Sistem Islam yang Komprehensif, Mewujudkan Ketahanan Keluarga yang Kuat

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Status “Keluarga Harmonis” kini kian hari semakin mahal harganya. Curahan kasih sayang antaranggota keluarga pun memudar seiring dengan tertanamnya budaya liberal. Sistem sekularisme yang menjadi urat nadi kehidupan bermasyarakat, menjadikan hubungan antaranggota keluarga hanya sebatas materi belaka.

Seperti kasus seorang anak yang memenjarakan ibunya, karena selingkuh dan KDRT. Yang kini tengah viral dan menjadi pembahasan di sejumlah media. Walau akhirnya sang anak mencabut tuntutannya, namun kasus ini telah menambah deretan konflik yang terjadi di dalam rumah tangga.

KDRT, perselingkuhan hingga pembunuhan seolah menjadi tren yang mengiringi corak kehidupan keluarga modern. Rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman bagi anggotanya, nyatanya malah menjadi pangkal bencana.

Apa yang menjadi akar penyebab buruknya akhlak anak pada orang tua? Lantas bagaimana sistem Islam mampu menyelesaikan dengan komprehensif?

Akar Masalah, Tidak dijadikannya Islam sebagai Problem Solving

Fenomena “anak durhaka” tak lahir dengan sendirinya. Alpanya orang tua dalam mendidik anak-anak mereka serta absennya mereka sebagai teladan bagi anak-anaknya, telah membidani lahirnya anak-anak yang tak hormat pada ibu bapaknya.

Padahal, menjadi keluarga harmonis adalah dambaan setiap pasangan dalam biduk rumah tangganya. Namun sungguh sayang, hal demikian sangatlah sulit dicapai dalam masyarakat yang bercorak sekuler kapitalisme.

Ideologi sekularisme yang melahirkan perilaku liberal, telah mendogma setiap manusia untuk bebas bertingkah laku. Anak ataupun orang tua merasa bebas melakukan apa pun.

Pun standar perbuatannya yang berasaskan manfaat, telah melahirkan jalinan hubungan hanya sebatas materi. Kasus seorang anak yang melaporkan ibunya hanya karena uang warisan 15 juta, misalnya.

Selain itu, sekularisme telah melemahkan ajaran Islam kaffah. Islam tak lagi berfungsi sebagai problem solving, namun sebatas agama ritual semata. Wajarlah Islam tidak mampu memengaruhi perilaku individu dan masyarakatnya.

Pilar Pembentuk Masyarakat Islam

Sesungguhnya, aturan Islam tidak akan tegak jika tiga pilar pembentuknya tidak ada. Yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan penerapan syariat oleh negara. Inilah yang membentuk masyarakat Islam, yang nantinya akan melahirkan generasi takwa dan berakhlakul karimah.

Pertama, ketakwaan individu. Individu memahami Islam kaffah dan menjadikan syariat sebagai penyelesai masalah. Setiap anggota keluarga akan memahami hak dan kewajibannya. Misalnya kewajiban nafkah terletak pada punggung suami. Maka, suami yang bertakwa akan berusaha maksimal menafkahi keluarganya.

Peran istri pun akan dijalankan dengan optimal. Melayani suami dan menjadi tempat bersandarnya kala lelah bekerja seharian. Ketaatannya akan serta-merta membawa sang istri untuk tidak banyak menuntut dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah SWT pada keluarganya.

Seorang ibu yang paham syariat akan fokus mendidik anak-anaknya, serta menjadi teladan bagi mereka. Perilakunya akan senantiasa ia jaga, karena selain untuk menunaikan kewajibannya sebagai hamba, perbuatan sang ibu akan dilihat anak dan dijadikan contoh dalam perilaku mereka.

Juga perilaku anak yang terlahir dari pola asuh Islam, akan paham kewajiban birul walidain, yakni berbakti pada orang tua. Mereka akan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya dengan memberikan kebaikan atau berkhidmat, serta menaati perintah (kecuali maksiat) dan mendoakan apabila keduanya telah wafat.

Sehingga, fenomena “anak durhaka” tidak akan kita temui dalam keluarga yang menjadikan syariat Islam sebagai problem solving. Sebab, Allah SWT telah jelas melaknat anak yang tak berbakti pada kedua orang tuanya.

Dari Abdullâh bin ‘Amr, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasûlullâh, apakah dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Isyrak (menyekutukan sesuatu) dengan Allâh.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian durhaka kepada dua orang tua.” (HR al Bukhari, no. 6255)

Kedua, Kontrol masyarakat. Inilah yang tak dimiliki masyarakat sekuler yang individualis: amar makruf nahi mungkar. Jika ada saudaranya yang berbuat salah, masyarakat akan berbondong-bondong mengingatkan. Sehingga permasalahan tidak akan berlarut-larut dan akan terhindar dari mudarat yang lebih besar.

Dan ketiga adalah peran negara dalam mempersiapkan perangkat, demi terwujudnya ketahanan keluarga, melalui penerapan syariat Islam secara kaffah.

Peran Negara dalam Menciptakan Ketahanan Keluarga

Islam sebagai ideologi telah memancarkan aturan dalam setiap fikrah-nya. Adapun karakter syariat Islam yang pokok adalah memiliki keterkaitan dan keterpaduan antara yang satu dengan yang lainnya.

Pelaksanaan satu hukum akan menuntut pelaksanaan hukum yang lain secara terpadu. Oleh karena itu, pelaksanaan syariat secara parsial akan menyebabkan ketimpangan.

Kasus buruknya akhlak anak kepada ibunya, tak bisa dilihat dari satu sisi saja, namun harus dipandang secara komprehensif bahwa ini adalah kesalahan sistem yang perbaikannya pun harus berskala sistem.

Bukan hanya sekadar memperbaiki perilaku ibunya, anaknya, atau ayahnya saja. Perilaku ayah, ibu, dan anak sangat dipengaruhi banyak faktor. Setidaknya ada empat faktor.

Pertama, faktor pendidikan.

Sistem pendidikan sekuler yang sekadar berorientasi pada akademik hanya akan melahirkan siswa pintar namun minus pemahaman akidah, serta pola sikapnya yang cenderung buruk.

Sedangkan sistem pendidikan Islam membina para siswanya untuk menjadi individu yang berkepribadian Islam. Yaitu memahami Islam dengan kaffah dan berperilaku sesuai dengan syariat. Sehingga wajib bagi negara untuk memfasilitasi tersedianya sekolah dengan kualitas kurikulum dan tenaga pengajar yang unggul.

Kedua, faktor budaya yang masuk ke tengah-tengah masyarakat haruslah yang sesuai Islam.

Negara akan sangat selektif menyaring budaya yang masuk dan beredar di tengah-tengah umat. Di era digital seperti saat ini, media massa dan media sosial adalah entitas yang sangat signifikan dalam transfer budaya.

Fungsi media dalam negara Khilafah adalah untuk menguatkan akidah. Akan tercipta jawil imani yang kuat di tengah masyarakat. Media pun menjadi sarana mencerdaskan umat karena memuat berbagai informasi. Negara wajib mencegah informasi yang buruk, apalagi yang kontraproduktif terhadap akidah umat.

Ketiga, pelaksanaan uqubat.

Sistem sanksi harus jelas dan tegas. Bagi siapa saja yang melanggar aturan, harus segera ditindak. Misalnya pelaku perzinaan, jika telah terbukti berzina apalagi ada pengakuan, harus segera dilaporkan. Tak peduli apakah itu orang tuanya atau siapa pun, karena perzinaan adalah tindakan kriminal.

Hukum sanksi dalam Islam berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa) dan jawazir (mencegah terulangnya kriminalitas).

Keempat, faktor ekonomi.

Faktor inilah yang menjadi pemicu terjadinya perceraian. Sulitnya para suami mendapatkan pekerjaan dan negara yang tidak menjamin pemenuhan kebutuhan dasar, telah semakin memberatkan beban kepala keluarga.

Begitu pun berbondong-bondongnya para ibu keluar rumah untuk bekerja membantu ekonomi keluarga, telah menjadi jalan terlalaikannya kewajiban pengasuhan. Anak haus belaian kasih sayang orang tuanya dan juga kehilangan sosok untuk dijadikan teladan. Akhirnya, hilanglah rasa hormat dan bakti pada orang tuanya.

Maka dari itu, Khilafah akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok per individu dan menyediakan lapangan kerja bagi para ayah. Sistem kepemilikan yang mengharamkan SDA dikuasai asing akan menjadikan keuangan Khilafah kuat dan stabil, sehingga mampu membiayai itu semua.

Kesimpulannya, sistem kehidupan yang sekuler telah gagal menghadirkan ketahanan keluarga dan menjadi penyebab lahirnya “anak-anak durhaka”.

Sungguh, hanya penerapan Islam secara kaffah yang akan melahirkan ketahanan keluarga yang kuat, masyarakat yang mulia, dan umat yang terbaik. [MNews/Gz]

One thought on “Sistem Islam yang Komprehensif, Mewujudkan Ketahanan Keluarga yang Kuat

Tinggalkan Balasan