[Lensa Daerah] Buton Industrial Park, Berbasis Investasi Asing Membuka Celah Penjajahan SDA

MuslimahNews.com, LENSA DAERAH — Potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Buton khususnya pertambangan mangan dan nikel, menarik perhatian investor asal Cina. Jika sebelumnya, investor Korea Selatan tertarik membangun pabrik perikanan terpadu di Kota Baubau, kini investor Cina mengincar potensi wilayah Kabupaten Buton.

Dua Investor asal Cina satu di antaranya Cina Machinery Engineering Corporation (CMEC) berencana membangun pabrik baterai Litium yang berlokasi di Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Ditengarai, tim akan datang menyurvei langsung lokasi pada bulan Maret mendatang (Surumba.com, 24/12/2020).

Berkenaan dengan itu, Bupati Buton La Bakry mengatakan, sangat antusias dan siap untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan termaksud melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan nikel untuk kesiapan bahan baku pabrik baterai maupun smelter nikel nantinya.

Pihaknya ini juga tak menafikan, bahwa potensi kekayaan alam yang bercokol di wilayah kekuasaannya itu, sudah saatnya mendapat sentuhan tangan investor untuk dikelola agar mendatangkan manfaat bagi penduduk setempat.

Untuk itu, di hadapan investor dan pemerintah, pihaknya blak-blakan mengungkap potensi alam wilayahnya yang memang sejak lama mengandung bahan galian bernama nikel dan mangan. La Bakry juga mengatakan, cadangan deposit nikel di wilayah ini lebih dari 100 juta ton jumlahnya. Sebuah nilai yang cukup besar mampu menghidupi pabrik yang akan dibangun oleh investor Tiongkok kelak.

“Pemerintah daerah menyambut baik rencana investasi tersebut dan akan menyampaikan juga kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Sebenarnya ini sudah dibahas bersama Asisten Deputi Kemenkomarves RI, dan bea cukai yang sangat mendukung rencana investasi tersebut,” jelas La Bakri, Kamis (24/12/2020).

La Bakry menambahkan, Buton juga siap menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan termasuk melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan nikel untuk kesiapan bahan baku pabrik baterai maupun smelter nikel.

SDA Buton Hingga Konsep Buton Industrial Park

Sejak tahun 1920-an, Belanda telah mengenal Buton sebagai daerah penghasil aspal. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Buton menyimpan 80 persen cadangan aspal dunia. Sisanya di temukan di Trinidad, Meksiko, dan Kanada

Sementara itu, pada tahun 2015, Nur Alam pernah mengungkapkan, bahwa kandungan aspal buton ada 3,8 miliar ton. Dari jumlah ini, maka total keuntungan yang akan diperoleh sebesar Rp2.301 triliun Nur Alam juga mengatakan, selain aspal, terdapat pula nikel dan emas di wilayah ini.

Selanjutnya pada tahun 2019 lalu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) merilis data identifikasi yang mana hasilnya, ada 10 potensi cadangan gas raksasa yang ada di Indonesia salah satunya bercokol di Buton (Buton Offshore) (publiksatu.com, 17/02/2020).

Kekayaan alam ini jelas saja menarik minat investor. Konsep pengembangan kawasan industri Buton yang digagas ini bernama Buton Industrial Park (BIP). Konsep ini disebut-sebut kelak akan membawa Buton khususnya Kecamatan Kapontori menjadi pusat pertambangan kota-daur ulang baterai. Segala keperluan industri di Pulau Buton pun akan dipusatkan di wilayah ini.

Di samping pabrik baterai, para investor Tirai Bambu ini juga berencana mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berlokasi di kawasan BIP ini.

Pembangunan ini akan dilakukan oleh Contemporary Ampere Technology (CTAL). Di mana Power plant 2 x 350 MW, akan didatangkan dengan sistem Built, Operate, Transfer (BOT).

Investasi, Gerbang Penjajahan SDA

Dalam sistem kapitalisme, investasi tak lebih merupakan alat bagi penjajah untuk menguasai aset strategis suatu wilayah. Melalui investasi, pihak investor dapat dengan mudah mengendalikan suatu negara bahkan mengintervensi kebijakan yang dirumuskan penguasa di negeri tersebut.

Nyaris semua regulasi dirumuskan sesuai pesanan investor baik melalui peraturan perundangan, mulai amandemen, konstitusi hingga pembuatan berbagai Undang-undang.

Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam mengemukakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara.

Investasi yang diberikan Cina sendiri diikat dengan berbagai syarat seperti adanya jaminan dalam bentuk aset, adanya imbal hasil seperti ekspor komoditas tertentu ke Cina hingga kewajiban negara pengutang agar pengadaan peralatan dan jasa teknis harus diimpor dari Cina.

Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen terbitan Rand Corporation, China’s Foreign Aid and Government Sponsored Investment Activities, disebutkan utang yang diberikan Cina mensyaratkan minimal 50 persen dari pinjaman tersebut terkait dengan pembelian barang dari Cina.

Lebih jauh lagi, penyerahan pengelolaan aset daerah pada pihak asing adalah bukti nyata ketidakmampuan negara mengelola secara mandiri aset dalam negeri. Alhasil, aset-aset strategis tersebut diserahkan kepada korporasi asing maupun swasta.

Melalui investasi ini, daerah akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan lokal/nasional, itu hanyalah mitos. Sebaliknya, Cost social maupun kerugian ekonomilah yang akan diperoleh sebagai dampak dari pengelolaan SDA berbasis bisnis.

Alhasil, SDA yang seharusnya dinikmati rakyat justru dijarah segelintir orang yang parahnya difasilitasi para penguasa. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *