Sistem Sekuler Lahirkan Malin Kundang Zaman Now

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Siapa yang tak mengetahui cerita rakyat dari Sumatera Barat yaitu Malin Kundang, yang tak sudi mengakui ibu kandungnya sendiri. Hingga saat ini cerita tersebut menjadi salah satu cerita bagi anak-anak untuk diambil pelajarannya. Jangan sekali-kali menjadi anak durhaka dengan berkata kasar dan menyakiti hati kedua orang tua apalagi ibu.

Malin Kundang anak durhaka tidak hanya sebatas dalam sebuah cerita rakyat, tapi nyata ada di tengah-tengah masyarakat. Seorang ibu di Demak, Jawa Tengah dilaporkan anak kandungnya ke polisi, sang ibu akhirnya harus mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota. Sebabnya karena sang ibu jengkel pada si anak, lalu ia mengatakan telah membuang baju-baju anaknya.

Setelahnya terjadi perkelahian antara ibu dan anak, anak mendorong ibunya hingga jatuh. Ibunya tak sengaja membalas tindakan anaknya, hingga akhirnya dilerai oleh warga sekitar. Sang anak pun melaporkan ibunya ke polisi dengan aduan, dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Ibunya dijerat dengan Pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. (news.detik.com, 9/1/2021)

Hal yang sama juga terjadi di Nusa Tenggara Barat, seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi karena masalah motor. Namun laporan tersebut ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono. (tribunnews.com, 29/6/2020). Dua kasus di atas menunjukkan pada kita, bahwa sistem sekuler menjadikan interaksi dalam keluarga hanya sebatas materi. Hal itu menjadi landasan hubungan antara ibu dan anak, semua diukur dengan untung rugi.

Generasi Durhaka Buah dari Liberalisme

Gempuran pemikiran begitu deras menyerang keluarga-keluarga di Indonesia. Salah satunya serangan pemikiran liberalisme yang menjadikan pertimbangan di dalam keluarga bukan halal-haram, melainkan materi sebagai nilai yang tertinggi. Jika salah satu anggota keluarga tidak memberi manfaat maka akan disingkirkan, tak terkecuali orang tuanya sendiri.

Tidak ada lagi rasa hormat terhadap orang tua, bahkan anak menjadi durhaka. Pemicunya karena materi (uang), kerasnya tekanan gaya hidup, ketidakadilan ekonomi serta lemahnya penanaman nilai agama yang menjadikan seseorang kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Begitu hebatnya liberalisme menghancurkan bangunan keluarga.

Baca juga:  6 Tips Merukunkan Kakak dan Adik

Masalah utama dalam keluarga disebabkan liberalisasi keluarga. Pertama, liberalisme berhasil mengikis pemahaman tentang menjaga kewajiban dan hak antar anggota keluarga. Hal iti disebabkan ditinggalkannya nilai-nilai Islam dalam keluarga. Kedua, liberalisme berhasil mencabut fitrah seorang ibu, demi memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin tinggi standarnya lalu mencapai kemandirian ekonomi. Para ibu meninggalkan rumah dan mengabaikan peran utamanya sebagai pendidik generasi dan pencetak generasi cemerlang.

Inilah yang menyebabkan generasi durhaka banyak dilahirkan dalam sistem sekuler-liberalisme. Kerapuhan dalam keluarga akibat liberalisme menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang tak beradab dan bergaya hidup bebas, sesuka hatinya bersikap pada siapa pun termasuk orang tuanya. Apalagi dalam sistem ini, orang bebas berbuat, bebas memiliki, bebas beragama dan bebas berpendapat, semua itu dilindungi oleh negara.

Disfungsi Keluarga dalam Sistem Sekuler

Hubungan antar anggota keluarga semakin rusak sebab keluarga tidak lagi bisa menjadi tempat yang mengayomi, merawat dan memberi teladan bagi anggotanya. Orang tua pelaku kemaksiatan, mengonsumi miras dan narkoba, sementara anak tak lagi memberi rasa hormat pada orang tua akibat edukasi dari nilai-nilai liberal. Nilai HAM membuat keluarga individualis, tak mau mendengar nasihat sesama dan sebagainya.

Negara pun turut andil, sangat lemah memberantas hal-hal yang mempengaruhi lahirnya disfungsi keluarga. Misal, negara lemah dan membiarkan tontonan porno, kekerasan, juga produksi miras dan peredaran narkoba tak kunjung dapat diberantas. Pendidikan sekuler juga cacat, karena menghasilkan orang yang cakap ilmu tapi bobrok perilaku.

Sebab sistem pendidikan sekuler memisahkan urusan agama dari kehidupan. Dari kasus-kasus yang terjadi semestinya negara melakukan evaluasi untuk mewujudkan keluarga yang mampu melakukan fungsinya secara memadai. Negara juga harus mengubah pendidikan sekuler dengan pendidikan berbasis Islam hingga bisa menghasilkan pribadi Islami yang utuh, cakap ilmu dan berakhlak mulia.

Tidak akan ditemukan kekerasan yang dilakukan, baik antara ibu dan anak, atau suami dan istri. Semua anggota keluarga hidup penuh harmonis. Tentu masyarakat mengharapkan negara yang mengakhiri perseteruan yang sering terjadi dalam keluarga dengan menerapkan syariat Islam sebagai aturan yang adil dan melindungi setiap individu rakyatnya. Dan hal itu hanya terjadi jika Khilafah Islamiyah tegak sebagai institusi penerap syariat.

Baca juga:  Benarkah Istri Tidak Wajib Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga?

Tujuan Berkeluarga dalam Islam

Tujuan berkeluarga dalam Islam adalah beribadah kepada Allah SWT, yakni untuk melestarikan keturunan, dan mewujudkan ketenteraman (sakinah mawaddah wa rahmah); bukan semata memuaskan naluri seksual atau semata status sosial. Karena itu Islam sangat menekankan paradigma dan mentalitas bertanggung jawab dalam mendidik generasi.

Setelah sebuah keluarga terbentuk, maka rida Allah adalah menjadi tujuannya. Setiap anggota keluarga haruslah taat pada seluruh aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena kebahagiaan yang dituju bukan hanya di dunia, tapi kehidupan yang abadi kelak yaitu di akhirat yang kekal.

Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Islam juga mendidik generasi menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda, menghargai sesama bahkan mewajibkan anak “Birul Walidayn” dan memuliakan orang tuanya. Kewajiban berbuat baik kepada orang tua, bahkan Allah posisikan setelah beribadah dan mentauhidkan-Nya. Oleh karena itu, bersuara keras mengucapkan kata “Ahh” saja dilarang apalagi sampai melaporkan ke polisi dan  memenjarakan ibu kandunganya sendiri tentu tidak dilakukan.

Interaksi Anak terhadap Orang tua dalam Islam

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Amalan apakah yang paling utama?” Rasul menjawab, “Shalat pada waktu-waktunya.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab lagi, “Berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya kembali.” Kemudian apa lagi?” “Kemudian jihad fi Sabilillah.” Kemudian aku terdiam dan tidak lagi bertanya kepada Rasulullah Saw. Andaikan aku meminta tambahan, maka beliau akan menambahkan kepadaku.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi)

Jika berbakti kepada orang tua merupakan amalan paling utama, tentu pola interaksi yang harmonis terjalin antara anak dan orang tuanya dalam Islam. Apalagi anak yang senantiasa berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya akan memperoleh keberkahan hidup berupa umur panjang dan kemudahan rezeki. Nilai Islam sebagai perekat di antara sesama anggota keluarga, lahirlah pribadi beradab dan bertakwa menghasilkan anak yang hormat pada kedua orang tua.

Baca juga:  Melatih Anak Taat Syariat

Dari Anas bin Malis ra, Rasulullah Saw bersabda, “ Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka hendaknya ia berbakti kepada orang tuanya dan menyambung silaturrahim.” (HR Ahmad)

Apalagi Rasul juga telah mengabarkan lewat sabdanya, “Orang tua merupakan pintu syurga yang paling pertengahan, jika engkau mampu maka jagalah pintu tersebut.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). Semua dalil-dalil di atas menunjukkan kepada kita, begitu besar perhatian Islam terhadap hubungan anak dengan orang tuanya, sampai-sampai perkara ini menjadi amalan utama dalam Islam.

Sokongan Negara Terhadap Fungsi Keluarga

Negara bertanggung jawab agar gangguan yang muncul di luar rumah dapat dihentikan. Tidak akan ada perzinahan, pornografi, miras, narkoba, tontonan kekerasan dan lain sebagainya. Negara menciptakan lingkungan yang penuh dengan suasana ilmu, kerja keras, dakwah dan jihad.

Maka didikan orang tua akan berdampak besar pengaruhnya karena didukung oleh suasana lingkungan yang dibentuk oleh Khilafah. Dijamin pula stabilitas politik dan keamanan, pembangunan fasilitas pendidikan, ditambah wakaf dari orang-orang kaya di bidang ilmiah. Lalu ketekunan keluarga mendidik bibit terbaik yang akan menjadi aset terbaik negara, dipastikan fungsi keluarga berjalan dengan baik.

Khilafah juga tidak mendikotomikan ilmu agama dan sains. Sejak dini, setiap anak ditanamkan nilai-nilai dasar keislaman, menghafalkan Al-Qur’an, memfasilitasi keterampilan fisik seperti berenang, berkuda dan memanah. Menjelang baligh, mereka diperbolehkan menekui berbagai jenis ilmu. Lahirlah dari sana, intelektual yang menguasai berbagai bidang ilmu dan berakhlak mulia.

Khilafah telah terbukti berhasil mendidik generasi menjadi generasi emas yang unggul, bermental juara bukan generasi durhaka yang tak beradab. Negara benar-benar menjalankan perannya sebagai penjaga keluarga dari berbagai gempuran ide yang berbahaya dan merusak. Sungguh kita menantikan era kejayaan Islam dalam naungan Khilafah, tak akan lagi kita dengar anak yang berlaku keji pada kedua orang tuanya, tapi sebaliknya, anak memuliakan orang tuanya dengan menorehkan berbagai karya dan prestasi di dunia dan membawa kebaikan di akhirat.

One thought on “Sistem Sekuler Lahirkan Malin Kundang Zaman Now

Tinggalkan Balasan