Tragedi Capitol Hill, Akankah Menjadi Gejala Sakitnya Negara Adidaya?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — Dunia kembali terguncang. Yang ini bukan karena gempa bumi atau berita pembantaian, tapi karena penyerbuan massa Trump ke Capitol Hill, sebuah gedung yang selama ini menjadi jantung demokrasi. Gedung yang sangat disakralkan para pengusung demokrasi.

Saat itu (6/1/21), bertepatan dengan sidang gabungan oleh Kongres Amerika yang akan mengesahkan presiden terpilih Biden dalam Pilpres 2020, massa pendukung Trump tiba-tiba muncul berunjuk rasa. Bukan sekadar unjuk rasa biasa, mereka menyerbu masuk hingga melakukan pemecahan kaca jendela. Dari kisruh itu dinyatakan empat orang tewas (inet.detik.com, 7/1/21).

Menanggapi peristiwa tersebut, para tokoh dunia langsung ikut berbicara. Mike Pompeo sebagai Menteri Luar Negeri AS menganggap peristiwa Capitol Hill ini bukanlah sesuatu yang benar. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebut kejadian ini adalah peristiwa yang sangat memalukan.

Hal yang sama dikatakan Simon Coveney. Menlu Irlandia ini menganggap peristiwa ini menyerang demokrasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron pun angkat bicara. Ia mengungkapkan serangan ini tidak mencerminkan Amerika. Masih banyak tokoh yang berpendapat sama (beritasatu, 7/1/21).

Mereka menilai, AS merupakan ujung tombak demokrasi. Semua orang berharap proses pemerintahan yang demokratis akan senantiasa dicontohkan AS. Namun, harapan itu menjadi pudar manakala para politikus AS telah mencederai demokrasi itu sendiri.

Apakah peristiwa ini menandakan akan berakhirnya kepercayaan dunia terhadap demokrasi? Apa pun jawabannya, yang jelas saat ini dunia sedang merasa “berduka” karena demokrasi dianggap “telah ternoda”.

Demokrasi Telah Rusak

Harus dipahami, kekacauan yang terjadi sebenarnya disebabkan demokrasi itu sendiri. Demokrasilah yang memunculkan pertikaian itu. Bermula dari sebuah sistem pemerintahan buatan akal, demokrasi menjadikan rakyat sebagai penguasa tunggal sekaligus menuhankan akal sebagai pembuat aturan yang kekal.

Anggapan ini telah menutup celah agama untuk masuk dalam mengambil kebijakan. Alhasil, kebijakan diambil berdasar kondisi akal dan kepentingan.

Ketika semua diserahkan pada akal, manusia tak dapat dikendalikan. Mereka akan cenderung mengikuti hawa nafsu dari pada para penyeru kebajikan. Bagi mereka, agama hanya sebatas ilmu, bukan untuk dipraktikkan.

Sayangnya, akal masing-masing orang berbeda. Ketika semua berinisiatif memimpin dan merasa menjadi yang terbaik, di situlah pertikaian datang.

Manusia yang menuhankan akal  menganggap dirinya terbaik. Tak adanya peran agama membuat ia dibutakan untuk berkuasa tersebab dirinya merasa paling benar.

Di sinilah gharizah baqa’ (naluri berkuasa) muncul. Ia pun akan menghalalkan segala cara untuk berkuasa atas yang lainnya. Ia tidak akan peduli dengan aturan yang telah dibuat. Baginya, meraih kekuasaan itu seperti hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang.

Walhasil segala macam cara pun dilakukan. Mulai dari kecurangan dalam pemilihan, hingga menuduh rival mainnya berlaku curang.

Ya, semua karena demokrasi itu sendiri. Sistem yang tak mampu memberikan rambu-rambu yang tepat dalam berpolitik. Sistem ini pula yang melahirkan persaingan yang tak sehat. Wajar saja, sebab demokrasi hanya sebuah sistem buatan manusia dengan segala keterbatasannya.

Dalam buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt—ditulis karena keduanya melihat demokrasi di AS sudah tak sehat—, tampak mereka ingin menyadarkan dan menyelamatkan demokrasi. Namun nyatanya, buku itu malah membuka kedok kesalahan demokrasi itu sendiri.

Dalam buku itu dijelaskan, kematian demokrasi bukan terletak pada pemberontakan, tapi pada pembelotan pengusungnya. Maknanya, jika para pengusungnya saling menjatuhkan, orang-orang yang mengkritik justru dimusuhi. Kebebasan berpendapat dibatasi, hingga keberadaan demagog diagung-agungkan.

Siapa demagog? Mereka bukanlah para negarawan yang memiliki visi misi yang menjulang. Tapi karena nafsu kekuasaan mereka ingin berkuasa.

Demagog memiliki sifat otoritarian. Mereka tidak akan menyerah sebelum meraih kemenangan. Jika mereka menang, kekuasaan akan jadi alat untuk mengekang lawan politik dan rakyatnya. Jika mereka kalah, mereka tak akan mau terima. Mereka akan menuduh ada kecurangan dalam proses pemilihan.

Itulah yang terjadi di AS saat ini. Kekacauan terjadi hanya demi meraih kekuasaan. Mereka yang kalah menuduh kecurangan dilakukan pihak lawan, sampai mengompori terjadinya unjuk rasa dan keributan.

Tidak sampai di situ, ancaman akan melakukan gerakan lebih besar pun dilakukan, yakni saat pelantikan Biden akan dibuat sebagai hari pemberontakan. Seperti orang barbar. Tak mau tahu aturan, yang ada hanya keinginan berkuasa.

Celah Lebar Munculnya Tirani

Jika hal ini berlanjut dan kekuasaan beralih ke orang-orang demagog, penguasa yang otoritarian akan lahir. Buku Tyranny karya Timothy Snyder menjelaskan bagaimana proses lahirnya negara tiran.

Dalam buku itu tertulis, semua berawal dari kepatuhan para pengikut atas perkataan pemimpin. Kepatuhan ini adalah tindakan buta karena mereka tak peduli benar atau salah.

Jika pemimpinnya telah menyatakan A, mereka langsung melaksanakan. Bisa kita lihat bagaimana pendukung Trump mengikuti pemikiran yang dilontarkan jika hasil pemilu itu salah. Kekacauan pun terjadi.

Jika hal ini terus berlanjut, bukan tak mungkin kekuasaan tiran akan lahir. Bagaimana dengan Biden sendiri? Memang paras yang ramah, merakyat, dan terkesan membela Islam.

Hanya saja, sebaik apa pun seorang pemimpin kapitalisme, ia tak akan pernah berteman dengan Islam kaffah! Selama kapitalisme masih diambil sebagai ideologinya, Islam kaffah tak akan mendapat tempat di hatinya.

Biden maupun Trump akan menjadi penguasa dunia dengan kapitalisme jika mereka menang. Sama saja. Bedanya hanya model kepemimpinannya. Tidak menutup kemungkinan keramahan yang ada justru menjadi jalan tiraninya untuk menguasai dunia. Sebagaimana dilakukan pendahulunya Barack Obama.

Inilah demokrasi, sebuah sistem pemerintahan yang mengikuti kondisi siapa yang memimpin. Demokrasi nyatanya tak mampu mengendalikan para penguasa, tapi sebaliknya, justru dikendalikan penguasa yang akan memberikan celah lebar munculnya pemimpin tiran. Ini akibat rusaknya landasan demokrasi sejak awal yang menuhankan akal.

Mencari Pengganti Super Power yang Sakit

Kondisi perpolitikan Barat, terutama AS, sedang gaduh. Mereka saling berebut kekuasaan dan saling menjatuhkan. Bahkan mereka terlihat menoleransi tindak kekerasan.

Keadaan semacam ini harusnya menyadarkan kaum muslim khususnya para pengusung demokrasi di negeri muslim, bahwa demokrasi tak layak dipertahankan. AS sebagai negara pengusung demokrasi telah sakit kronis. Sakitnya tak lagi dapat diselamatkan.

Oleh karena itu, kaum muslim butuh pengganti sistem rusak ini. Bukan lari ke sosialisme yang jelas telah runtuh. Tapi kembali pada seruan Allah SWT.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208)

Dengan menerapkan Islam di seluruh aspek kehidupan, seorang muslim membuktikan keimanannya. Tanpa memilah dan memilih lagi aturan Islam, mereka akan dapat jaminan menjadi umat terbaik. Termasuk mengambil sistem pemerintahan Islam sebagai pengganti sistem pemerintahan kapitalis. Sistem pemerintahan itu disebut Khilafah. [MNews/Gz]

4 thoughts on “Tragedi Capitol Hill, Akankah Menjadi Gejala Sakitnya Negara Adidaya?

  • 22 Januari 2021 pada 16:49
    Permalink

    Bagaimana pun baik nya seorang pemimim dalam demokrasi tak akan megubah keadaan umat,,kerena mereka d kuasai oleh hawa nafsu

  • 17 Januari 2021 pada 16:08
    Permalink

    Dengan menerapkan Islam di seluruh aspek kehidupan, seorang muslim membuktikan keimanannya. Tanpa memilah dan memilih lagi aturan Islam, mereka akan dapat jaminan menjadi umat terbaik. Termasuk mengambil sistem pemerintahan Islam sebagai pengganti sistem pemerintahan kapitalis. Sistem pemerintahan itu disebut Khilafah

Tinggalkan Balasan