[Tapak Tilas] Keistimewaan Masjid Nabawi

Oleh: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Rasulullah Saw. bersabda,

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Salat di masjidku ini lebih utama dari 1.000 kali salat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikian istimewa kedudukan masjid Nabawi dalam ajaran Islam. Hingga masjid ini menjadi masjid kedua yang selalu ingin dikunjungi kaum Muslimin setelah Masjidilharam di kota Makkah.

Namun tentu bukan hanya itu saja. Keistimewaan masjid Nabawi juga terletak pada sejarahnya yang begitu agung. Tak terpisah dari perjalanan hidup baginda Rasulullah Saw. beserta generasi Islam terbaik dalam menegakkan sebuah peradaban baru yang mampu mengubah wajah dunia.

Dibangun dengan Takwa

Sebagaimana tertulis dalam sirah, salah satu aktivitas yang dilakukan baginda Nabi Saw. beberapa hari setelah tiba di Madinah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pusat aktivitas.

Saat itu, dengan dibayar oleh Abu Bakar Shiddiq, Rasulullah Saw. membeli lahan seharga 10 dinar dari dua anak yatim bernama Sahl dan Suhail. Lokasinya sendiri adalah tempat di mana unta beliau berhenti saat pertama kali tiba di Madinah.

Masjid ini dibangun oleh Nabi sendiri bersama para sahabatnya yang dicintai. Bentuknya sendiri begitu bersahaja. Tiangnya terbuat dari batang pohon kurma.  Berlantai pasir pula.

Adapun dindingnya terbuat dari bahan batu bata dan tanah liat yang dibangun di atas fondasi batu. Sementara sebagian sisinya diberi atap dengan daun pohon kurma sekadar ada tempat berteduh di kala hujan atau panas.

Masjid ini awalnya memiliki tiga pintu dan menghadap Masjidil Aqsa yang merupakan kiblat pertama. Lalu setelah  wahyu tentang perubahan kiblat turun di tahun ke dua hijrah, Rasulullah mengubah arah masjid ini menghadap Ka’bah.

Di salah sisi masjid, Rasulullah pun membuat beberapa ruang beratap daun pohon kurma sebagai rumah bagi para istrinya. Sementara di sisi lainnya ada tempat yang teduh untuk menampung kaum fakir dari kalangan Muhajirin (ahlush shuffah) yang dinamakan “Al-saffa“.

Dalam buku Atlas Haji dan Umrah (Sami bin Abdillah al-Maghlouth, 2010) disebutkan bahwa luas awal masjid Nabawi adalah sekitar 60×70 hasta (sekira 30 x 35 m². Lalu setelah perang Khaibar (tahun ke-7 H) diperluas dengan biaya pembebasan tanah dan bahan bangunan yang ditanggung oleh Utsman Bin Affan ra.

Berikutnya, perluasan dilakukan di era khalifah Umar, dengan membeli lahan di kawasan barat, selatan dan utara masjid. Lalu dilanjutkan pada masa khalifah Utsman, hingga era kekhilafahan selanjutnya. Di era khilafah Ustmani, masjid Nabawi menjadi bangunan pertama yang mendapat penerangan.

Perluasan terbesar dilakukan pada 2012 atas perintah Raja Abdullah agar masjid bisa menampung sekitar dua juta jemaah. Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim Al-Assaf, menyatakan gabungan luas masjid dan plaza nantinya 1.020.500 meter persegi, dengan rincian kapasitas masjid dan plaza masing-masing satu juta dan 800.000 jemaah (bbc.com).

Raudhah dan Makam Nabi Saw.

Para peziarah yang datang ke Masjid Nabawi biasanya berharap bisa menyempatkan salat di area Raudhah yang disebut sebagai taman surga. Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Antara rumahku dan mimbar, ada potongan taman dari Surga.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Rumah dimaksud adalah rumah yang beliau tinggali bersama Aisyah. Sementara mimbar Nabi adalah tempat di mana beliau biasa menyampaikan khotbah, yang hari ini merupakan salah satu tempat paling dianggap berharga di Masjid Nabawi.

Di rumah inilah beliau wafat dan dimakamkan, karena Abu Bakar pernah mendengar beliau bersabda, bahwa para nabi dimakamkan di tempat di mana Allah mencabut nyawa mereka.

Ketika Abu Bakar sakit, ia meminta izin Aisyah agar bisa dimakamkan di dekat makam Nabi Muhammad, dan Aisyah setuju. Begitupun dengan Umar bin Khaththab—khalifah kedua—juga mengajukan permintaan yang sama dan Aisyah juga mengizinkan.

Karenanya, tentu saja perluasan masjid selama berabad-abad tadi membuat kamar dan makam Rasulullah Saw. bersama para sahabat tercintanya kini menjadi bagian dari masjid. Posisinya ditandai dengan sebuah kubah yang dibangun oleh Sultan Manshur Qalawun pada 678 H.

Bangunan kubah ini pernah terbakar seiring terjadinya kebakaran kedua yang terjadi pada Masjid Nabawi (tahun 886 H). Adapun kebakaran pertama terjadi di masa kekuasaan Abbasiyah (tahun 655).

Setelah kebakaran kedua inilah masjid bersama kubahnya diperbaiki. Namun dicat dengan warna hijau baru dilakukan pada masa kekuasaan Utsmaniyah atas perintah Sultan Mahmud II (1228 H). Maka sejak itulah kubah masjid Nabawi yang menandai rumah dan makam Nabi identik dengan warna hijau.

Tempat-Tempat Penting Lain di Kompleks Masjid Nabawi

Selain Raudhah, bekas rumah dan makam Nabi serta para sahabatnya, terdapat pula  tempat penting yang perlu diketahui. Di antaranya adalah pemakaman Jannatul Baqi’.

Di tempat ini dimakamkan sekira 10.000 sahabat dan juga keluarga Rasulullah Saw.. Seperti Utsman bin Affan, istri-istri beliau ra. dan anak-anak beliau. Sedangkan cucu yang dimakamkan di tempat tersebut adalah Sayyidina Hasan ra, keturunannya, dan juga keturunan para sahabat dan ibunda Ali bin Abi Thalib, Fatimah bin Asad.

Di dalam masjid juga terdapat bekas sumur Ha’. Sebuah sumur yang menandai kecintaan salah seorang sahabat kepada perjuangan Islam.

Adalah Abu Thalhah ra., salah seorang dari Anshar di Madinah yang paling banyak kebunnya. Dan di antara kebun tersebut ada kebun yang paling dicintainya karena terdapat sumur yang disebut Bi`r Ha` (Sumur Ha`). Posisinya ada di kiblat Masjid, di mana Rasulullah Saw. biasa masuk ke dalam kebun dan minum dari airnya.

Dikisahkan, tatkala turun QS Ali Imran ayat 92 yang artinya, “Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai”, beliau langsung menyedekahkannya untuk Allah dan untuk kebaikan para sahabat yang lainnya (wakaf).

Begitu pun di kompleks masjid itu, terdapat monumen yang menandai bekas rumah sahabat Abu Ayub Al-Anshory, tempat di mana Rasulullah Saw. tinggal saat beliau baru tiba ke Madinah. Yakni berupa bangunan kotak yang terletak beberapa puluh meter dari posisi rumah Nabi Saw. (kubah hijau).

Adapun Saqifah Bani Sa’adah, yakni tempat di mana pemilihan khalifah pengganti Nabi dilakukan letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi. Saat ini dibuat monumen berupa taman yang posisinya berdekatan dengan gerbang pagar nomor 15. Terletak di belakang pasar Haram.

Masjid Nabawi Hari Ini

Saat ini, kondisi masjid Nabawi benar-benar sangat megah dan di malam hari penuh dengan cahaya. Pemerintah Arab Saudi terus melakukan renovasi dan modernisasi dengan berbagai arsitektur yang makin menawan.

Setidaknya ada 41 gerbang pintu besar dan mewah di masjid ini. Tiap pintunya diberi nama-nama khusus, di antaranya nama-nama sahabat Nabi. Di atas pintu itu dipasang plakat batu yang bertuliskan QS Al-Hijr ayat 46 yang artinya: “Masuklah dengan damai dan aman”.

Di dalam ruangan masjid juga dipasang mesin pendingin yang menempel pada dasar tiang-tiang besar sehingga situasinya begitu sejuk dan nyaman. Sementara di beberapa lorong tersedia pula deretan tempat air zamzam yang bisa diambil oleh mereka yang memerlukan saat mereka beribadah atau menikmati kajian-kajian atau halqah-halqah Al-Qur’an yang ada di sana.

Kubah-kubah masjidnya pun dirancang sedemikian rupa, sehingga di waktu-waktu tertentu bisa bergeser terbuka dan jamaah bisa memandang ke arah langit. Sementara di pelatarannya dipasang payung-payung raksasa yang juga bisa ditutup dan dibuka. Berikut kipas-kipas besar yang memancarkan uap air untuk mengatur suhu pelataran.

Di luar itu, ada pula fasilitas yang bisa dinikmati jemaah yang uzur. Berupa layanan mobil penghantar yang tiap saat wara-wiri di pelataran masjid. Hingga mereka tak perlu kelelahan berjalan dari pagar masuk kompleks ke arah pintu masuk masjid yang diinginkan.

Adapun di luar kompleks Masjid, berdiri berbagai bangunan megah berupa kantor pemerintah, fasilitas kesehatan, museum, hotel-hotel mewah, pusat-pusat perbelanjaan, pasar dan lain-lain. Dan nampaknya kondisi ini akan terus berubah sejalan dengan pembangunan yang terus dilakukan pemerintah.

Menemukan Kembali Spirit yang Hilang

Tentu saja, segala kemegahan dan berbagai fasilitas yang ada di Masjid Nabawi hari ini benar-benar memberi kenyamanan kepada semua jemaah yang berziarah. Hingga mereka selalu betah berlama-lama di dalam dan sekitar masjid. Bahkan selalu muncul kerinduan untuk selalu bisa kembali. Khususnya untuk beribadah dan berziarah ke makam Nabi Saw.

Namun di tengah semua aktivitas ritual yang begitu kental, ada spirit lain yang semestinya penting untuk selalu dihadirkan. Yakni spirit perjuangan yang di masa Rasulullah Saw. begitu lekat pada Masjid Nabawi ini.

Sejarah telah mencatat, di masjid ini Rasulullah Saw. telah berhasil membangun sebuah model kepemimpinan Islam yang begitu ideal. Beliau Saw. tak hanya tampil sebagai pemimpin spiritual. Tapi juga sebagai pemimpin politik yang sangat peduli dengan rakyatnya sekaligus memiliki marwah di hadapan musuh-musuhnya.

Di masjid ini, ayat-ayat Allah yang turun tak hanya beliau bacakan, tapi juga beliau tegakkan sebagai Undang-Undang. Hingga masyarakat negara Madinah bisa merasakan kehidupan yang penuh berkah di bawah naungan syariat Islam.

Bahkan beliau tak hanya membina rakyatnya untuk menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa dan saling mencinta karenaNya. Tapi juga membina mereka untuk siap membela kehormatan agama dan negara di bawah panjinya.

Maka masjid Nabawi di masa Nabi, tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, atau pusat pembinaan dan ukhuwah saja. Tapi juga menjadi pusat perjuangan politik yang menjadi dasar tegaknya sebuah peradaban cemerlang di dunia.

Ya, dari sinilah cahaya Islam lebih terang terpancar. Yang pelan tapi pasti, Islam, negara serta peradaban yang dibangun Rasulullah Saw. kian tersebar luas, melintas berbagai jazirah dan benua. Hingga nyaris seluruh penjuru dunia merasakan rahmatnya.

Namun sayang, saat ini rahmat itu telah hilang dengan hilangnya Islam sebagai asas kehidupan kaum Muslim. Saat payung negara mereka hilang karena konspirasi Barat dan kelemahan internal yang begitu dalam. Hingga umat yang dulu dimuliakan dengan tegaknya Islam, kini hidup dalam kondisi mengenaskan. Pertanyaannya, mau sampai kapan?? [MNews/Juan]

3 thoughts on “[Tapak Tilas] Keistimewaan Masjid Nabawi

  • 22 Januari 2021 pada 05:00
    Permalink

    Masya Allah semoga selalu istiqomah unk mewujudkan kembalinya peradapan yg cemerlang dengan islam sebagai asas dalam kehidupan

  • 17 Januari 2021 pada 17:52
    Permalink

    Namun sayang, saat ini rahmat itu telah hilang dengan hilangnya Islam sebagai asas kehidupan kaum Muslim. Saat payung negara mereka hilang karena konspirasi Barat dan kelemahan internal yang begitu dalam. Hingga umat yang dulu dimuliakan dengan tegaknya Islam, kini hidup dalam kondisi mengenaskan. Pertanyaannya, mau sampai kapan??

Tinggalkan Balasan