[Editorial] Keluarga Muslim dalam Ancaman “Sipilis” Radikal

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Membangun keluarga ideal dalam sistem sekuler benar-benar bukan perkara mudah. Sistem yang jauh dari aturan Allah Ta’ala ini terbukti telah melahirkan berbagai krisis yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan keluarga, tak terkecuali keluarga muslim.

Sendi-sendi keluarga tampak makin rapuh. Terbukti kasus perceraian terus meningkat, bukan hanya dipicu faktor internal, tapi juga faktor eksternal. Beban ekonomi yang makin berat, stres massal yang kerap berujung pada kekerasan, krisis moral yang kian merajalela, dan sebagainya diakui menjadi pemicu keguncangan keluarga.

Kondisi ini telah berdampak nyata pada menurunnya kualitas generasi masa depan, baik dari sisi fisik, mental, maupun spiritual. Kasus gizi buruk, anak telantar, anak jalanan, dan anak putus sekolah jumlahnya terus meningkat. Begitu pun dengan dekadensi moral seperti pergaulan bebas, kekerasan, dan kriminalitas faktanya juga terus merebak.


ADALAH wajar jika fakta-fakta ini memunculkan kekhawatiran bagi mereka yang masih terpelihara sikap lurusnya (hanif). Mereka paham bahwa jika dibiarkan, kondisi ini akan mengancam peradaban umat Islam di masa depan. Terlebih, generasi hari inilah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan.

Maka kita melihat, arus kesadaran ini makin menguat di tengah umat sejalan dengan kian gencarnya aktivitas dakwah Islam. Umat kian paham bahwa akar dari semua persoalan berpulang pada bercokolnya sistem sekuler liberal yang dikukuhkan oleh sistem politik demokrasi yang diagung-agungkan sebagai sistem paling ideal.

Itulah mengapa upaya-upaya dakwah yang mengarah pada perubahan sistem makin mendapat tempat di tengah umat. Begitu pun dengan program-program penguatan peran dan fungsi keluarga muslim, makin hari makin menyeruak ke permukaan.

Majelis-majelis dakwah ideologis, pesantren-pesantren dan sekolah Islam terpadu, PAUD dan homeschooling berbasis Islam begitu diminati umat. Begitu pun perbincangan-perbincangan soal konstruksi Islam dalam menyelesaikan problem kekinian, kian marak di media sosial.


UMAT tampaknya mulai merasakan bahwa sistem politik yang tegak hari ini adalah problem dasar yang melahirkan berbagai kebijakan bermasalah. Pemimpin dalam sistem ini, kian dirasa bukan sebagai pelayan dan penjaga umat.

Mereka justru berasyik masyuk dengan para pemilik modal yang menopang kekuasaan mereka. Bahkan memosisikan diri sebagai perpanjangan tangan bagi kepentingan asing untuk menjarah kekayaan alam milik rakyat.

Umat pun bisa melihat, bahwa para penguasa tampak kian tak peduli akan banyaknya persoalan yang mengancam generasi umat Islam. Termasuk masifnya serangan budaya dan pemikiran “sipilis” (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) yang berbuah kerusakan.

Padahal paham-paham inilah yang bisa merobohkan pertahanan ideologis umat dan menghilangkan jati diri kemusliman mereka. Sehingga umat makin lemah dan kehilangan kemampuan untuk melawan berbagai makar asing yang ingin melanggengkan penjajahan.


FAKTANYA, arus informasi media dan propaganda kalangan “sipilis” memang dibiarkan makin liar mengobral kekufuran. Sementara informasi media Islam dan perbincangan politik umat di media sosial diawasi sedemikian rupa. Sampai-sampai penguasa merasa perlu membuat UU ITE dan melakukan sweeping di media sosial.

Bahkan secara struktural penguasa sengaja menggencarkan proyek sekularisasi yang berbungkus narasi moderasi Islam. Yakni Islam yang kompatibel dan toleran dengan nilai-nilai Barat dan menolak upaya formalitas Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Padahal, justru penerapan Islamlah solusi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh problem kehidupan manusia. Termasuk yang bisa mengeluarkan mereka dari berbagai krisis yang hari ini melanda. Bahkan menjamin akan membawa kebaikan sekaligus menjadi kunci kebangkitan.

Narasi yang dikembangkan adalah radikalisme dan terorisme sudah menjadi ancaman utama kehidupan umat manusia. Keduanya diopinikan menjadi sumber konflik yang menjauhkan masyarakat dari kedamaian dan persatuan.

Adapun yang dituding sebagai akarnya adalah pemahaman yang rigid terhadap Islam. Yakni pemahaman yang meyakini Islam adalah ideologi yang tak hanya mengatur soal ibadah dan moral, tapi juga seluruh aspek kehidupan.


NARASI inilah yang terus diaruskan, hingga spirit kembali pada Islam kafah yang justru sedang muncul di tengah umat dipandang sebagai ancaman besar bagi keamanan nasional.

Bahkan proyek-proyek deradikalisasi yang salah satunya berbentuk pengarusan paham Islam moderat, seolah menjadi tagline pemerintahan hari ini, mendampingi proyek-proyek penyempurnaan liberalisasi ekonomi.

Maka kita lihat, selain ormas, pesantren, rohis, dan PAUD, keluarga pun tak luput dari narasi radikalisme dan moderasi ini. Kasus Dita Oeripto yang meledakkan diri bersama anaknya di Surabaya tahun 2018 lalu, serta penangkapan teroris dan para istrinya, menjadi dasar kesimpulan bahwa doktrin radikalisme dan terorisme sudah mengancam keluarga muslim di Indonesia.

Akibatnya, muncul kegamangan di tengah umat, antara ikhtiar melindungi keluarga dan generasi dari ancaman “sipilis” radikal melalui upaya mewujudkan keluarga cinta syariat dan penegakkan Islam kafah, dengan program-program kontra radikalisme yang diaruskan pemerintah yang justru ingin menjauhkan umat dari penegakan Islam kafah.


ATAS realitas yang kontradiktif ini, umat tentu harus memiliki pandangan yang sangat jernih, bahwa ancaman sesungguhnya bukan ada pada Islam kafah, namun pada paham “sipilis” yang dikukuhkan sistem sekuler demokrasi yang tegak hari ini.

Bukti akan hal ini sudah sedemikian banyak. Berupa kerusakan yang merajalela dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang justru terjadi saat Islam disingkirkan dari kehidupan mereka.

Sehingga, menyalahkan Islam sebagai biang kerusakan jelas merupakan fitnah dan kebohongan besar, bahkan tampak sebagai proyek pesanan Barat.

Dalam situasi seperti ini, keluargalah yang justru bisa menjadi benteng penangkal pertama dari ancaman “sipilis” radikal yang disistemkan. Caranya dengan menguatkan peran dan fungsi keluarga sebagai basis awal pendidikan dan pembinaan generasi berkepribadian Islam. Sehingga muncul pribadi-pribadi dan keluarga muslim yang cinta syariat kafah.

Keluarga-keluarga muslim juga harus tetap yakin bahwa sumber solusi atas segala problematik saat ini adalah diterapkannya Islam kafah. Karenanya, mereka harus konsisten dan bahu-membahu untuk terlibat dalam perjuangan menegakkannya melalui dakwah pemikiran tanpa kekerasan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw.

Allah SWT berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS Ali Imran: 110). [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *