Keluara Sakinah, Keluarga Taat Syariat

Oleh: Endiyah Puji Tristanti

MuslimahNews.com, OPINI — Tak banyak dilirik media. Kamis (8/10/2020) lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Bidang Perempuan dan Anak mengadakan workshop “Pelibatan Perempuan sebagai Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme”.

Perempuan dipandang memiliki peranan penting dalam upaya mencegah meluasnya paham radikalisme bibit awal terorisme. Perempuan diharapkan dapat secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan, baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas.

Dengan kekuatan natural untuk menarasikan damai dari kelembutan (soft power approach), perempuan diharap dapat memitigasi kekerasan di sekitarnya.

Hal senada diungkapkan Wakil Gubernur NTB dalam pesan khususnya untuk para peserta kegiatan forum koordinasi perlindungan anak dari Stigmatisasi dan Terorisme di Mataram, (19/11/2020).

Kunci dalam menjaga keluarga dan anak-anak dari ajaran radikalisme dan terorisme adalah dengan menjaga ketahanan keluarga; sebagai implementasi bisa terintegrasi dalam kegiatan posyandu keluarga yang keberadaannya sangat strategis, karena posyandu buka secara rutin setiap bulan dan tersebar merata di seluruh penjuru NTB.

Sekilas program tersebut tampak sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap urusan masyarakat untuk mencegah kehidupan yang intoleran dan kekerasan. Poin masalahnya, definisi radikalisme sendiri tidak jelas sebagaimana definisi terorisme.

Yang ada, justru radikalisme dan terorisme selalu ditujukan kepada ajaran Islam dan aktivitas umat Islam yang ingin menerapkan syariat dalam kehidupan politik. Dan kali ini dipaksakan keterkaitan radikalisme dengan keluarga, perempuan, dan generasi. Sungguh ini merupakan framing jahat.

Berbondong Kembali kepada Fitrah

Kegagalan negara menjamin kehidupan adil, sejahtera, damai, tenteram, penuh rasa aman akibat penerapan sistem demokrasi sekuler memunculkan tekanan ekonomi, fisik, mental, dan psikologis masyarakat.

Bagi masyarakat beragama (muslim), ketakberdayaan keluar dari problem multidimensi menguatkan azzam mereka untuk menyerahkan segala urusan kepada Rabb-nya, seraya terus mengupayakan solusi syar’i yang mungkin dilakukannya.

Konsep tawakal yang benar, menginspirasi dan memotivasi para orang tua mengajak anggota keluarganya mendekatkan diri kepada agamanya (Islam) dengan keyakinan menjadikan syariat sebagai solusi.

Muslim berbondong-bondong membangun profil keluarganya menjadi keluarga muslim ideologis. Artinya, kesadaran atas akar masalah krisis ipoleksosbudhankam adalah diabaikannya penerapan syariat Islam kaffah oleh negara.

Ini bukan hanya rekaan imajinasi akibat keputusasaan dari tekanan hidup. Justru kesadaran ini lahir dari kekuatan keimanan terhadap dalil-dalil syar’i.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar Ruum: 41)

Tanggung jawab orang tua untuk membentengi keluarga dari pengaruh buruk sekularisme, pluralisme, dan liberalisme distigma sebagai upaya pembibitan paham radikalisme yang antimoderasi agama. Padahal jelas perintah untuk menjaga keluarga dengan agama adalah kewajiban.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at Tahrim: 6)

Narasi Sesat Agen Ideologi Syahwat

Realitas keberagamaan dalam kehidupan muslim ini sangat sulit dipahami kaum sekuler—termasuk penguasa sekuler—, sehingga tuduhan keluarga radikal disematkan kepada keluarga muslim yang menginginkan penerapan syariat kaffah.

Arus gelora keluarga muslim mencintai Rasul-Nya dengan cara mencintai syariat pun turut dibidik untuk diselidik dan terus disidik, diposisikan sebagai tertuduh keluarga radikal bibit terorisme.

Syariat dimonsterisasi. Pembiasaan dini pelaksanaan kewajiban menutup aurat dengan memakai kerudung dan jilbab pada anak perempuan dipermasalahkan. Tepuk islami pada anak-anak PAUD dianggap indoktrinasi paham radikal.

Pencegahan remaja dari pergaulan bebas di mana orang tua melarang pacaran dianggap tindakan eksklusif, diskriminatif, pengekangan hak-hak anak. Dorongan orang tua terhadap aktivitas remaja mengkaji Islam dari akar hingga daun dari rumah ke rumah dituduh sarana pembibitan paham radikal.

Secara membabi buta mereka mengkritik konsep keluarga samara. Keluarga sakinah seharusnya bukan penyeragaman identitas keluarga muslim di Indonesia melainkan cukup memegang prinsip-prinsip agama dalam kehidupan privasi tanpa dipertontonkan kepada publik. Sebuah kritik yang kehilangan kecerdasan.

Bagaimana bisa ajaran Islam yang khas dilarang untuk tampil sebagai identitas yang khas pada sebuah lembaga keluarga. Ajaran Islam tidak mengajarkan kemunafikan. Pikiran, ucapan, dan amal muslim harus selaras.

Sangat irasional mengimani kebenaran ajaran agama tanpa menampakkannya dalam realitas kehidupan. Islam adalah way of life, bukan ajaran kebatinan dan ajaran moral semata.

Yang telah terjadi dan akan terus dipropagandakan, diprogramkan, dan dilembagakan kaum sekuler adalah narasi kontraradikalisme. Tujuannya untuk membalik opini publik atas realitas kegagalan rezim dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara.

Di samping itu kerangka penjajahan global negara-negara kapitalis imperialis telah menempatkan Islam sebagai musuh hakiki ideologi mereka. Dari sini bertemulah sejumlah kepentingan rezim nasional dan rezim global saling menguatkan untuk mencegah munculnya kebangkitan Islam.

Ketahanan Keluarga Muslim

Konsep ketahanan keluarga saja tak cukup tanpa kejelasan asas yang menjadi pijakan sebuah keluarga. Bagi muslim, kesahihan akidah Islam dan kesempurnaan ajaran Islam lebih dari cukup untuk menjadi guidance penguatan ketahanan keluarga. Sebab uswatun hasanah dalam realisasi kehidupan nyata sudah ada, sehingga penerapan konsep ajaran Islam sangat jelas bukan sebatas teoritis.

Gambaran kehidupan Rasulullah Muhammad Saw. dalam kehidupan keluarga sejak awal kedatangan Islam sampai beliau wafat, sebagai keluarga pengemban dakwah, terdepan dalam amar makruf nahi mungkar sangat gamblang. Sirah Nabawiyah telah terukir mustahil dihapus dari benak umat.

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” (QS al Baqarah: 119)

Lebih dari itu, meneladani kehidupan Rasulullah Saw. bagi keluarga muslim merupakan ibadah di sisi Allah SWT adalah bagian dari perintah agama. Sangat wajar umat berbondong-bondong berusaha maksimal ”menjiplak” kehidupan keluarga Rasul.

 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al Hasyr: 7)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al Ahzab: 21)

Oleh karena itu, memaknai ketahanan keluarga bukan sekadar bagaimana keluarga mampu bertahan menghadapi keadaan ekonomi dan sosial.

Ketahanan keluarga dalam Islam adalah memosisikan keluarga sebagai pilar pertama pembentukan kepribadian Islam bagi anggota keluarga dalam rangka membangun profil agen kontrol sosial dan koreksi terhadap penguasa (muhasabah lil hukkam) agar tetap lurus dalam menerapkan syariat kaffah dalam sistem Khilafah. Wallaahu a’lam. [MNews/Gz]

3 thoughts on “Keluara Sakinah, Keluarga Taat Syariat

  • 12 Januari 2021 pada 14:18
    Permalink

    Masya Allah keluarga adlah pndasi utama unk mencetak generasi intelektual yg berkepribadian islam ,,dan sesuai dngan tujuan penciptaan manusia unk memelihara alam semasta ,wujud ketakwaaan terhadap Allah SWT

Tinggalkan Balasan