Penyerbuan Capitol Hill: Polarisasi Politik dan Sinyal Kehancuran Amerika

Oleh: Ragil Rahayu, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI — Amerika Serikat (AS) geger. Gedung Kongres Capitol Hill di Washington DC diserbu massa pendukung Donald Trump pada Rabu (6/1/2021) petang.

Kondisi di sekitar gedung tampak mencekam. Beberapa ribu personel Garda Nasional, agen FBI, dan Secret Service dikerahkan untuk membantu pengamanan (bbc.com, 8/1/2021).

Sidang yang digelar Kongres AS untuk mengesahkan kemenangan Joe Biden pada pemilihan presiden terpaksa dihentikan. Kerusuhan ini berakhir menjelang jam malam pada 18.00 waktu setempat. Kongres kembali bekerja dan akhirnya Joe Biden dikukuhkan menjadi presiden AS terpilih menggantikan Trump.

Disintegrasi Filosofi dan Kultur

Penyerbuan Gedung Kongres Capitol Hill merupakan penolakan terhadap pengukuhan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden. Setelah petinggi Demokrat menyerukan pencopotan Trump dari jabatannya, akhirnya pada Kamis (7/1/2021) Trump mengakui kemenangan Biden.

Apa yang terjadi di Amerika Serikat sangat mencengangkan dunia. AS merupakan negara yang dianggap telah “matang” dalam berdemokrasi, tapi penolakan hasil pemilu justru ditempuh melalui langkah-langkah yang tidak demokratis. Kerusuhan ini menjadi catatan hitam atas perjalanan demokrasi di negara kampiun demokrasi ini.

Kerusuhan Rabu merupakan wujud tajamnya polarisasi dalam politik Amerika Serikat antara Partai Republik dan Demokrat. Diketahui bahwa jagat politik AS oleh dua partai besar tersebut. Saat ini terjadi perbedaan yang signifikan di antara keduanya dalam menafsirkan visi Amerika.

Polarisasi antara Demokrat dan Republik menjadikan keduanya berada pada kubu yang berseberangan. Keduanya sama-sama melakukan serangan politik dan saling menjatuhkan. Sikap tak akur ini tentu kontraproduktif bagi Amerika, karena bisa mengarah pada disintegrasi (berpecah belah).

Dalam buku How to Destroy America in Three Easy Steps, politisi dan kolumnis AS Ben Saphiro memaparkan Amerika akan hancur jika mengalami disintegrasi pada filosofinya (ideologi), kulturnya (kebiasaan yang mengakar kuat), dan historinya.

Partai Republik menuding yang hendak menghancurkan AS itu bukan orang luar, tapi orang Amerika sendiri, yaitu Partai Demokrat. Obama (sebagai manifestasi Demokrat) dianggap sebagai biang kerok kehancuran AS.

Kedua partai itu berbeda secara tajam pada persoalan mendasar yaitu tentang hak warga negara, kesamaan di depan hukum, dan peran negara. Perbedaan filosofi ini menghasilkan perseteruan lebih lanjut terkait aspek cabang seperti masalah aborsi, pernikahan sejenis, kepemilikan senjata api, pajak progresif, dan lain-lain.

Republik yang konservatif memandang hak asasi warga negara bersifat alami, pemberian dari Tuhan yang diperoleh sejak lahir. Sehingga tugas negara adalah sebatas menjaga hak asasi tersebut.

Sementara Demokrat memandang hak warga negara adalah pemberian negara. Dalam pandangannya, negara adalah pihak yang mewujudkan hak asasi tersebut.

Perbedaan pandangan politik ini menjadikan Republik dan Demokrat seperti air dan minyak yang tidak pernah bisa akur. Terjadilah polarisasi politik yang sangat kental. Dalam kasus pemilihan presiden, Republik menuduh Demokrat mencuri demokrasi secara curang, sementara Demokrat menilai Trump tidak mau melepas jabatannya secara demokratis.

Kubu Trump yakni Republik, menganggap partainya adalah kubu Unionist, yaitu kubu yang menyatukan dan memperkuat bangsa. Partai Republik menganggap dirinyalah yang selama ini menjaga filosofi Amerika, hak-hak asasi warga negara dan kesetaraan di depan hukum.

Sebaliknya, Demokrat adalah kubu yang menghancurkan hak asasi dan menganggapnya tidak ada dengan menjadikan negara sebagai institusi yang mewujudkan hak asasi.

Patut kita ingat, dua kubu ini sama-sama masih berpegang teguh pada sekularisme. Sehingga meski berseteru, keduanya tetap tsiqah pada filosofi dasar yang tercantum dalam deklarasi kemerdekaannya.

Persoalan utamanya justru terletak pada isi deklarasi kemerdekaan ini yang memang salah sejak kelahirannya, yaitu terkait konsep hak asasi manusia (HAM). Konsep ini menjadikan manusia memiliki kedaulatan untuk menentukan benar-salah, sehingga ide kebebasan menjadi pilar penegak HAM.

Ide kebebasan menjadikan siapa pun berhak untuk membuat standar kebenaran. Ketika ada dua kubu yang berbeda dalam menilai kebenaran, sementara tidak ada standar baku, yang terjadi adalah konflik tak berkesudahan, sebagaimana yang terjadi di AS.

Konflik antara Republik dan Demokrat saat ini bukanlah fakta baru dalam sejarah Amerika. Dalam buku karya Howard Zinn, People’s History of the United States, terungkap bahwa sepanjang sejarah Amerika selalu melahirkan hierarki, antara penakluk dan yang ditaklukkan, tuan dan budaknya, serta pengusaha dan buruhnya.

Tampak bahwa Amerika yang selalu mencitrakan diri sebagai polisi dunia, sejatinya rapuh secara internal.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT,

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut: 41)

Pelajaran bagi Umat Islam

Apa yang terjadi pada negara Amerika bisa menjadi pelajaran bagi kita. Umat Islam memang dijanjikan oleh Allah SWT akan berkuasa sebagaimana dalam firman-Nya,

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS an Nuur: 55)

Namun umat Islam saat ini terdiaspora di lebih dari 50 negara bangsa. Umat Islam besar dari sisi jumlah, namun lemah laksana buih. Tak hanya lemah, umat bahkan menjadi makanan yang diperebutkan musuh-musuhnya.

Rasulullah Saw. bersabda, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” “Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung.” (HR Abu Dawud 3745)

Berkaca dari konflik yang terjadi di AS, jika ingin kuat, umat Islam harus memiliki kesatuan filosofi, kultur dan histori. Dengan kata lain, memiliki kesatuan mafahim (pemahaman), maqayis (standar/tolok ukur kebenaran), dan qanaat (keyakinan).

Untuk itu dibutuhkan dakwah yang bersifat pemikiran dan politik untuk menanamkan mafahim, maqayis, dan qanaat Islami. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *