[Sirah Nabawiyah] Menjelang Perjanjian Hudaibiyah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — [Latar Belakang Perjanjian] Telah sampai berita kepada Rasulullah Saw bahwa kaum kafir Quraisy di wilayah selatan Madinah melakukan persekutuan militer dengan Khaibar di wilayah utaranya. Persekutuan ini dilakukan agar Negara Madinah dalam posisi terjepit, kemudian mudah bagi mereka untuk menyerang dan mengakhirinya.

Rasulullah Saw. berpikir, tidak mampu menghancurkan persekutuan militer itu dengan konfrontasi bersenjata. Beliau pun kemudian melakukan strategi politik yaitu bersama kaum muslimin untuk  mengunjungi Ka’bah.

Dalam pandangan bangsa Arab seluruhnya, Ka’bah bukanlah milik kafir Quraisy Makkah saja. Mereka tidak berhak mencegah siapa pun yang berkeinginan mengunjungi Ka’bah.

Rasulullah Saw. akhirnya mengumumkan bahwa beliau hendak pergi umrah dan untuk mengagungkan Ka’bah.

Memasuki bulan Dzulqa’dah, di mana pada bulan ini bangsa Arab tidak melakukan peperangan, rombongan Rasulullah Saw berangkat menuju Makkah.

Berangkat Umrah

Beliau Saw. tidak membawa senjata. Orang-orang yang ada di sekitar beliau dari Muhajirin dan Anshar juga di antara orang-orang Arab Badui bersiap-siap untuk pergi bersama Rasulullah Saw. Mereka ada yang muslim ada juga yang musyrik.

Saat rombongan kaum muslimin tiba di Dzulhulaifah, mereka melangsungkan salat serta berihram untuk melaksanakan umrah. Rombongan juga membawa 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu (kurban).

Berita mengenai perjalanan Nabi Muhammad Saw. dan kaum Muslimin untuk menunaikan ibadah umrah akhirnya sampai ke telinga masyarakat Quraisy. Mereka curiga karena bisa saja sebagai taktik belaka untuk menembus kota Makkah.

Para pemuka Quraisy pun tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk melarang Nabi Muhammad Saw. dan kaum Muslimin masuk ke Makkah.

Rombongan Nabi Saw Menempuh Jalan Alternatif

Kaum kafir Quraisy mulai menyiapkan pasukan sekitar 200 orang di bawah pimpinan Panglima Khalid Ibnu Walid untuk menghalangi Nabi dan pengikutnya masuk ke Madinah. Rombongan dari Madinah yang sedang menuju Makkah akhirnya mengetahui hal tersebut setelah Nabi bertemu dengan Bisyir bin Sufyan al Ka’biy.

Bisyir mengatakan bahwa kaum Quraisy telah menuju ke suatu daerah Karra al Ghamim dan mereka bersumpah untuk menghalangi Nabi Muhammad Saw. dan rombongan memasuki kota Makkah.

Nabi Muhammad Saw. berupaya mencari jalan lain untuk menghindari agar tidak bertemu dengan kaum Quraisy. Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah berkeliling mengitari pegunungan, sedangkan untuk mengitari jalan baru tersebut amatlah sukar.

Setelah menempuh perjalanan yang amat melelahkan, akhirnya rombongan tersebut sampai di suatu daerah yang bernama Al-Hudaibiyah.

Kaum Quraisy Mengirim Utusan

Melihat kondisi tersebut, kaum Quraisy pun mulai ragu untuk mengambil inisiatif penyerangan. Mereka akhirnya mengutus beberapa orang dari kalangannya yaitu Badil bin Warqa’ al Khuza’iy dan al Hulais bin ‘Alqamah untuk menanyakan maksud sebenarnya menuju kota Makkah.

Nabi Muhammad Saw. memberitahukan mereka, beliau datang tidak untuk berperang, namun kedatangan beliau untuk berkunjung ke Baitullah dan mengagungkan Ka’bah.

Namun, pihak Quraisy tidak percaya begitu saja. Mereka pun kembali mengirimkan utusanya untuk bertemu Rasulullah Saw, yaitu Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Laporan Urwah, seseorang yang cukup disegani di masyarakatnya, pun tidak ditanggapi.

Para pemuka kaum Quraisy menyuruh sekitar 40 warganya keluar pada malam hari untuk melempari kemah Rasulullah dan rombongannya. Sebelum mereka melancarkan aksinya, pihak Nabi Muhammad Saw. sudah mengetahuinya dan mereka tertangkap basah lalu digiring ke hadapan Nabi. Nabi Saw. pun memaafkan dan melepaskan semuanya tanpa tinggal seorang pun.

Bai’atur Ridwan

Nabi Muhammad Saw mengambil langkah positif dengan mengutus Usman bin Affan kepada pemuka kaum Quraisy. Perundingan tersebut akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa hanya memperbolehkan Utsman bin Affan untuk melaksanakan ibadah umrah.

Perdebatan panjang dan waktu yang cukup lama tersebut menyebabkan munculnya desas-desus bahwa Utsman telah dibunuh secara muslihat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Kami tidak akan berhenti memerangi mereka.” Rasulullah Saw. memanggil semua orang yang bersamanya guna berbaiat untuk mati. Beliau Saw. berdiri di bawah pohon dan orang-orang pun berbaiat kepada Rasulullah Saw.

Nabi Muhammad Saw. merasa tenang, sebab para Sahabat yang dipimpinnya benar-benar siap untuk membela Islam dan negara Islam. Sumpah setia ini dalam sejarah Islam dikenal dengan nama Bai’atur Ridwan.

Kafir Quraisy Semakin Gentar

Sumpah setia ini pun sampai ke pihak Quraisy dan menggetarkan hati mereka. Mereka segera mengadakan sidang darurat untuk mencari cara menghadapi ancaman kaum Muslimin.

Kaum Quraisy sejatinya mengalami kejatuhan mental karena mereka masih trauma dengan kekalahan mereka pada Perang Badar.

Pada Perang Badar, kaum muslimin dapat mengalahkan kaum Quraisy  walaupun dengan pasukan yang jauh lebih sedikit. Begitu pula kegagalan pasukan Ahzab (sekutu kafir Quraisy) menyerang Madinah pada perang Khandak.

Kabar mengenai kejatuhan mental para petinggi Quraisy dan kepulangan Utsman bin Affan membuat kaum Quraisy percaya, kedatangan Muhammad Saw. dan pengikutnya hanyalah untuk melakukan ibadah umrah dan bukan untuk berperang.

Pihak Quraisy pun akhirnya mengirimkan utusannya untuk melaksanakan perundingan dengan Muhammad Saw.. Upaya untuk mencapai titik kompromi diwakili Suhail bin Amru dan kaum Muslimin diwakili Nabi Muhammad Saw.

Pertemuan tersebut menghasilkan Perjanjian Damai Hudaibiyah (Shulhu al Hudaibiyah). [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw/ Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji/Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan