[Hadits Sulthaniyah] Ke-9 dan 10: Islam Menentukan Hukum Syara’, Bukan Persoalan Teknis (Perbedaan Antara Hukum dan Uslub)

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-9: Dari Musa bin Thalhah, dari bapaknya, yang berkata, “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ melewati suatu kaum yang sedang mengurusi pucuk (bunga) pohon kurma.”

Maka Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang mereka lakukan?” Dijawab, “Mereka sedang mengambil benang sari dan putik (pohon kurma) lalu mengawinkannya agar cepat berbuah.”

Rasulullah ﷺ berkata, “Aku kira hal itu tidak ada gunanya.” Dikatakan, maka diberitahukan kepada mereka (perkataan Rasul tadi) sehingga mereka pun meninggalkan (cara mereka, yaitu tidak mengawinkan bunga kurma).

(Beberapa waktu kemudian) diberitahukan kepada Rasulullah ﷺ bahwa pohon kurma yang tidak diserbuki itu ternyata tidak menghasilkan (berbuah).

Maka beliau bersabda, “Jika hal (penyerbukan) itu bermanfaat bagi mereka, maka laksanakan. Aku menyampaikan (pendapat tentang hal itu) berdasarkan prasangka (pribadi), karenanya jangan menyalahkanku disebabkan pendapat (pribadiku) itu. Namun jika aku menyampaikan sesuatu kepada kalian yang berasal dari Allah (yaitu perkara tasyri’), maka ambillah. Sebab, aku tidak akan pernah mendustakan Allah ta’ala.” (HR Muslim No. 4356)


Hadis ke-10: Diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi ﷺ berjalan melewati suatu kaum yang sedang menyerbuki (tanaman kurma). Beliau berkata, “Seandainya mereka tidak melakukan itu, mungkin (hasilnya) akan lebih baik.” Dikatakan, (ternyata) hasilnya buruk.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-18: Larangan Kepemimpinan Perempuan

(Di saat lain tatkala) melewati kaum tersebut beliau bertanya, “Apa yang terjadi dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau pernah berkata begini dan begitu.” Beliau bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia (keahlian) kalian.” (HR Muslim No. 4358)


Penjelasan:

a. Sebagian kalangan modernis [moderat, ed.] menggunakan hadis-hadis di atas dan hadis-hadis serupa sebagai dalil bagi pendapat mereka, bahwa Islam tidak diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia.

Argumentasi seperti ini sungguh-sungguh merupakan penyimpangan makna hadis-hadis tersebut. Imam Nawawi menulis dalam kitab Syarah Shahih Muslim sebagai berikut:

“Para ulama mengatakan bahwa sabda Rasulullah ﷺ “menurut pendapatku” maksudnya adalah pada persoalan-persoalan dunia dan masalah kehidupan yang ada di dalamnya, bukan pada persoalan-persoalan tasyri’ (penetapan hukum).

Adapun dalam persoalan tasyri’ dan apa yang beliau ucapkan dari ijtihad dan pandangan syar’i beliau, maka wajib (bagi kaum Muslim) untuk beramal sesuai dengannya; dan persoalan penyerbukan putik (bunga) kurma tidaklah termasuk pembahasan tersebut.”

b. Syariat tidak diturunkan untuk mengajarkan tentang perincian dan bagaimana kita melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi, syariat diturunkan untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang halal dan apa yang haram, apa yang hak dan apa yang batil.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-6 dan 7: Akidah Islam Merupakan Landasan Negara

Sedangkan perincian perbuatan–yakni bagaimana cara kita melakukan suatu perbuatan–tergantung pada hukum perbuatan tersebut.

Maka, apabila suatu perbuatan dikategorikan sebagai perbuatan yang mubah (halal)–seperti aktivitas pertanian secara umum–maka perincian perbuatan di sekitar aktivitas pertanian itu boleh jadi akan berbeda-beda sesuai dengan perkembangan teknologi dan hal-hal yang terkait dengannya, seperti model irigasi yang digunakan atau rotasi tanam untuk mengoptimalkan produktivitas lahan.

c. Kedua hadis di atas berkaitan dengan penyerbukan putik (bunga) kurma, dan oleh karena itu hanya dapat diaplikasikan pada konteks tersebut, atau pada perkara-perkara yang semisal, antara lain dalam bidang pertanian atau industri.

d. Pada hadis yang pertama, apa yang diucapkan Rasulullah ﷺ hanyalah sebuah gagasan yang selintas muncul dalam benak beliau ﷺ.

Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukanlah sebuah perkara tasyri’ (hukum), melainkan sebuah pendapat Rasulullah ﷺ mengenai suatu perkara teknis.

Persoalan ini mirip dengan masalah penempatan pasukan Muslim pada saat Perang Badar. Ketika itu, Hubab bin Mundzir ra. bertanya kepada Rasulullah ﷺ, apakah keputusan Rasul ﷺ tersebut murni pendapat beliau ataukah wahyu Allah SWT.

Maksudnya, apabila hal itu adalah wahyu Allah, maka tidak ada lagi ruang diskusi mengenai hal tersebut; akan tetapi, jika hal itu sekadar pendapat Rasulullah mengenai suatu persoalan teknis, maka ada alternatif lokasi pasukan yang lebih strategis menurut perspektif militer. [MNews/Gz]

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-15: Kepemimpinan Tidak Didasarkan pada Ras atau Kelompok Tertentu

Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010; Dengan penyesuaian redaksi.


 

One thought on “[Hadits Sulthaniyah] Ke-9 dan 10: Islam Menentukan Hukum Syara’, Bukan Persoalan Teknis (Perbedaan Antara Hukum dan Uslub)

Tinggalkan Balasan