Perempuan dalam Jebakan Jaminan Kredit

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI — Kian hari, kaum perempuan kian dikukuhkan sebagai bumper ekonomi. Mereka didorong dan difasilitasi untuk berbondong-bondong terjun ke dunia bisnis dan ekonomi.

Seperti International Development Finance Corporation (DFC) yang menggelontorkan jaminan kredit sebesar US$35 juta untuk memobilisasi investasi US$100 juta bagi para pengusaha perempuan. (cnnindonesia.com, 14/1/2021)

Salah satu wujudnya adalah pemberian jaminan kredit kepada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang daur ulang botol plastik. DFC bertujuan untuk memobilisasi modal dan memberi insentif kepada sektor swasta dalam rangka pemberdayaan ekonomi perempuan.

Program ini dinamakan W-GDP 2X Asia, yang merupakan komitmen regional dari 2X Women’s Initiative DFC. Sementara DFC sendiri merupakan badan baru pemerintah Amerika Serikat yang mengkonsolidasikan dan memodernisasi Overseas Private Investment Corporation (OPIC) dan Development Credit Authority (DCA) di bawah Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).

Perempuan Dimuliakan, bukan Dieksploitasi

Apa yang dilakukan DFC seolah permen yang membius para perempuan untuk kian jauh terjun dalam bisnis yang tampak menguntungkan. Namun, sejatinya, jaminan kredit itu adalah jebakan agar perempuan secara sukarela mau menjadi sekrup dalam industri global dan menghasilkan dolar bagi kapitalisme.

Yang lebih menyakitkan, sumbangsih perempuan dalam ekonomi tersebut adalah untuk menutupi kegagalan kapitalisme global dalam mewujudkan kesejahteraan.

Berbagai kekayaan alam yang sejatinya milik rakyat, diobral oleh rezim pro kapitalisme secara murah pada perusahaan multi nasional asing. Ketika rakyat kelaparan, kaum perempuannya disuruh rezim untuk bekerja dengan iming-iming “permen” berupa bantuan kredit.

Namun, nyatanya, para perempuan harus banting tulang, bekerja keras dalam rangka menyambung hidup, demi dapur keluarga tetap ngebul.

Negara dan penguasa berlepas tangan, merasa cukup dengan memfasilitasi bantuan modal. Padahal cicilan dan bunganya harus ditanggung perempuan dalam jangka panjang.

Inilah nasib perempuan dalam sistem kapitalisme, dieksploitasi secara ekonomi hingga lelah fisik dan psikis. Tak aneh stres massal dialami kaum ibu. Selain anak dan keluarga menjadi korban, nyawa dan kehormatan ibu pun menjadi taruhan.

Sungguh jauh berbeda dengan sistem Islam. Khilafah Islamiyah tegak di atas akidah Islam dan mempraktikkan Al-Qur’an dan sunah Rasul secara kaffah. Syariat Islam menempatkan perempuan dalam posisi yang mulia, bukan dipaksa menanggung hidupnya dan keluarga.

Tugas utama kaum perempuan adalah menjadi ibu dan pengatur rumah, mereka tidak dibebani kewajiban mencari nafkah. Sementara kaum lelaki diperintahkan untuk menjamin kebutuhan pokok berupa sandang, pangan dan tempat tinggal bagi mereka secara makruf.

Allah SWT berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik.” (QS al-Baqarah [2]: 233)

Allah SWT juga berfirman,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

“Tempatkanlah mereka (para istri) di tempat kalian tinggal menurut kemampuan kalian. Janganlah kalian menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (TQS ath-Thalaq [65]: 6)

Jika seorang perempuan tidak memiliki wali, maka dia berhak dinafkahi oleh negara dan tidak wajib bekerja.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, semua janda dicukupi kebutuhannya oleh negara dari dana kas baitulmal. Thalhah ra. menuturkan bahwa setiap hari Amirul Mukminin mendatangi para janda, memberi mereka bantuan pada malam hari, dan menjaga mereka dari hal yang berbahaya (Republika, 20/4/2020).

Berkiprah bagi Peradaban

Kaum perempuan juga berperan sebagai ibu generasi. Mereka boleh bekerja dan berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat, selain peran domestiknya. Umat membutuhkan peran perempuan sebagai bidan, dokter, perawat, guru, hakim, polisi perempuan, dan profesi lainnya.

Jika seorang perempuan muslimah bekerja, dia tidak wajib membelanjakan uangnya untuk keluarganya. Dia bisa memiliki harta pribadi, sementara kewajiban menafkahi keluarga tetap ada pada suaminya.

Tidak ada yang punya hak untuk menyentuh harta yang dikumpulkan oleh perempuan tersebut. Jika perempuan itu berkenan, dia bisa membelanjakan sebagian hartanya untuk keluarga dan terhitung sebagai sedekah sunah, bukan sebuah kewajiban.

Demikianlah kemuliaan perempuan dalam sistem Islam. Tugas mewujudkan kesejahteraan rakyat menjadi tanggung jawab negara, bukan dibebankan pada perempuan. Karena hal tersebut merupakan amanah kepemimpinan.

Allah SWT berfirman,

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا Arab-

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS an Nisa’ : 58)

Berdasarkan Tafsir as-Sa’di karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ayat ini membahas tentang para pemimpin kaum muslimin terlebih dahulu dengan indikasi {ﻭﺇﺫا ﺣﻜﻤﺘﻢ ﺑﻴﻦ اﻟﻨﺎﺱ ﺃﻥ ﺗﺤﻜﻤﻮا ﺑﺎﻟﻌﺪﻝ} “Jikalau kalian menghukumkan di antara para manusia, maka hukumlah secara adil”, yaitu seimbang, kebalikan dari zalim. Dan makna adil adalah menyampaikan semua hak kepada yang berhak dari setiap rakyat.

Dan firman Allah {ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻧﻌﻤﺎ ﻳﻌﻈﻜﻢ ﺑﻪ}, yang dikehendaki Allah adalah memerintahkan umat Islam, pemimpin ataupun rakyatnya agar menunaikan amanah dan berhukum dengan adil dan itu adalah sesuatu yang baik.

Demikian pula karena tegaknya kehidupan yang mulia adalah dengan dibangkitkannya penunaian amanah dan berhukum dengan adil.

Demikianlah, kaum perempuan adalah amanah yang harus dilindungi dan dimuliakan oleh penguasa, bukan untuk dieksploitasi seperti dalam sistem sekarang. Hanya Khilafah yang mampu memuliakan perempuan. [MNews/Gz]

5 thoughts on “Perempuan dalam Jebakan Jaminan Kredit

Tinggalkan Balasan