Seputar Al-Qur’an (Tafsir QS al-Qiyamah [75]: 16-19) Bagian 1/2

Oleh: Ustaz Rokhmat S. Labib, M.E.I.

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN – Allah SWT berfirman,

لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ  ١٦ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ  ١٧ فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ  ١٨ ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ  ١٩

“Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sungguh atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Jika Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sungguh atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS al-Qiyamah [75]: 16-19)

Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan keadaan orang yang tekun mempelajari ayat-ayat-Nya; menghapal, meraih, mempelajari, dan menyampaikannya kepada orang yang mengingkarinya. Harapannya, orang itu bisa menerimanya. Dengan itu tampak jelas perbedaan orang yang mempelajari ayat-ayat Allah SWT dan orang yang berpaling darinya.[1]

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: La tuharrik bihi lisanaka li ta’jala bihi (Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk [membaca] Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat [menguasai]-nya).

Khithâb atau seruan dalam ayat ini diserukan kepada Rasulullah Saw. Dhamîr atau kata ganti pada kata bihi menunjuk pada Al-Qur’an. Dengan demikian maknanya adalah bi al-Qur’ân (dengan Al-Qur’an). Hal ini ditunjukkan oleh konteks ayat ini.[2]

Adapun terkait frasa lisânaka (lisanmu) terdapat kata yang dihilangkan yakni: sebelum wahyunya sempurna.[3] Dengan demikian ayat ini melarang Rasulullah Saw. menggerakkan lidahnya sebelum ayat yang diturunkan tuntas dibacakan kepada beliau.

Lalu disebutkan hal yang menyebabkan Rasulullah Saw. menggerakkan lidahnya sebelum tuntas wahyu dibacakan kepada beliau, yakni: lita’jala (karena hendak cepat-cepat [menguasai]-nya). Maknanya: karena mengambil atau menguasainya dengan tergesa-gesa) lantaran beliau khawatir wahyu terlepas.[4]

Pengertian itu sejalan dengan beberapa riwayat sabab nuzul ayat ini. Rasulullah Saw. menggerakkan kedua bibirnya dan lisannya untuk membaca Al-Qur’an ketika diturunkan kepada beliau sebelum Jibril selesai membacakannya karena bersemangat untuk menghafalnya. Lalu turunlah ayat ini. Artinya, “Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an ketika penyampaian wahyu sedang berlangsung karena takut akan luput darimu.”[5]

Ibnu Abbas ra. menuturkan bahwa ketika ada ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Saw., beliau cepat-cepat ingin menghapalnya. Lalu turun ayat ini dan ayat berikutnya. Ibnu Abbas berkata, “Demikianlah, Rasulullah Saw. menggerakkan dua bibirnya.”[6]

Az-Zamakhsyari mengatakan, makna ayat ini adalah, “Jangan gerakkan lidahmu untuk membaca wahyu selama Jibril sedang membaca karena ingin mengambilnya dengan tergesa-gesa.”[7]

Meskipun dengan redaksi yang berbeda, penjelasan serupa disampaikan oleh banyak mufasir lainnya, seperti as-Samarqandi, al-Jazairi, al-Qinuji, az-Zuhaili, az-Sa’di, dan lain-lain.[8]

Tentang perkara yang membuat Rasulullah Saw. tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum tuntas dibacakan kepada beliau, menurut as-Sya’bi karena Rasulullah Saw. berkeinginan kuat untuk menyampaikan risalah dan bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada-Nya.[9]

Kemudian Allah SWT berfirman: Inna ‘alaynâ jam’ahu wa wa qur`ânahu (Sungguh atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya [di dadamu] dan [membuatmu pandai] membacanya).

Menurut Fakhruddin ar-Razi, frasa: Inna ‘alaynâ menunjukkan bahwa itu seperti wajib bagi Allah SWT. Namun, menurut pandangannya, wajib tersebut berkedudukan sebagai janji.[10]

Dengan demikian Rasulullah Saw. tidak perlu terlalu tergesa-gesa untuk menguasai Al-Qur’an karena Allah SWT berjanji dan memberikan jaminan kepada beliau tentang dua hal terhadap Al-Qur’an.  Pertama, jam’ahu. Menurut banyak mufasir, maksudnya adalah mengumpulkannya (di dalam dadamu). Demikian menurut az-Zamakhsyari, ar-Razi, Ibnu Katsir, al-Khazin, asy-Syaukani, dan lain-lain.[11]

As-Samarqandi memaknainya: menjaganya di hatimu.[12] Fakhruddin ar-Razi berkata, “Menjadi tanggung jawab Kami untuk menghimpunnya di dalam dadamu dan hapalanmu.[13]

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Kewajiban Kami untuk mengumpulkan Al-Qur’an di dadamu sehingga kokoh di dalam dadamu, wahai Muhammad.”[14]

Kedua, wa qur‘ânahu (dan membacanya). Menurut al-Farra‘, kata al-qira’ah dan Al-Qur’an adalah dua mashdar yang sama.[15] Artinya, pembacaan. Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT menjamin Rasulullah Saw. dapat membacanya. Ibnu Katsir pengertian wa qur‘ânahu adalah an taqra‘ahu (kamu dapat membacanya).[16] Ibnu Abbas ra. memaknainya: menjadikan kamu bisa membacanya sehingga tidak lupa.[17]

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Hingga kamu membacanya sesudah Kami mengumpulkannya di dadamu.”[18]

Az-Zamakhsyari, azy-Syaukani, al-Qinuji dan al-Zuhaili berkata, “Mengokohkan bacaannya dalam lisanmu.”[19]

Ayat ini pun menegaskan kepada Rasulullah Saw. bahwa Allah SWT menjamin untuk menghimpun Al-Qur’an dalam dadanya, sehingga tidak akan lupa dan hilang, dan beliau pun dapat membacanya dengan benar. Karena telah mendapatkan jaminan dari Allah SWT, maka beliau tidak perlu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an hingga selesai dibacakan secara tuntas kepada beliau.

Kemudian dilanjutkan dalam ayat berikutnya: Fa’idza qara’nahu fattabi’ qur’anah (Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu). Ayat menerangkan, setelah Jibril selesai membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah Saw., barulah beliau diperintahkan untuk mengikutinya. Ibnu Katsir berkata, “Dengarkanlah terlebih dulu, kemudian bacalah sebagaimana diajarkan oleh malaikat itu kepadamu.”[20]

Wahbah az-Zuhaili, “Artinya, dengarkanlah bacaannya! Rasulullah Saw. mendengarkan, kemudian membacanya dan mengulang-ulang bacaannya hingga menancap dalam hatinya.”[21]

Ada pula yang menafsirkan bahwa yang diperintahkan untuk diikuti isi dan kandungan ayatnya. Menurut mereka, ayat ini bermakna: Ketika dibacakan atas kamu, maka ikutilah syariat dan hukum yang ada di dalamnya.[22] Qatadah berkata tentang ayat ini, “Ikutilah yang halal dan jauhilah yang haram.”[23] Qatadah dan adh-Dhahhak berkata, “Ikutilah perintah-perintah dan larangan-larangan.”[24]

Hanya saja, menurut ulama yang memilih penafsiran pertama, itu lebih sesuai dengan konteks ayat ini. Menurut Fakhruddin ar-Razi, Rasulullah Saw. diperintahkan untuk tidak membaca dan mendengarkan dulu dari Jibril hingga Jibril menyelesaikan bacaannya. Dengan demikian tema perintah dalam ayat ini bukan mengikuti apa yang ada di dalamnya berupa halal dan haram.[25]

Lalu dilanjutkan dengan firman-Nya: Tsumma inna ‘alayna bayanah (Kemudian, sungguh atas tanggungan Kamilah penjelasannya). Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT juga memberikan bayân atau penjelasan kepada Rasulullah Saw. Menurut Ibnu Katsir, “Artinya, sesudah engkau hapal dan engkau baca, maka Kami akan menjelaskan dan menerangkannya kepadamu serta memberimu ilham mengenai maknanya sesuai dengan apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan.”[26]

Ibnu Abbas berkata, “Halal dan haramnya, itulah penjelasannya.”[27] Qatadah berkata, “Penjelasan halalnya, menjauhi haramnya, maksiat dan taatnya.”[28] Al-Qurthubi juga meriwayatkan dari Qatadah yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah tafsir atau penjelasan tentang apa yang ada di dalamnya berupa hudud (batasan, hukum had), yang halal, dan yang haram.”[29] Al-Qinuji berkata, “Tafsir penjelasan terhadap apa yang di dalamnya, berupa yang halal dan yang haram serta penjelasan semua maknanya yang bermasalah.”[30] [MNews/Rgl]

Bersambung ke bagian 2/2

One thought on “Seputar Al-Qur’an (Tafsir QS al-Qiyamah [75]: 16-19) Bagian 1/2

Tinggalkan Balasan