[Sirah Nabawiyah] Menghentikan Sepak Terjang Yahudi Bani Quraizhah

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Memerangi Bani Quraizhah adalah salah satu dari rangkaian peperangan Nabi Muhammad Saw. menghadapi kabilah-kabilah Yahudi di Madinah. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-5 H yang dipicu dilanggarnya perjanjian oleh kabilah Yahudi Bani Quraizhah.

Latar Belakang Memerangi Bani Quraizhah

Pemicu utama terjadinya perang antara pasukan Islam melawan Bani Quraizhah adalah adanya perjanjian yang dilanggar Bani Quraizhah. Mereka membantu dan bekerja sama dengan kaum Musyrikin dalam menghadapi pasukan Islam dalam perang Ahzab.

Sewaktu pasukan Musyrikin mulai mendekati Madinah, Huyai bin Akhthab, salah seorang pembesar Yahudi Bani Nadhir mendampingi utusan kafir Quraisy untuk menemui pembesar Bani Quraizhah dan kemudian menyepakati terjadinya kerja sama antara pasukan kafir Quraisy dengan Bani Quraizhah untuk berperang melawan kaum Muslimin.

Sewaktu berita tersebut sampai ke telinga Nabi Muhammad Saw., beliau segera memerintahkan sejumlah sahabat seperti Sa’ad bin Mu’adz, Sa’ad bin Ubadah, dan Asid bin Hadhair untuk meneliti kebenaran berita tersebut.

Ketika Bani Quraizhah ditemui sejumlah sahabat tersebut, mereka mengatakan sesuatu yang menunjukkan sikap tidak hormat mereka kepada Nabi Muhammad Saw. dan mengingkari adanya perjanjian dengan kaum Muslimin sebelumnya.

Berdasarkan letak geografis pemukiman Bani Quraizhah yang strategis, mereka mampu melakukan serangan mematikan kepada kaum Muslimin dari arah belakang ketika kaum Muslimin baru menyelesaikan perang Khandak.

Oleh karena itu, adanya pengkhianatan dan perjanjian yang dilanggar Bani Quraizhah sangat berpengaruh terhadap kekuatan pasukan kaum Muslimin.

Diriwayatkan dari Abu Bakar mengenai ancaman dan bahaya dari Bani Quraizhah, “Kami berada di Madinah untuk menjaga keamanan kaum perempuan dan anak-anak. Kami lebih khawatir pada serangan Bani Quraizhah dibandingkan dari Quraisy dan Ghathfan.”

Oleh karena itu, Nabi Saw. pada hari, setelah berhasil mengalahkan musuh di Perang Khandak, Beliau segera mengumumkan untuk memerangi Bani Quraizhah.

Menyerang Bani Quraizhah

Tidak lama setelah pagi hari itu mereka sampai di Madinah sekembalinya dari perang Khandak, Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja mendengar dan patuh, janganlah melaksanakan salat asar kecuali di bani Quraizhah.”

Rasulullah Saw dan pasukannya mengepung Bani Quraizhah selama lima belas hari. Bani Quraizhah mengirim Sya’sa bin Qais untuk berunding dengan Rasulullah Saw.. Mereka meminta agar diperlakukan sebagaimana Bani Nadhir.

Bani Nadhir menyerahkan harta benda dan kekayaan mereka kepada kaum Muslimin dan meninggalkan kota Madinah. Namun, Nabi Muhammad Saw. menolak tawaran Bani Quraizhah dan memutuskan untuk memerangi mereka yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

Keputusan untuk Bani Quraizhah

Nabi Muhammad Saw. menyerahkan urusan Bani Quraizhah ke tangan Sa’ad bin Muadz, kepala kabilah Bani Abdu Asyhal, seorang pembesar dari kabilah Aus. Bani Quraizhah berharap Sa’ad bin Muadz bisa memberikan hukuman yang lebih ringan mengingat kedekatan suku Aus dengan Bani Quraizhah sebelum periode Islam.

Namun, Sa’ad bin Muadz tetap berpegang pada butir perjanjian antara Bani Quraizhah dengan Nabi Muhammad Saw. sebelum perang, bahwa barang siapa yang melakukan perlawanan kepada Nabi Muhammad Saw., maka hukumannya adalah mati, kaum perempuan dan anak-anaknya menjadi tawanan.

Sa’ad bin Mu’adz berkata, “Tentang Bani Quraizhah ini, aku memutuskan untuk membunuh mereka yang laki-laki, membagi-bagi kekayaan mereka, dan menawan anak-anak dan kaum perempuan mereka.”

Rasulullah Saw. bersabda kepada Sa’ad, “Sungguh, kamu telah memberi keputusan kepada mereka sesuai hukum Allah yang datang dari atas langit lapis ketujuh.”

Allah SWT berfirman di dalam surah Al Anfal ayat 56 dan 57, juga di dalam Al-Qur’an surah Al Ahzab ayat 26 dan 27 berkenaan dengan perang Bani Quraizhah ini.

“(Yaitu) orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, kemudian setiap kali berjanji mereka mengkhianati janjinya, sedang mereka tidak takut (kepada Allah). Maka jika engkau (Muhammad) mengungguli mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, agar mereka mengambil pelajaran.” (QS Al Anfal: 56-57).

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.” (QS Al Ahzab: 26-27).

Harta rampasan perang dari Bani Quraizhah sangat banyak dan dibagikan kepada kaum Muslimin. Untuk pertama kalinya dibedakan besar harta yang dibagikan untuk pasukan penunggang kuda dengan pejalan kaki. Penunggang kuda mendapat dua bagian sementara pejalan kaki mendapat satu bagian.

Jelaslah bagaimana keputusan strategis yang diambil Rasulullah Saw. sebagai kepala negara Madinah terhadap kelompok atau institusi yang melanggar perjanjian dengan negara Madinah. Keputusan yang akan menguatkan kaum muslimin di dalam negeri dan menambah pengaruh ketegasan Negara Madinah di mata umat dan bangsa di dunia kala itu. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw./ Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji/Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *