[News] Mengakhiri Tekanan Hebat pada Sistem Kesehatan

MuslimahNews.com, NASIONAL — “Sistem kesehatan kita tertekan hebat,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Reisa Brotoasmoro.

Kasus kematian akibat Covid-19 yang sudah lebih dari 26.000 kasus dengan rata-rata penambahan kasus positif harian lebih dari 10.000 kasus, menyebabkan kemampuan Indonesia dalam menyembuhkan pasien Covid-19 terganggu akibat beban penambahan pasien yang tinggi setiap harinya.

Ia menyatakan semua harus bertindak drastis untuk memutus rantai penularan Covid-19. Ada tekanan yang sangat besar pada rumah sakit (RS) dan tenaga kesehatan. Sebab, petugas kesehatan telah bekerja selama setahun penuh menangani membeludaknya pasien Covid-19.

Pada saat yang sama, mereka harus memastikan pasien lain tetap aman dan mendapat perawatan yang maksimal sama seperti sebelum pandemi. (kompas.com, 18/1/2021).

Mencermati kondisi memprihatinkan ini, MNews mewawancarai pengamat kebijakan publik, DrRini Syafri untuk mendalami penyebab hal ini dan cara mengakhirinya. Berikut petikannya.

1) Bagaimana tanggapan Ustazah terhadap pernyataan Jubir Satgas Covid-19 tersebut?

Inilah bukti nyata kelalaian rezim berkuasa dan didukung cacat permanen sistem politik demokrasi yang diterapkannya. Wabah difasilitasi masuk ke negeri ini melalui kasus impor dan meluas ke seluruh penjuru negeri melalui kasus impor lokal.

Peringatan demi peringatan telah disampaikan para ahli kesehatan, namun penguncian serempak sebagai upaya pokok dan terbukti secara ilmiah efektif untuk pemberantasan wabah serta menjadi tuntutan syariat tetap saja tidak dilakukan.

Juga tidak ada upaya serius memperkuat sistem kesehatan kapitalisme yang nyata-nyata rapuh. Mirisnya lagi, pemerintah tidak sekali dua kali menyalahkan masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan.

Padahal, bila ditelisik, itu semua berpangkal pada kelalaian negara sendiri, baik kelalaian mengedukasi maupun dalam menjamin pemenuhan hajat hidup mereka. Hingga membiarkan pandemi berlarut-larut yang berakibat mental, sosial, ekonomi dan politik yang tidak ringan pada ratusan juta jiwa.

Di sisi lain pemerintah fokus pada program vaksinasi yang bukan merupakan satu-satunya cara untuk mencegah penularan.

2) Adakah jalan keluar dari persoalan ini, Ustazah?

Jika benar-benar tulus berbuat untuk kebaikan bangsa ini, khususnya untuk mengakhiri pandemi termasuk krisis hebat pelayanan kesehatan, harus ada koreksi total terhadap mindset dan sikap rezim hari ini.

3) Bagaimana caranya?

Caranya meninggalkan sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme, berikut keseluruhan sistem kehidupan sekularisme pendukungnya.

Keberadaan sistem kehidupan batil inilah yang menjadi penghalang diterapkannya kebijakan pemberantasan pandemi. Termasuk lockdown syar’i yang dilakukan secara serempak di seluruh penjuru negeri ini hingga ke seluruh dunia.

Tanpa dihambat otonomi daerah dan nasionalisme, di samping mewujudkan segera sistem kesehatan Islam yang tangguh.

4) Berarti perlu penerapan sistem Islam ya Ustazah?

Ya, hanya dengan kehadiran penguasa sebagai pelaksana syariat kafah, yaitu Khilafah, pandemi dan krisis sistem kesehatan yang melanda negeri akan berakhir.

Lebih dari itu, kembali kepada pangkuan syariat kafah dan Khilafah, merupakan kewajiban yang diamanahkan kepada kita semua. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan