[Nafsiyah] Menjaga Diri dari Tajamnya Lisan

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Memang lidah tak bertulang, hingga seseorang mudah sekali tergelincir lisannya, berkata yang tidak bermanfaat juga tidak membawa kebaikan.

Padahal, seorang muslim harus memperhatikan apa yang akan diucapkannya, apakah membawa manfaat, kebaikan, atau tidak?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

Berbicara yang baik berarti membicarakan kebenaran dan membawa manfaat. Misalnya berdakwah pada Islam, menyeru manusia untuk memahami syariat Allah SWT.

Sementara, perkataan yang tidak membawa manfaat malah dapat menjatuhkan diri pada perbuatan dosa, gibah misalnya. Atau juga seruan kepada selain syariat Allah SWT.

Nabi juga pernah ditanya seorang Arab Badui, ia berkata, “Ya Rasul, beri aku sebuah wasiat, tapi jangan panjang-panjang.” Nabi saw. pun menjawab, “Janganlah kami berbicara dengan satu perkataan yang membuat kamu nantinya harus meminta maaf. Jika kamu berdiri salat, lakukanlah seolah-olah itu salat terakhirmu. Dan jangan berambisi atas apa yang ada di tangan orang lain.”

Firman Allah SWT, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 16-18)

Maka berhati-hatilah berkata, karena semua perkataan yang dikeluarkan manusia akan dicatat malaikat. Keluhan dan aduan pun dicatat. Inilah yang menjadi pertanggungjawaban dari perkataan yang disampaikan.

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Siapakah orang muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “ Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan hadis tersebut bersifat umum dan bisa dinisbahkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang, dan juga yang akan terjadi saat mendatang.

Menjadi pengingat bagi kita semua, barang siapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapan maupun perbuatannya, dia akan menuai kemuliaan.

Sebaliknya, barang siapa yang menanam sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatannya, kelak akan menuai penyesalan.

Maka dari itu, upayakan kita menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya, karena hal itu merupakan pangkal segala kebaikan dan kemuliaan. Wallahu a’lam. [MNews/Rnd-Gz]

Tinggalkan Balasan