[Editorial] Dari Amerika Kita “Belajar”

MuslimahNews.com, EDITORIAL — “Di tengah-tengah ancaman kekerasan di Washington DC dan di seluruh negara, suasana nasional kelam. Warga Amerika sadar akan kekacauan yang mereka hadapi dan berharap pemerintah bisa mengatasinya.”

Demikian kanal berita VOA menuliskan situasi Amerika per 17 Januari 2021. Diketahui, Joe Biden akan dilantik beberapa hari lagi (20/1/2021), namun warga Amerika Serikat (AS) khawatir dengan ancaman kekerasan yang lebih besar. Terutama dari pendukung Trump yang tak mau menerima kekalahan.


SEBAGAIMANA ramai diberitakan, 6/1/2021 lalu seakan menandai kematian demokrasi di Amerika. Sejumlah perusuh pro Trump dengan brutal menyerbu gedung Capitol Hill untuk memprotes Pemilu yang memenangkan Joe Biden. Lima orang pun tewas sia-sia.

Buntut aksi memalukan tersebut, DPR memakzulkan Trump pada Rabu (13/1/2021). Tuduhannya, Trump menghasut pemberontakan. Ia pun menjadi presiden AS pertama yang dua kali dimakzulkan, bahkan senat mendakwanya sebagai seorang kriminal.

Siapa pun bisa melihat, kepemimpinan Trump memang penuh dengan drama. Era kepemimpinannya dipandang sebagai sejarah paling kelam bagi perjalanan demokrasi Amerika, Bahkan bagi demokrasi di dunia.

Namun, bukan berarti terpilihnya Joe Biden serta-merta akan membawa kebaikan bagi rakyat Amerika. Pasalnya, meski berlatar partai Demokrat yang katanya pro rakyat, Biden cenderung sosialis. Ia diketahui akan menjalankan politik progresif yang diprediksi akan mengundang bencana ekonomi, politik, dan sosial yang lebih besar.

Pada aspek hubungan luar negeri, Biden pun dipastikan akan melanjutkan kebijakan Obama yang diabaikan oleh Trump, yakni mengikat atau menjerat dunia luar dalam berbagai perjanjian atau konvensi internasional semata demi menjamin kepentingan nasional Amerika.

Alhasil, kebijakan soft power ala Joe Biden yang demokrat tak kalah bahayanya dengan politik hard power ala Trump yang republikan. Keduanya sama-sama mengancam kedaulatan negara lain, termasuk Indonesia.


KITA lihat saja. Selama ini, Amerika—siapa pun pemimpinnya—memang selalu diklaim sebagai the champion of democracy (kampiun demokrasi). Namun pada praktiknya, demokrasi justru mati di tangan kampiunnya sendiri.

Sebagai negara adidaya dunia, Amerika kerap menganggap dirinya sebagai the guardian of democracy (sang penjaga demokrasi). Tak heran Amerika gemar mendikte dan mengintervensi urusan negara lain yang dipandang tak demokratis.

AS pun tak jarang terlibat dalam aksi-aksi dukungan menumbangkan rezim otoriter atas nama demokratisasi. Atau bahkan terlibat menginisiasi sanksi internasional terhadap negara yang dipandang mencederai demokrasi.

Namun di saat yang sama, dunia sebetulnya juga bisa melihat, AS sang adidaya itu sejatinya tak lebih dari negara rakus bermental penjajah. Lembaga-lembaga internasional ia setir untuk memuluskan target-target politik dan ekonomi globalnya. Ia benar-benar berhasil menata dunia sesuai dengan rancangannya.

Adapun nilai-nilai demokrasi yang diagung-agungkan sebagai etos bangsa Amerika dan disebut Thomas Jefferson telah terefleksi dalam life, freedom, and pursuit of happiness, ia gunakan sebagai kedok untuk menutupi wajah buruknya. Karena dalam kenyataannya, jargon-jargon ini selalu berstandar ganda dan ilusi belaka.

Bahkan tak ada yang bisa memungkiri, demokrasi yang terus dipropagandakan Amerika ini telah menjadi sumber petaka bagi berbagai bangsa di dunia. Dunia, mulai timur hingga ke barat, utara maupun selatan, porak-poranda di bawah slogan demokratisasi ala Amerika.

Karenanya, wajar jika muncul kesimpulan bahwa yang terjadi di Amerika dan sepak terjangnya di dunia mencerminkan utopisnya demokrasi dalam menciptakan kedamaian dan kesejahteraan yang sesungguhnya. Bahkan, demokrasi yang diterapkan Amerika menjadi alat legitimasi bagi penjajahan.


SECARA konsep, demokrasi memiliki nilai-nilai dasar yang sering diklaim sebagai nilai-nilai universal dan penuh kebaikan. Seperti kedaulatan rakyat, kekuasaan mayoritas, pembatasan pemerintah secara konstitusional, nilai-nilai toleransi, kerja sama dan mufakat, jaminan hak-hak asasi manusia dan hak-hak minoritas, pemilihan yang bebas dan jujur, persamaan di depan hukum, proses hukum yang wajar, pluralisme sosial, ekonomi dan politik, dan lain-lain. Namun benarkah nilai-nilai ini memberi dampak yang baik bagi kehidupan?

Ditilik dari sisi asasnya, demokrasi tegak di atas paham yang rapuh dan rusak. Ia lahir dari paham kebebasan dan sekularisme yang mengagungkan akal sebagai penentu kebenaran, kebaikan, dan keburukan. Padahal realitasnya, akal manusia memiliki keterbatasan serta meniscayakan perbedaan sudut pandang.

Ddari landasan ini, lahirlah praktik politik demokrasi yang sarat kepentingan. Kedaulatan rakyat akhirnya bermakna kedaulatan di tangan uang. Kekuasaan mayoritas faktanya menjadi tirani minoritas.

Trias politika malah berarti bagi-bagi kue kekuasaan. Nilai-nilai toleransi faktanya tak ada tempat untuk kalangan oposan, lebih-lebih bagi Islam dan kaum muslimin.

Begitu pun dengan kerja sama dan mufakat. Keduanya lebih banyak melahirkan kecurangan berjemaah. Jaminan atas HAM dan kaum minoritas justru membuka ruang kerusakan dan penistaan keyakinan.

Pemilihan yang jurdil hanyalah sebatas slogan. Persamaan di hadapan hukum juga kalah oleh fakta ketidakadilan yang kerap dipertontonkan. Sementara pluralisme sosial, ekonomi, dan politik justru membuka ruang penjajahan.

Maka, di sebelah mana tersisa kebaikan?


MUNGKIN ada yang berkata, buruknya demokrasi Amerika tak bisa jadi alasan menolak demokrasi secara keseluruhan karena yang terjadi di sana hanyalah contoh fakta penyimpangan. Sementara, di dunia ini tak ada lagi sistem politik yang bisa menggantikan. Benarkah demikian?

Selama ini, meski disebut sebagai kampiun dan penjaga demokrasi, Amerika memang tak pernah masuk dalam peringkat tertinggi negara yang paling demokratis.

Kekuatan modal begitu dominan. Kezaliman dan gap sosial demikian kentara. Konflik horizontal berbasis rasial juga bisa pecah kapan saja.

Bahkan penerapan demokrasi Amerika, terus menuai kritik. Termasuk mendapat kritik tajam sebagai jalan kematian sebuah peradaban. Sebagaimana ditulis Stevent Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya yang viral, How Democracy’s Die.

Lantas, jika bukan Amerika, negara mana yang bisa menjadi contoh penerapan demokrasi yang paling ideal?

Adalah The Economist, sebuah media ternama AS yang diketahui rutin mengeluarkan rilis tahunan tentang Indeks Demokrasi sebuah negara. Penilaian indeks demokrasi itu didasarkan pada lima variabel meliputi; (1) proses elektoral dan pluralisme, (2) pemfungsian pemerintahan, (3) partisipasi politik, (4) kultur politik, dan (5) kebebasan sipil.

Tahun 2019 misalnya, di rilis yang dikeluarkan pada Januari 2020 lalu menyebutkan lima negara paling demokratis meliputi Norwegia, Islandia, Swedia, Selandia Baru, dan Finlandia. Adapun Amerika ada di peringkat ke 25 dari 165 negara yang dinilai. Indonesia? Jangan tanya.

Tapi mari kita lihat, apakah penilaian itu membuat negara-negara yang disebut paling demokratis menjadi negara yang benar-benar ideal sebagaimana parameternya?

Siapa pun tak boleh lupa, negara-negara yang juga masuk dalam negara paling bahagia itu ternyata bukanlah negara tak bermasalah. Penerapan sistem ekonomi berbasis pajak ternyata menimbulkan problem tersendiri bagi masyarakatnya.

Begitu pun, negara-negara itu ternyata tak sepenuhnya ramah terhadap Islam dan umat Islam. Sekalipun mengakui kebebasan beragama, ada kebijakan-kebijakan umum yang justru bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Misalnya, adanya larangan puasa Ramadan dan sunat bagi anak-anak sekolah di Finlandia. Praktik rasisme pun kerap menimpa umat Islam, seperti terjadi di Norwegia, Swedia, dan Selandia Baru.


SEMESTINYA apa yang terjadi di Amerika dan dunia Barat lainnya cukup untuk menjadi pelajaran bahwa sistem demokrasi tak layak diadopsi umat Islam. Bukan sekadar karena praktiknya yang jauh dari kebaikan, tapi karena asasnya yang bertentangan dengan Islam.

Umat Islam pun semestinya berbangga karena sudah diberi sistem politik terbaik warisan Rasulullah Saw. yang hakikatnya merupakan wahyu Allah, yakni sistem politik Islam alias Khilafah Islamiyah.

Sistem ini tegak di atas landasan berpikir yang sahih berupa keimanan akan adanya Allah Sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Dari keyakinan yang sahih inilah lahir berbagai aturan kehidupan yang sempurna dan cocok bagi segala zaman.

Sejarah membuktikan, penerapan sistem ini telah mampu menghantarkan umat Islam pada ketinggian peradaban. Hingga belasan abad, umat Islam tampil sebagai umat terbaik di antara umat-umat yang lainnya.

Sayangnya, di abad-abad terakhir ini, umat lemah dalam memegang teguh sumber-sumber dasar (tsaqafah) Islam. Ini sejalan dengan munculnya serangan pemikiran, politik, dan budaya yang dilancarkan musuh-musuhnya.

Sejak itu, umat Islam jatuh pada kehinaan dan keberpecahbelahan. Mereka hanya bisa menjadi kelompok pengekor yang rela dirampok dan dijajah. Sama sekali tak punya haybah (wibawa).

Mereka benar-benar telah kehilangan kunci kebangkitannya. Yakni ideologi Islam sebagai asas kehidupannya, beserta Khilafah sebagai sistem politiknya.

Mereka bahkan telah menjadi penjaga tegaknya sistem kufur demokrasi yang dijajakan pihak musuh dengan jalan menerapkan dan melanggengkannya. Seraya berpikir bahwa sistem itu bersesuaian dengan Islam dan selayaknya diadopsi oleh umat Islam. Padahal kenyataannya, sistem itu telah menghinakannya dan menjauhkannya dari kehidupan yang penuh berkah.

Pertanyaannya, hingga kapan umat Islam rela hidup seperti demikian? Sementara sumber kebangkitan—yakni ideologi Islam—sudah ada dalam genggaman mereka. Dan situasi politik dunia hari ini pun sedang memberi ruang besar pada Islam dan umat Islam.

Allah SWT berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath: 28) [MNews/SNA]

4 thoughts on “[Editorial] Dari Amerika Kita “Belajar”

Tinggalkan Balasan