Cermat Mendudukkan Hadis

Oleh: Ustaz Yuana Ryan Tresna

MuslimahNews.com,TSAQAFAH – Ada sebuah hadis yang menjadi indikasi bahwa berobat itu tidak wajib. Bahkan ada shahabiyah yang memilih sabar dalam sakitnya.

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Ada wanita berkulit hitam yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.”

Lalu wanita itu menjawab, “aku pilih bersabar.” Lalu ia melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut berbicara pada konteks individu. Hadis itu tidak dapat diterapkan pada saat kondisi pandemi atau penyakit menular mewabah di suatu wilayah. Negara wajib menjaga masyarakatnya, dan setiap individu harus mengikuti protokol kesehatan seperti yang Nabi ajarkan: tidak masuk ke daerah wabah dan keluar dari daerah wabah, pembatasan interaksi, dan pemisahan antara orang sakit dan orang sehat (hadisnya banyak).

Secara fikih, sesuai kewenangannya, negara dalam Islam bisa memaksa individu masyarakat untuk mengikuti pengobatan atau pencegahan (vaksin salah satunya) agar penyakit tidak menular, tidak membahayakan orang lain, dan wabah tidak berkepanjangan.

Negara wajib menyediakan obat dan pengobatan yang aman, efektif dan diutamakan yang halal. Semua diuji oleh ahli di bidangnya. Inilah pendapat islami dalam perkara ini.

Ada Otoritasnya

Pada selain perkara tasyri’, Rasulullah memberikan otoritas dalam menentukan mana yang terbaik kepada umatnya. Dari Anas  bin Malik ra.,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Artinya: Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda: “Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau berkata seperti itu, mereka lalu tidak mengawinkan kurma lagi, namun kurmanya justru menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa kurma itu bisa jadi jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu…” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim)

Takhrijnya:

أخرجه مسلم في “صحيحه” (7 / 95) برقم: (2363) وابن حبان في “صحيحه” (1 / 201) برقم: (22) وابن ماجه في “سننه” (3 / 527) برقم: (2471) وأحمد في “مسنده” (5 / 2651) برقم: (12739) ، (11 / 6014) برقم: (25560) وأبو يعلى في “مسنده” (6 / 198) برقم: (3480) ، (6 / 237) برقم: (3531) والبزار في “مسنده” (13 / 355) برقم: (6992) ، (18 / 99) برقم: (33 / 10)

Kedudukan hadis ini sahih karena memenuhi persyaratan sebagai hadis sahih, terlebih lagi terdapat dalam Kitab Shahih. Madar sanad hadis ini pada Hamad bin Salamah.

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Muslim sebagai hadis ketiga pada bab:

بَابُ وُجُوبِ امْتِثَالِ مَا قَالَهُ شَرْعًا دُونَ مَا ذَكَرَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَعَايِشِ الدُّنْيَا عَلَى سَبِيلِ الرَّأْيِ

Dua hadis di atasnya yang juga menceritakan masalah yang sama. Ini justru menegaskan kewajiban kita untuk mengambil dan menjalankan semua hukum syariat yang beliau bawa.

Adapun selain perkara tasyri’, Nabi menyerahkan kepada umatnya untuk menemukan cara terbaik dalam perkara selain hukum syariat, seperti terkait sanis dan keahlian tertentu.

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim: “Para ulama berkata, ‘Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam min ra’y[in] (berupa pendapat) artinya dalam perkara dunia dan ma’ayisy (mata pencaharian/penghidupan), bukan sebagai tasyri’. Adapun apa yang beliau sabdakan dengan pendapat beliau dan yang beliau pandang sebagai syariat itu wajib diamalkan. Penyerbukan bukanlah termasuk dari jenis ini, tetapi termasuk jenis yang disebutkan sebelumnya’.”

Jadi, dalam segala urusan dunia yang tidak berkaitan dengan hukum syariat (halal, haram, sah, fasad, dll.) hendaknya seseorang berusaha untuk mendalaminya sendiri dengan mencoba dan melakukan berbagai eksperimen dan riset agar mendapat hasil terbaik.

Begitulah dalam masalah obat dan teknik pengobatan. Islam menjelaskan secara global bagaimana terkait dengan penanganan wabah, namun perinciannya (seperti riset keamanan dan kemanjuran obat dan vaksin) serahkan pada ahlinya. Jadi, bertanyalah kepada ahlinya, jangan bertanya pada rumput yang bergoyang. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan