Bukan Drama dan Sandiwara, Pemimpin Islam Tulus Urusi Pengemis dan Gelandangan

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — Melebarnya kesenjangan sosial antara kaya dan miskin dalam sistem demokrasi begitu kentara. Terbukti hampir di setiap tempat baik di ibu kota atau pun daerah sangat mudah ditemukan pengemis juga gelandangan. Hal ini ternyata menjadi perhatian Menteri Sosial, yang baru saja menjabat, Tri Rismaharini atau akrab disapa Risma.

Aksi blusukannya di sekitar wilayah DKI Jakarta, menemui sejumlah pengemis dan gelandangan menuai sorotan dari warganet di media sosial. Sejumlah netizen menilai ia adalah Mensos DKI Jakarta bukan Mensos RI, ditambah lagi ada netizen yang menyatakan apa yang dilakukannya hanya sandiwara basi. (makassar.terkini.id, 5/1/2021)

Dalam sistem demokrasi masyarakat hampir-hampir sulit mempercayai para pejabat yang sedang menjalankan tugasnya mengayomi rakyat. Sebab seringnya mendapat “kado pahit” dari setiap kebijakan yang mereka tetapkan untuk rakyat. Alih-alih memberantas kemiskinan atau menyejahterakan, justru pengangguran meningkat yang menyebabkan pengemis dan gelandangan juga bertambah.

Lalu, bagaimana pemimpin dalam Islam menyikapi pengemis dan gelandangan? Apakah penuh drama atau bersandiwara untuk mendapat simpatik rakyat? Atau pemimpin Islam bersikap tulus urusi pengemis dan gelandangan, hingga tidak ditemukan satu pun lagi rakyatnya yang hidup dalam kemiskinan.

Meminta-minta Bukan Ajaran Islam

Rasul Saw. bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang meminta-minta kepada orang lain, lalu memperoleh sesuap atau dua suap, sebutir kurma atau dua butir kurma. Akan tetapi orang miskin ialah orang yang tidak kaya, tidak mengerti tentang keadaannya dan orang-orang memberikan sedekah kepadanya. Dan jika (hal itu terjadi/orang miskin itu meminta-minta) maka ia akan meminta-minta kepada manusia.” (HR Mutafaq alaihi)

Seorang yang miskin dalam Islam, tetaplah seorang yang memiliki harga diri. Ia akan menjauhkan diri dari meminta-minta kepada manusia. Islam memiliki mekanisme unik untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan tempat tinggal bagi si miskin, tanpa perlu mereka meminta-minta. Mekanisme tersebut adalah kontrol sosial.

Nabi Saw. bersabda, “Tidak beriman kepadaku, siapa saja yang tidur (sambil perutnya kenyang) di malam hari, sedangkan tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR al Bazzar melalui jalur Anas).

Sungguh luar biasa Islam yang menjadikan keimanan sebagai jaminan berjalannya kontrol sosial. Setiap anggota masyarakat akan tergerak oleh keimanannya untuk memperhatikan kondisi tetangganya dan memastikan terpenuhi atau tidak kebutuhannya.

Bila ia mendapati tetangganya kekurangan, sedang ia kaya, maka Islam mendorongnya bersedekah. Akan tetapi, bila ia sendiri termasuk fakir dan tak mampu bersedekah untuk tetangganya, maka wajib baginya melaporkan kondisi tetangganya kepada pemimpin yang bertanggung jawab dalam wilayah tersebut. Agar harta zakat dari kas baitulmal dapat disalurkan kepadanya dan juga tetangganya.

Pemimpin Islam Urusi Peminta-minta

Islam mewajibkan negara melalui aparaturnya untuk melakukan fungsi ri’ayah (mengurusi) rakyat. Para aparatur negara wajib berinteraksi dengan rakyat setiap waktu, menjadi iman dalam salat berjemaah di Masjid. Setelah usai salat, mereka membuka dialog, mendengarkan berbagai keluhan rakyat dan menyelesaikannya.

Para pemimpin Islam di setiap jenjang kekuasaan akan betul-betul menguasai fakta persoalan masyarakat yang dipimpinnya, termasuk menguasai data kemiskinan di wilayahnya. Hingga mudah bagi mereka menggerakkan para amil dalam mendistribusikan harta zakat pada masyarakat.

Seperti halnya Umar ibnu al-Khaththab yang menetapkan kebijakan menafkahi seorang laki-laki tua Yahudi dengan harta yang diambil dari baitulmal Khilafah, ketika beliau taju bahwa Yahudi tua tersebut meminta-minta.

Sama halnya juga yang dilakukan Rasulullah Saw terhadap seorang laki-laki dari kaum Anshor yang mendatangi beliau untuk meminta-minta. Rasul bertanya kepadanya tentang apa yang dimilikinya. Laki-laki tersebut menjawab bahwa di rumahnya hanya ada sehelai kain kasar untuk selimut dan satu gelas untuk minum.

Rasul menyuruh laki-laki tersebut untuk mengambil dua benda yang dimilikinya itu, lalu beliau menawarkan kepada para sahabat yang bersedia memberi benda yang dimiliki lelaki tersebut. Salah seorang sahabat membelinya dan laki-laki Anshar tersebut memiliki dua dirham.

“Belikanlah yang satu dirham makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikanlah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasul sambil menyerahkan dua dirham kepada lelaki peminta dari Anshar. (Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam, Raghib As-Sirjani, 2011)

Beberapa hari kemudian, lelaki Anshar itu datang menemui Rasul dengan membawa kapaknya. Lelaki tersebut diperintah Rasul untuk mencari kayu bakar dengan kapaknya, lalu menjual kayu bakarnya.

Pergilah, cari kayu bakar dan juallah. Dan aku tidak ingin melihatmu selama 15 hari,” perintah Rasul. Setelah 15 hari berlalu, ia baru menemui Rasul dengan membawa uang 10 dirham dari hasil penjualan kayu bakar. Rasul berkata, “ Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta.”

Begitulah sikap pemimpin dalam Islam, tidak perlu mencari waktu khusus untuk menemui rakyatnya, karena ia hidup bersama dengan rakyat. Ia memahami betul kebutuhan rakyatnya. Tidak memasukkan para pengemis dan gelandangan ke dinas sosial, namun segera memenuhi kebutuhan mereka dengan memberikan pekerjaan atau tempat tinggal yang layak.

Perhatian Pemimpin Islam terhadap Perumahan Rakyat

Setelah Rasulullah Saw. hijrah, di Madinah bangkit suatu gerakan pembangunan yang sangat luas, bahkan menjadi industri bangunan yang mendapat perhatian kaum muslim. Mengingat kaum Muhajirin yang membutuhkan tempat tinggal di Madinah.

Rasul sebagai kepala negara menggariskan beberapa langkah dan menentukan beberapa distrik di mana mereka akan membangun rumah-rumahnya.

Perbuatan Rasul membuktikan bahwa Rasul sebagai kepala negara mengelola secara langsung dalam penyediaan rumah layak huni untuk rakyatnya. Bukan hanya untuk rakyat miskin, tetapi siapa saja yang membutuhkan pembiayaan pembangunan perumahan berbasis baitulmal. Pemenuhan kebutuhan pokok ini dipenuhi negara bagi orang per orang bukan kebutuhan komunal.

Masyarakat yang juga butuh bantuan merenovasi rumahnya yang tidak layak huni, akan dibantu negara, tanpa harus berbelit-belit pengurusannya.

Demikian pula bagi masyarakat yang tidak memiliki rumah (gelandangan), mereka dijamin negara bisa menempati rumah yang layak huni. Dalam Khilafah, tidak akan ditemui lagi rumah yang tidak layak huni dan tidak akan ditemukan lagi gelandangan (tunawisma).

Sebagaimana kesaksian dari Umar bin Usaid tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, bahwa sebelum beliau wafat, masyarakatnya dalam kondisi makmur.

Demikian sejahteranya sehingga tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat, karena Umar telah membuat mereka sejahtera. Tentu kesejahteraan itu disertai dengan adanya rumah yang layak huni.

Sulit Mencari Orang Miskin

Dalam Islam, kepala negara adalah orang yang bertanggung jawab atas urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasul Saw, “Imam (Khalifah) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya.” (HR Bukhari). 

Begitu besar perhatian Khalifah terhadap rakyat, mulai dari urusan perut sampai tempat tinggal tak luput dari perhatiannya.

Di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia meminta Yahya bin Said untuk memungut zakat ke Afrika. “Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun,” ujar Yahya.

Semua rakyatnya hidup berkecukupan. Kemakmuran umat, ketika itu tak hanya terjadi di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam, seperti Irak dan Basrah.

Khalifah Umar pernah berkirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak, agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. “Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun di Baitul Mal masih terdapat banyak uang,” tutur sang gubernur dalam surat balasannya.

Lalu Khalifah memerintahkan mencari orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Beri uang padanya untuk melunasi utangnya. Abdul Hamid menyurati Khalifah Umar, “Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.”

Luar biasa masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, sulit sekali mencari orang miskin apalagi pengemis dan gelandangan. Masyarakat sejahtera hidup dalam berkecukupan. Sementara saat ini, orang miskin mudah sekali ditemui, namun tak diurusi, tak dipenuhi kebutuhannya oleh penguasa. Rindu hidup sejahtera dalam naungan Khilafah. [MNews/Gz]

3 thoughts on “Bukan Drama dan Sandiwara, Pemimpin Islam Tulus Urusi Pengemis dan Gelandangan

Tinggalkan Balasan