Kapitalisme, Induk Segala Bencana

Oleh: Chusnatul Jannah

MuslimahNews.com, OPINI — “Bumi akan selalu mencukupi kebutuhan semua manusia, namun tidak untuk memenuhi keserakahan satu manusia.” Kalimat bijak itu sering kali kita dengar. Namun, kalimat ini juga sering dilupakan. Keserakahan manusia terhadap alam sangat kentara di sistem kapitalisme.

Akibat keserakahan itu, masyarakat menerima dampaknya. Banjir menerjang 7 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Di antara kabupaten yang terendam adalah Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong.

Tercatat sebanyak 27.111 rumah terendam banjir dan 112.709 warga mengungsi. Curah hujan tinggi menjadi salah satu sebab banjir besar di Kalimantan Selatan. Namun, sebab utama banjir yang merendam Kalsel setinggi 3-4 meter bukanlah banjir biasa.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono menyebutnya darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Kisworo mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Kalsel mengalami degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi tersebut terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara.

Sebagian lubang berstatus aktif, sebagian lain telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Lebih lanjut, menurut Kisworo, dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel, hampir 50 persen di antaranya sudah dikuasai oleh perusahaan tambang dan kelapa sawit. (Cnbcindonesia.com, 16/1/2021)

Save Meratus

Tagar #SaveMeratus sempat mengguncang dunia maya pada tahun 2018. Kala itu, Surat izin Penyesuaian Tahap Kegiatan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) bagi PT Mantimin Coal Mining (MCM), dikeluarkan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi  isu terpanas.

Bahkan para aktivis Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) bersama warga mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas gugatannya kepada SK Menteri ESDM. Kasasi itu dikabulkan dan meratus bisa bernapas lega.

Menyelamatkan satu pegunungan harus menempuh jalan terjal dan usaha maksimal. Betapa susahnya menjaga alam di sistem serba kapitalistik.

Upaya itu tidaklah berlebihan mengingat pentingnya pegunungan Meratus bagi Kalimantan Selatan. Ia ibarat atap bagi masyarakat Kalsel. Saat atap itu dirusak lalu bocor, maka terjadilah bencana besar yang bisa menyapu seluruh wilayah Kalsel seperti banjir kali ini.

Ekosistem Meratus merupakan kawasan pegunungan yang membelah provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua, membentang sepanjang ± 600 km² dari arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan Timur.

Kedudukan kawasan hutan yang menjadi hulu sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadikan kawasan ini sangat penting bagi Provinsi Kalimantan Selatan sebagai kawasan resapan air. Di sisi lain kondisi lereng lahan yang cukup terjal dan jenis tanah yang peka erosi menjadikannya memiliki nilai kerentanan (fragility) yang tinggi.

Dengan kata lain, melindungi Meratus sama halnya menjaga Kalimantan Selatan dari bahaya bencana. Merusak Meratus berarti telah memorakporandakan tatanan kehidupan Kalimantan Selatan.  Bukan sekali dua kali Meratus terancam karena konsesi lahan tambang. Sejak zaman orde Baru, hutan Kalimantan sudah banyak dijarah.

Kepala Pusat Pemanfaatan Pengindraan Jauh di LAPAN, Rokhis Khomarudin, menjelaskan antara tahun 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare. Sebaliknya, kata Rokhis, area perkebunan meluas cukup signifikan 219.000 hektare. (BBCIndonesia, 18/1/2021)

Saat hujan datang, itulah awal bencana melanda Kalimantan. Hutan yang disebut sebagai paru-paru dunia itu lenyap bersama kerakusan kapitalis dan penguasa sebagai pengambil kebijakan pro korporasi.

Akibat Kapitalisme

Habis manis sepah dibuang. Setelah puas mengeruk kekayaan alam, rakyat merana karena ulah mereka. Daya rusak kapitalisme terhadap alam, manusia, dan kehidupan ini sudah sangat tinggi.

Jika banjir Kalsel karena intensitas hujan tinggi, mengapa banji itu menenggelamkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan? Ini berarti bukan salah hujannya, tapi kesalahan ulah manusia yang mengeksploitasi alam secara ugal-ugalan.

Dari dulu Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan hujan. Andai pegunungan Meratus tak dirusak, lalu hujan melanda Kalsel, mungkin banjir tidak akan separah ini. Sebab, hutan sebagai daerah resapan air berfungsi.

Bencana alam yang melanda bukan sekadar soalan musibah atau takdir, tapi ada andil manusia di dalamnya. Di antaranya adalah kebijakan yang mengabaikan perlindungan terhadap alam. Penguasa kapitalis bersanding dengan para korporat demi memenuhi kepentingan mereka.

Kapitalisme memang memiliki sifat bawaan merusak. Mau diperbaiki pun akan tetap membawa kerusakan dan kesengsaraan bagi alam, manusia, dan kehidupan.

Apa bagusnya kapitalisme? Penerapannya menghasilkan pemimpin licik dan munafik. Kebijakannya hanya menguntungkan korporasi. Pelaksanaannya hanya bisa menyusahkan rakyat.

Lalu bagaimana dengan sistem Islam dalam mengelola lingkungan, menyerasikan pembangunan dengan karakter alam, dan tanggung jawab negara melindungi rakyat dari bencana?

Khilafah Berkah untuk Semua

Islam datang untuk memberi rahmat bagi alam. Rahmat itu tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunah. Islam mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Solusi yang ditawarkan meliputi hulu hingga hilir, integral, dan komprehensif. Menempatkan manusia sebagai sentral keseimbangan alam.

Dalam mengelola lingkungan, Islam tidak akan mengabaikan pelestariannya meski tidak menutup kemungkinan kekayaan alam dieksplorasi untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Di antara pengaturan Islam dalam menjaga lingkungan dari aspek pemeliharaan hingga pengelolaannya ialah:

Pertama, Islam mengatur kepemilikan harta. Yaitu kepemilikan individu, umum, dan negara. Dengan klasifikasi kepemilikan harta, negara tidak akan serampangan menetapkan kebijakan sesuai kepentingannya. Hutan dan keanekaragaman hayati misalnya, tidak boleh dikuasakan pada individu atau swasta. Sebab hutan merupakan harta milik umum. Negara mengelolanya hanya untuk memenuhi hajat hidup masyarakat.

Eksplorasi kekayaan alam juga tidak dilakukan sembarangan. Meski milik umum, masyarakat boleh mengambil manfaat sebatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk dieksploitasi sekehendak hati.

Kedua, Islam mengajarkan mencintai alam dan lingkungan. Abu Bakar Radhiyallahu ’anhu berpesan ketika mengirim pasukan ke Syam, ” … dan janganlah kalian menenggelamkan pohon kurma atau membakarnya. Janganlah kalian memotong binatang ternak atau menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian meruntuhkan tempat ibadah. Janganlah kalian membunuh anak-anak, orang tua, dan wanita.” (HR Ahmad)

Hadis ini mengindikasikan jika dalam kondisi perang saja kita dilarang merusak tanaman, apalagi dalam keadaan damai. Hal ini menunjukkan Islam sangat memperhatikan alam dan lingkungannya. Negara akan mendisiplinkan masyarakat agar turut serta menjaga lingkungan, yaitu membiasakan hidup bersih dan suci.

Ketiga, Islam mengenal konsep perlindungan lingkungan hidup. Hima berasal dari bahasa Arab yang berarti perlindungan. Secara umum hima berarti kawasan tertentu yang di dalamnya ada sejumlah larangan untuk berburu dan mengeksploitasi tanaman.

Nabi Saw. pernah menetapkan sejumlah wilayah di sekitar Madinah sebagai hima. Salah satunya adalah Hima an-Naqi dekat Madinah yang di dalamnya ada larangan berburu dalam radius 4 mil dan larangan merusak tanaman dalam radius 12 mil.

Di masa khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menetapkan kawasan lain di Madinah sebagai Hima Ar-Rabadhah. Kawasan ini lebih mirip tanaman industri karena yang ditanam adalah palem dan beberapa pohon yang dikonsumsi. Mereka yang berhak memanfaatkan hima adalah orang-orang yang membutuhkan.

Pegunungan Meratus bisa diproteksi sebagai hima di mana tidak sembarang orang boleh menjamahnya. Sebab, ia menjadi sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat setempat.

Keempat, Islam mendorong aktivasi tanah mati. Dengan pemberdayaan tanah mati, masyarakat bisa mengelolanya dengan menanaminya. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu miliknya dan orang yang memagari tidak memiliki hak setelah tiga tahun.” (HR Abu Yusuf)

Kelima, negara akan melakukan penghijauan dan reboisasi. Dengan begitu, fungsi hutan atau pohon tidak akan hilang.

Keenam, negara akan memetakan, mengkaji, dan menyesuaikan pembangunan infrastruktur dengan topografi dan karakter alam di wilayah tersebut. Negara akan memetakan wilayah mana yang pas untuk eksplorasi tambang, pertanian, dan perkebunan tanpa mengabaikan AMDAL di dalamnya. Sebab, kekayaan alam ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bukan diperjualbelikan sebagaimana pandangan kapitalis.

Sejatinya, Allah telah memberi rahmat bagi negeri ini berupa kekayaan alam yang tak terhitung. Hanya saja, keberkahan itu terasa jauh tatkala aturan yang diterapkan bukan  aturan Allah Ta’ala.

Tidakkah kita menginginkan rahmat dan berkah itu berpadu dalam negeri ini? Allah berfirman dalam surah Al A’raf ayat 96,

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Bencana datang bersusulan seiring kezaliman yang kian menguat. Bukankah ini tanda peringatan keras untuk menghentikan segala kemaksiatan dan kezaliman akibat sistem sekuler kapitalis ini?

Sudah saatnya umat ini berbenah dengan mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya syariat kafah dalam Khilafah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan