Mencintai Rakyat, Serius Dunia dan Akhirat?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang mencintai rakyat dan rakyat pun mencintainya. Dalam benaknya hanya ada pikiran bagaimana caranya agar rakyat hidup sejahtera, bukan bagaimana caranya mendapat keuntungan yang banyak.

Siang hingga malam mereka mendedikasikan diri untuk memenuhi keperluan rakyat. Itulah pemimpin yang dicintai dengan penuh rasa hormat.

Tetapi, akan berbeda ceritanya jika pemimpin justru hanya mementingkan keuntungan di tengah kondisi penderitaan rakyat. Bukan rakyat yang diperhatikan, tapi justru yang lainnya. Sebuah kabar yang membuat geger dunia maya selain bencana jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Seperti yang telah diketahui khalayak umum, saat ini pandemi masih menyelimuti negeri ini. Salah satu dampak yang paling kentara adalah anjloknya perekonomian negeri. Perekonomian yang merosot ini menyebabkan berbagai masalah dalam masyarakat. Mulai dari PHK massal hingga kelaparan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya realitas untuk menyelesaikannya.

Alih-alih memaksimalkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah di bumi nusantara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan meminta adanya upaya pemulihan ekonomi melalui pariwisata. Jalannya bukan dengan membangun hotel, tapi dengan memperbaiki suvenir dengan melibatkan UMKM. Selain itu juga memperbaiki WC tempat wisata. (kompas.com, 9/1/21).

Menanggapi permintaan itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno langsung turun tangan. Sebagai reaksi menjawab permintaan Luhut, dibentuklah tin khusus Satuan Tugas (Satgas) Toilet Nasional. Tugas dari Satgas ini mengadakan peninjauan dan memperbaiki WC yang ada. Pariwisata utama yang diperhatikan adalah lima destinasi prioritas (travel.detik.com, 9/1/21).

Rakyat Sedang Sengsara

Bagaimana dengan keadaan rakyat saat ini? Di tengah masa pandemi, ternyata kondisi rakyat semakin tak menentu. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai dampak dari pandemi begitu luar biasa. Benar saja, hingga Oktober 2020 kemarin, Kamar Dagang dan Industri mencatat ada sekitar 6,4 juta jiwa yang di-PHK. Ini baru yang tercatat, korban PHK bagaikan bola salju yang terus menggelundung. Akan semakin bertambah.

Bagaimana dengan tingkat kemiskinan di negeri ini? Sebagaimana data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2020. Jumlah penduduk miskin naik menjadi 26,42 juta jiwa. Data ini naik 1,63 juta jiwa jika dibandingkan September 2019. Garis kemiskinan di bulan Maret 2020 juga naik, sebesar 3,2% dari bulan September 2019. Dengan pendapatan Rp454.650,- per bulan.

Jika pendapatan penduduk di atas garis kemiskinan, misalnya Rp500.000,- per bulan, maka penduduk tersebut tidak bisa dikatakan miskin. Pertanyaannya, cukupkah penghasilan sebesar itu untuk membiayai kebutuhan selama sebulan?

Biaya tempat tinggal (kalau yang tak punya rumah), makan, sekolah, transportasi, susu anak (kalau yang punya balita), hingga perlengkapan hidup lainnya diperoleh dari satu pendapatan saja. Secara logika pendapatan segitu tak akan cukup menutupi semua kebutuhan.

Bagaimana dengan penduduk miskin? Jangankan untuk biaya sekolah atau beli pakaian, bisa untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tak heran juga jika masalah stunting masih menghantui negeri ini.

Jebakan Kapitalis

Sangat disayangkan, saat mengurusi masalah WC tempat pariwisata, langsung tanggap, tapi ketika berurusan dengan masalah memenuhi kebutuhan rakyat, tak secepat kilat.

Sebut saja bagaimana mengatasi masalah kenaikan kedelai impor yang cukup membuat pusing kepala masyarakat. Sampai-sampai tempe dan tahu yang bahan dasarnya kedelai sempat kosong di pasaran, karena para produsen mogok kerja akibat kenaikan harga kedelai.

Lalu penanganan wabah corona dan gonta-ganti kebijakan yang lamban membuat rakyat menelan pil pahit. Sebagaimana yang kita ketahui sekarang, pandemi masih terus berjalan dan korban masih banyak yang berjatuhan. Bagaimana bisa dikatakan rakyat lebih dicintai? Mungkin memang benar mencintai rakyat. Tapi rakyat tertentu yang menghasilkan uang yang jadi sorotan utama.

Pariwisata adalah tempat orang berlibur. Apakah semua rakyat akan pergi berlibur di masa saat ini? Tentu hanya orang-orang yang berdompet tebal yang melakukannya. Boro-boro untuk berlibur, untuk biaya makan sehari-hari saja susah.

Selain itu, usaha memprioritaskan perbaikan pariwisata melalui WC ditujukan untuk menarik wisatawan. Agar pendapatan negara tetap mengalir dan untuk mengembalikan pemulihan ekonomi. Apakah sumber pendapatan negara hanya berasal dari pariwisata saja? Bukankah negeri ini memiliki SDA yang melimpah?

Kenyataan SDA yang melimpah memang benar. Sayangnya SDA yang masuk ke kas negara sangat sedikit. Pendapatan hasil pengelolaan SDA justru masuk ke perusahaan-perusahaan asing dan pribumi yang menguasai SDA tersebut. Hal ini terjadi karena privatisasi SDA. Oleh karena itu, negara harus mencari pendapatan lain untuk mengepulkan dapurnya. Salah satu yang dimanfaatkan adalah pesona keindahan Alam, yaitu bidang pariwisata.

Dalam pariwisata ini pun sebenarnya juga tak langsung digarap oleh negara. Negara bekerja sama dengan pihak swasta untuk pengembangan tempatnya. Akhirnya ketika pariwisata naik, yang diuntungkan adalah para pengusaha atau pengembang wisata tersebut. Rakyatnya dikemanakan?

Rakyat tetap harus mencari penghidupan sendiri. Mengais rezeki demi terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Jika mereka ingin berwisata pun harus menabung dahulu agar uangnya cukup.

Semua ini karena jerat kapitalis. Negara akhirnya kebingungan untuk mengurusi rakyatnya. Bilangnya cinta pada rakyat. Nyatanya lebih cinta pada konglomerat.

Islam Tak Pernah Bohong

Islam memiliki sebuah sistem pemerintahan yang unik. Sistem dini dibangun berdasarkan akidah Islam. Sehingga kebijakan apa pun yang dibuat akan didasarkan pada Islam. Sistem pemerintahan ini dikenal dengan nama Khilafah.

Khalifah sebagai pemimpin Khilafah bertindak sebagai pelayan umat. Mereka akan berusaha melaksanakan tugas dengan baik karena mereka paham semua amanah itu akan diminta pertanggungjawaban.

“Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi Saw., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, Khalifah akan berusaha memenuhi kebutuhan rakyatnya. Bahkan jika terjadi musibah, Khalifah akan memastikan seluruh kebutuhan rakyatnya terpenuhi. Baru setelah itu ia memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kebutuhan utama rakyat seperti sandang, pangan dan papan akan dipenuhi khalifah secara tidak langsung. Dengan membuka pintu lapangan kerja, rakyat akan memiliki pendapat. Sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Di sisi lain khalifah juga selalu menjaga ketersediaan barang. Pengawasan terhadap distribusi barang juga diperketat. Agar kestabilan harga terjaga dan rakyat tidak sengsara untuk mendapatkannya.

Kebutuhan rakyat lain seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan akan disiapkan negara. Dengan menyiapkan segala sarana dan prasarana, khalifah akan memberikan pelayanan gratis.

Pembiayaannya berasal dari kas Baitulmal. Kas tersebut diperoleh dari pemasukan fai’, kharaj, jizsyah, hingga pengelolaan SDA.

Khilafah tidak membenarkan adanya privatisasi pengelolaan SDA. Seluruh pengelolaannya dilakukan negara, sehingga negara tak perlu mengandalkan sektor wisata sebagai sumber pendapatan utama.

Khilafah akan bertindak sebagai pengayom rakyat. Rakyat akan lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi atau privatisasi. Karena bagi khalifah kecintaannya pada rakyat adalah hal utama dan pertama. Semua itu dilakukan atas landasan iman. Dan akan diminta pertanggungjawaban dunia akhirat. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Mencintai Rakyat, Serius Dunia dan Akhirat?

  • 14 Januari 2021 pada 12:54
    Permalink

    Kapitalis mengurus rakyatnya dengan mengambil manfaat dr rakyat. Tidak gratis maka kesengsaraan bagi rakyat krn tdk terpenuhi kebutuhan primernya yg mjd tanggung jwb negara. Islam dengan aturannya yg jelas sesuai syariat-Nya telah terbukti mengurusi rakyat dengan sebaik2nya. Krn pemimpinnya amanah dan berdedikasi penuh utk kesejahteraan rakyatnya.

Tinggalkan Balasan