencari pinjaman dana untuk memutar roda ekonomi dan memberikan kredit pada korporasi.

Dengan bertambahnya utang bank selaku BUMN, maka utang luar negeri menjadi bertambah. Hal ini dikarenakan utang negara terdiri dari utang BUMN dan utang Swasta. Kalau hal ini sampai terjadi, ujung-ujungnya rakyat menjadi korban. Mengapa demikian? Karena prinsip ekonomi kapitalisme yang jantungnya adalah riba.

Dengan kata lain, saat utang luar negeri (ULN) naik, tentu akan berdampak pada naiknya bunga yang harus dibayarkan. Tiap tahun dapat dipastikan bunga utang akan naik. Bahkan saat ini nilainya sudah mencapai ratusan triliunan.

Pada tahun 2019 saja mencapai Rp275,5 triliun. Bagaimana dengan tahun ini? Pastinya akan bertambah. Mengingat pada 2020 di akhir triwulan III tercatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai 408,5 miliar dolar AS atau atau sekitar Rp5.768 triliun (Kurs 1 dolar AS=Rp14.126) (pikiranrakyat.com, 16/11/20).

Lantas bagaimana melunasinya? Dari mana lagi kalau bukan dari rakyat. Dengan menaikkan beban pajak dan dilegonya sejumlah aset penting negara, termasuk SDA yang ada. Jika cara itu belum menutup utang, prinsip gali lubang tutup lubang pun digunakan.

Kalau rumah tangga biasa sih terlihat wajar. Bagaimana kalau rumah tangga negara? Jumlahnya bukan ribuan, tapi triliunan!

Khilafah Menyelesaikan Masalah

Penyelesaian masalah ini tentu berbeda dengan sistem Islam. Islam dengan sistem pemerintahannya Khilafah akan menyelesaikan sampai akarnya. Hal-hal yang dilakukan Khilafah adalah,

Pertama, Islam mewajibkan Khalifah sebagai kepala negara untuk bekerja mengurus rakyat, memenuhi apa yang menjadi hak mereka dan haram menyusahkannya.

Kepengurusan ini meliputi segala aspek. Termasuk di bidang ekonomi, negara wajib menyediakan apa yang dibutuhkan rakyat, khususnya pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Negara juga memfasilitasi agar rakyat mudah mendapatkannya. Untuk itu lapangan pekerjaan harus disediakan, bahkan permodalan dan subsidi jika ada kesulitan dalam usaha juga difasilitasi. Tentunya dengan pinjaman nonriba.

“Tidaklah seorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, mengenai sumber pendanaan. Bisa diambil dari harta milik negara, kepemilikan umum, zakat khusus bagi fakir miskin dan mekanisme lainnya.

Pendapatan itu semua akan menghasilkan sumber pendanaan ribuan triliun. Kas negara akan cukup membiayai beragam kebutuhan rakyat. Sehingga negara tidak perlu utang, apalagi ULN.

Islam sendiri telah mengharamkan ULN, bukan saja karena berbasis riba, namun ULN menjadi salah satu jebakan negara penjajah kepada wilayah jajahannya. Padahal haram bagi mukmin untuk menggantungkan nasibnya pada orang kafir.

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 141). 

Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

One thought on “Gali Lubang, Tutup Lubang. Banyak Galinya Minim “Nutupnya”

Tinggalkan Balasan