Berkah Generasi Muda, Modal Besar Membangun Peradaban Islam

Oleh: Chusnatul Jannah

 MuslimahNews.com, OPINI — Dalam setiap peradaban, sumber daya manusia tentu sangat menentukan. Negara yang berhasil membangun manusia unggul, maka dia sedang menyiapkan masa depan cerah. Seorang filsuf Cina, Confucius, pernah mengatakan, “Jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun, tumbuhkanlah (didiklah) manusia.”

Baik buruknya sebuah peradaban memang dipengaruhi dari unggul tidaknya sumber daya manusia. Dalam hal ini, tahun 2020-2030 Indonesia memasuki bonus demografi. Yaitu, suatu kondisi di mana jumlah penduduk produktif atau angkatan kerja (usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk yang tidak produktif (di bawah 5 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada rentang waktu tersebut, diperkirakan penduduk usia produktif Indonesia akan mencapai 70 persen. Jika dipandang dengan kacamata kapitalis liberal, bonus demografi akan menjadi ‘berkah’ bagi korporasi.

Sebab, angkatan kerja produktif yang mendominasi jumlah penduduk bisa terserap pada pasar kerja secara baik. Sebaliknya, bonus demografi menjadi bencana demografi jika angkatan kerja tidak terserap pasar kerja dengan baik. Dengan alasan berkah inilah, kurikulum SMK diarahkan untuk mengisi sektor industri dan dunia kerja. Bonus demografi bagi korporasi bagai mendapat durian runtuh.

Bonus Demografi, Berkah untuk Islam

Jika kita memandang bonus demografi dengan kacamata Islam, tentu bukan sekadar bagaimana generasi muda produktif bekerja sebagaimana pandangan kapitalis. Namun, lebih dari itu, keberkahan usia produktif adalah salah satu modal besar dalam membangun sebuah peradaban.

Ada perbedaan makna kata “produktif” menurut kapitalis dan Islam. Bagi kapitalis, produktif adalah kreatif menghasilkan uang, totalitas dalam bekerja, dan mandiri dalam berwirausaha. Sementara bagi Islam, produktif adalah totalitas mengambil peran dunia dan akhirat. Dalam Islam, generasi muda bukan sekadar kerja dan mengumpulkan harta.

Namun, ia menyadari betul perannya sebagai hamba Allah. Kewajiban dunia dan akhirat harus berjalan seimbang. Seperti aktivitas dakwah, membina umat, dan berjuang untuk menegakkan hukum Allah agar diterapkan di muka bumi.

Di balik gemilang dan hancurnya peradaban, selalu ada peran pemuda di sana. Sebab, di situlah rahasia bagaimana sebuah peradaban itu dibangun. Hasan al Banna pernah mengatakan, “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia mana pun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya.”

Terlalu banyak potensi Indonesia yang diabaikan penguasa negeri ini. Dari sumber daya alamnya yang melimpah, potensi agrarianya, hingga para pemudanya. Generasi muda hanya diarahkan bagaimana meraih materi sebanyak-banyaknya. Peran mereka tergerus oleh sistem yang serba kapitalistik. Hal ini berjalan bersama potret rusaknya karakter dan moral  generasi.

Generasi muda dengan gaya hidup serba hedonis, permisif, dan sekularis. Ditambah, tumpulnya pemikiran mereka. Mereka mudah termakan narasi-narasi negatif yang menambah beban bagi kebangkitan Islam. Seperti radikalisme, pluralisme, sekularisme, liberalisme, dan lainnya.

Potensi pemuda sebagai pelopor perubahan mestinya diberdayakan untuk membangun peradaban Islam. Bila sistem hari ini tak kunjung memberi penghidupan yang lebih baik, bukankah saatnya bagi kita merumuskan kembali hakikat membangun masa depan cerah?

Masa depan itu adalah Islam. Dengan segudang keunggulan sistemnya, solusi Islam sebagai jawaban atas segala persoalan tidaklah berlebihan. Sebagaimana janji Allah yang termaktub dalam surat An Nur ayat 55 yang artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Peran Pemuda dalam Islam

Imam Syafi’I pernah berkata, “Hayaatu al-fata bil ‘ilmi wa at-tuqa.” (hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa). Ada tiga kata kunci penting yang dapat digali dari ungkapan tersebut, pertama kata dari “pemuda”, yang kedua “ilmu”, dan yang terakhir adalah “takwa”.

Tiga kata kunci ini harus menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun para pemuda dengan ilmu tinggi yang diiringi dengan ketakwaan, sehingga diharapkan dapat menjadi aset bangsa  penggerak ke arah perubahan lebih baik.

Dengan ilmu dan takwa itulah, Rasulullah Saw. berhasil mendidik dan membina para sahabat sebagai pejuang Islam yang tangguh. Di masa Islam, pemuda memainkan peranan penting dalam fondasi peradaban Islam

Peran itu terwujud dalam profil mereka di lintas sejarah. Di masa Rasulullah Saw., ada Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih berusia belia, berani menggantikan posisi Rasulullah Saw. untuk mengecoh kaum Quraisy yang hendak mengepung rumah  beliau. Peristiwa itu terjadi saat Rasul memutuskan hijrah ke Madinah.

Ada pula sosok Mush’ab bin Umair yang menjadi duta Islam di Madinah. Beliau diutus Rasul untuk mengenalkan dan mengajarkan Islam ke penduduk Madinah. Hasilnya berupa Baiat Aqabah kedua yang menjadi cikal bakal berdirinya Daulah Islam di Madinah.

Ada sosok Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun dipercaya Rasulullah untuk memimpin pasukan yang di dalamnya ada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Pasukannya berhasil dengan gemilang mengalahkan tentara Romawi.

Tokoh militer Islam yang dijuluki “singa yang kukunya tajam”, Sa’ad bin Abi Waqash masuk Islam di usia 18 tahun. Sa’ad adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ia ditunjuk menjadi panglima kaum Muslim di Irak dalam perang melawan Persia pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Ada Atab bin Usaid diangkat menjadi gubernur Makkah pada usia 18 tahun.

Di masa Kekhilafahan Islam juga banyak melahirkan para Imam dan ilmuwan yang hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Ada Imam Syafi’i, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Farabi, dll. Ibnu Rusyd misalnya, seorang ilmuwan sains dan kedokteran yang terkenal di Andalusia (Spanyol), ternyata waktu kecilnya dihabiskan untuk belajar berbagai disiplin ilmu: Al-Quran, tafsir, hadis, dan fikih.

Begitu luar biasa pemuda Islam dalam asuhan sistem Islam kafah. Kekhilafahan Islam kala itu berhasil menguasai dua pertiga dunia. Peradabannya bertahan selama 13 abad. Muhammad Al Fatih adalah satu di antara gemilangnya sistem pendidikan Islam membina dan mendidik generasi mudanya sebagai sosok fenomenal.

Sosok-sosok mereka tak akan kita temukan di peradaban kapitalisme. Berbagai disiplin ilmu mereka tekuni. Namun, di sistem sekuler kapitalis, generasi ini hanya menjadi batu loncatan untuk mendukung program korporasi. Yakni berdaya guna dalam industri.

Dalam surah Ali Imran ayat 140 yang artinya, “…. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Peradaban demokrasi kapitalis sudah menunjukkan tanda kematiannya. Bukankah sudah saatnya kini giliran Islam tampil sebagai peradaban unggul di pentas dunia? Tentu dimulai dari generasi mudanya. Pemuda, jadilah pelopor perubahan, promotor kebaikan Islam, dan pionir kebangkitan. Indonesia dan dunia berkah dengan Khilafah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *