Keluarga Muslim, Cinta Nabi Cinta Syariah

Oleh: Ustazah Asma Amnina, S.E.

MuslimahNews.com, FOKUS — Keluarga adalah unit terkecil suatu masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Tanpa keluarga, seseorang akan merasa ada yang kurang dan hilang dalam hidupnya, terutama rasa kasih sayang.

Dengannya, masing-masing anggota keluarga akan merasakan kehangatan ketika saling berinteraksi dalam memerankan fungsi dan tanggung jawabnya, hingga terealisasi hak dan kewajiban atas mereka.

Kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw. bersama keluarganya merupakan teladan terbaik bagi setiap muslim dan muslimah. Terhadap teladan ini, kita berkewajiban mengambil hikmah dan pelajaran bagaimana mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah dalam tuntunan syariat Islam kafah.

Rasulullah Saw. bergaul dalam suasana persahabatan bersama istri-istri beliau dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Begitu pun sikap beliau terhadap anak-anak beliau, juga dipenuhi dengan kelembutan dan kasih sayang.

Ibnu Majah meriwayatkan Nabi Saw. pernah bersabda, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada istri-istrinya.”

Keluarga Muslim Taat Syariat

Secara individu, setiap muslim dalam perannya masing-masing (sebagai individu, anak, suami/istri, ibu/ayah, atau sebagai anggota masyarakat) diharuskan memiliki pemahaman yang benar berkaitan dengan hukum Islam, termasuk hukum-hukum keluarga, dan wajib terikat dengannya sebagai konsekuensi iman.

Kecintaan keluarga muslim terhadap Nabi terwujud dalam bentuk ittiba’ Rasul pada kehidupan keluarganya, yakni masing-masing anggota keluarga menjalankan perannya sesuai tuntunan syariat.

Islam sebagai agama yang sempurna, telah memberikan aturan khusus kepada suami dan istri (ayah dan ibu) untuk mengemban tanggun jawab dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala (qawwam) keluarga, dan istri sebagai ibu (ummun) bagi anak-anaknya dan pengatur rumah (rabbatul bait) suaminya.

Peran suami/ayah sebagai pemimpin keluarga berkewajiban untuk melindungi dan menafkahi seluruh anggota keluarganya. Ia laksana nakhoda yang akan mengendalikan ke mana bahtera rumah tangga akan dikemudikan.

Ia juga berkewajiban menjaga keluarganya dari segala bahaya dan ancaman apa pun, hingga selamat dari ancaman api neraka. Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita,” (QS an-Nisaa 4: 34); dan, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (QS At-Tahrim 66: 6).

Memahami ayat tersebut, Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allah dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah, dan perintahkan keluargamu dengan zikir, niscaya Allah azza wa jalla akan menyelamatkanmu dari neraka.”

Mujahid rahimahullah berkata tentang firman Allah, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Bertakwalah kepada Allah, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.”

Allah SWT mewajibkan seorang ayah sebagai penanggung jawab nafkah keluarga. Tentu seorang ayah akan bahagia kalau mendapatkan rezeki yang halal dan mampu menafkahi keluarganya dengan cara yang makruf.

Rezeki ini akan membahagiakan jika keluarganya senantiasa bersyukur. Karena itu, seorang ayah wajib mendidik anak-anak dan istrinya agar pandai bersyukur.

Tidak sedikit ayah yang dibuat sedih karena tanggungan nafkah yang berat, bahkan akhirnya mendorong dia melakukan korupsi, kecurangan, dan utang riba. Lebih dari itu, ada yang sampai stres karenanya hingga bunuh diri.

Semua itu karena tidak adanya jaminan lapangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan pokok oleh negara dalam sistem kapitalisme saat ini. Lebih-lebih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak pada banyaknya keluarga yang semakin tidak mampu hidup layak.

Adapun seorang ibu, ia memiliki peran penting dalam keluarga dengan mendidik anak-anak taat syariat. Ibu mengajarkan syariat Islam tanpa pilih dan pilah, sehingga anak paham Islam kafah harus diterapkan.

Dengan perannya ini, seorang ibu telah memberikan sumbangan besar dalam menyiapkan, mendidik, dan memelihara generasi umat agar tumbuh menjadi individu-individu saleh-salihah, yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.

Keluarga Muslim Peduli Kondisi Umat

Keluarga adalah bagian dari masyarakat, bangsa, dan negara. Ia tidak bisa menutup mata dengan realitas kehidupan yang jauh dari syariat. Akibatnya muncul berbagai problem kehidupan. Ancaman kerusakan generasi di depan mata meski di keluarga sudah dididik taat syariat. Sebab, di luar sana tidak ada jaminan anak-anak akan aman dari ancaman pergaulan bebas, narkoba, dan lainnya.

Melihat kondisi demikian, maka yang dibutuhkan saat ini bukan hanya keluarga yang taat syariat, namun juga masyarakat yang taat syariat.

Masyarakat taat syariat akan terwujud apabila berada dalam naungan sistem yang menerapkan syariat, yaitu negara Khilafah. Oleh karena itu, keluarga muslim juga harus terlibat dalam upaya perbaikan masyarakat untuk tegaknya Islam kafah dan institusi Khilafah yang akan menerapkan syariat kafah.

Profil keluarga muslim seperti itulah yang diajarkan Islam. Karenanya, ketika ada tuduhan keluarga muslim pangkal radikalisme karena menerapkan syariat Islam dalam rumah tangganya dan mengajarkan anak-anaknya dengan Islam kafah, itu adalah tuduhan yang tidak berdasar.

Tuduhan tersebut justru akan mengarahkan keluarga menjadi moderat; yakni dalam persoalan ruhiyah taat dalam beribadah, namun dalam persoalan syariat yang lain yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara, abai disebabkan merasa nilai-nilai Islam telah diterapkan dalam tatanan demokrasi saat ini.

Padahal realitasnya, justru saat ini syariat Islam dijauhkan dari kehidupan. Tuduhan radikalisme pada keluarga yang taat syariat dan mengajarkan Islam kafah pada anak-anak sejak dini jelas merupakan fitnah yang sangat keji.

Pasalnya, Islam justru memerintahkan bahkan mewajibkan setiap orang tua khususnya ibu sebagai pendidik generasi, sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya, mengajarkan syariat Islam kafah dan membiasakan anak-anak dan keluarganya hidup dalam balutan syariat Islam.

Di saat persoalan masyarakat, bangsa, dan negara yang begitu kompleks—mulai dari persoalan akidah, pergaulan, pendidikan, ekonomi, hukum, hingga politik dalam dan luar negeri—, maka menganggap radikalisme sebagai permasalahan utama negara adalah suatu keputusan dan kebijakan yang salah.

Ditambah lagi dengan menjadikan ibu (perempuan) sebagai pihak yang turut dipersalahkan karena menjalankan peran dan tanggung jawabnya dalam mendidik putra-putrinya agar berkepribadian Islam secara kafah.

Berbagai persoalan yang membelit negeri ini sejatinya bukan persoalan radikalisme, namun tatanan kehidupan yang jauh dari syariat Islam karena penerapan sistem demokrasi itulah yang menjadi pangkal persoalan negeri ini. Termasuk banyaknya keluarga muslim yang hidup tidak ideal sebagaimana tuntunan Nabi Saw., juga disebabkan sistem demokrasi ini.

Oleh karena itu, keluarga muslim harus mencintai Nabi Saw. dengan menaati syariah (syariat) dalam kehidupan domestik mereka, serta peduli terhadap persoalan umat. Keluarga muslim akan terlibat aktif dalam perbaikan menuju masyarakat taat syariat dalam naungan Khilafah. Allahu Akbar! [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *