Asma’ binti Umais ra., Wanita Mulia yang Dinikahi Tiga Ahli Surga

Asma’ binti Umais ra., Wanita Mulia yang Dinikahi Tiga Ahli Surga

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF – Kali ini kita akan mereguk kisah seorang sahabat wanita yang menikah dengan tiga orang ahli surga. Ia pantas menjadi teladan ideal bagi setiap istri yang setia, beriman, bertakwa, dan suci.

Asma’ binti Umais bin Ma’bad bin al-Harits al-Khats’amiyah adalah perempuan dari kalangan Muhajirin yang masuk Islam di awal dakwah Nabi Muhammad Saw. Bahkan sebelum Rasulullah Saw. membuka majelis pertama di rumah Arqam.

Ia mendapatkan kemuliaan dengan dinikahi dua dari empat khulafaurasyidin, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan Ali bin Abi Thalib ra.

Asma’ binti Umais pertama kali dinikahi Ja’far bin Abi Thalib ra. Asma’ turut berhijrah ke Habasyah bersama suaminya untuk menghindari fitnah dan menyelamatkan keyakinan agama mereka. Itulah peristiwa hijrah pertama dalam sejarah Islam.

Di negeri yang dipimpin oleh Najasyi itu, Asma’ binti Umais dan Ja’far bin Abi Thalib dikaruniai tiga orang putra, yakni Aun, Abdullah dan Muhammad. Ja’far dan istrinya hidup nyaman di bawah perlindungan Najasyi selama 10 tahun.

Selama itu, mereka merasa tenang dan aman, hari-hari yang dilalui penuh kebahagiaan karena dapat beribadah kepada Allah SWT tanpa beban atau ancaman dari musuh-musuh Islam.

Setelah itu, mereka pulang ke Madinah dengan rasa rindu yang menggelora untuk segera berjumpa dengan Nabi Saw. karena sekian lama berpisah dengannya. Ketika mereka sampai di Madinah, Rasulullah Saw. baru saja pulang dari perang Khaibar.

Meraih Pahala Dua Kali Hijrah

Asma’ binti Umais kemudian berkunjung ke kediaman Hafshah binti Umar, istri Rasulullah Saw. Tiba-tiba Umar bin Khaththab datang, tatkala melihat Asma’, ayahanda Hafshah itu bertanya, “Siapa ini?” Asma’ menjawab, “Aku Asma binti Umais.” Umar melanjutkan, “Apakah engkau wanita yang hijrah ke Habasyah? Wanita yang mengarungi lautan itu?” Asma’ menjawab, “Benar.” Umar berkata lagi, “Kami lebih dulu hijrah daripada kalian, sehingga kami lebih pantas untuk dekat dengan Rasulullah Saw. daripada kalian.”

Mendengar ucapan Umar, Asma’ marah lalu berkata, “Tidak bisa. Demi Allah, ketika kami hijrah, kalian bersama Rasulullah Saw. Beliau memberi makan orang yang kelaparan dan mengajari orang yang tidak mengerti di antara kalian. Sementara kami berada di negeri asing karena dimusuhi (Quraisy), yakni negeri Habasyah. Semua itu kami lakukan karena Allah dan karena perintah Rasulullah Saw. Demi Allah aku tidak akan mencicipi makanan atau meneguk minuman hingga melaporkan masalah ini kepada Rasulullah Saw.

Kami berpisah dengan beliau selama ini karena disakiti dan mengkhawatirkan keyakinan kami. Aku akan melaporkan dan bertanya kepada Nabi Saw. tentang yang engkau katakan tadi. Demi Allah, aku tidak berbohong (main-main), tidak akan membatalkan atau menambah-nambah.”

Ketika sampai di hadapan Rasulullah Saw., Asma’ berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Umar berkata begini dan begini.” Rasulullah Saw. bertanya, “Lalu, apa jawabanmu?” Asma’ menjawab, “Aku menjawabnya seperti begini dan begini.” Rasulullah Saw. berkata, “Dia tidak lebih pantas dekat denganku daripada kalian. Dia dan kaum muhajirin yang sama dengannya hanya mendapat pahala satu hijrah, sedangkan kalian, para penumpang kapal layar, meraih pahala dua hijrah.”

Asma’ menuturkan, “Setelah peristiwa itu, Abu Musa dan orang-orang yang naik kapal layar menemuiku secara bergantian untuk menanyakan perihal hadis (pernyataan Rasulullah) tersebut. Bagi mereka, tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih menyenangkan dan berharga daripada pernyataan Rasulullah Saw. tentang ihwal mereka tersebut.” (Muttafaq ‘alaih).

Menikah dengan Tiga Sahabat Mulia

Setelah satu tahun Asma’ dan suaminya menetap di Madinah, pada 8 Hijriah Rasulullah memerintahkan umat Islam bersiap jihad di perang Mu’tah. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang dan berpesan, “Jika Zaid syahid, maka angkatlah Ja’far bin Abi Thalib sebagai panglima. Jika ia juga syahid, maka angkatlah Abdullah bin Rawahah sebagai panglima. Jika ia juga syahid, maka terserah kaum muslim mengangkat siapa komandan yang mereka kehendaki.”

Di pertempuran itu, ketiga panglima perang itu syahid. Gugurnya Ja’far bin Abi Thalib di perang Mu’tah membuat Asma’ binti Umais menjanda. Hingga kemudian, di awal tahun 10 H, putri Umais bin Ma’bad ini menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Dari pernikahan ini lahir Muhammad bin Abu Bakar. Sepeninggal Abu Bakar, Asma’ binti Umais menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Anak-anak Asma dari kedua suaminya terdahulu tinggal di rumah Ali.

Suatu ketika, dua anaknya, yakni Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abu Bakar terlibat dalam perdebatan dan saling membanggakan diri. Masing-masing berkata, “Aku lebih mulia darimu, karena ayahku lebih mulia dari ayahmu.” Mendengar perdebatan tersebut, Ali berkata kepada Asma’, “Selesaikanlah perdebatan mereka, wahai Asma’.” Asma’ berkata, “Aku tidak pernah melihat pemuda Arab yang lebih baik dari Ja’far dan tidak pernah melihat orang tua Arab yang lebih baik dari Abu Bakar.”

Ali berseloroh, “Engkau tidak menyisakan sedikit pun untuk kami. Seandainya engkau tidak berkata seperti itu, maka aku pasti lebih mencintaimu!” Asma’ menimpali, “Di antara ketiga orang (yang menjadi suaminya) itu, engkau adalah yang paling tidak membutuhkan pertimbangan untuk dipilih.”

Itulah Asma’ binti Umais ra., shahabiyah cerdas, tutur katanya baik, dan pandai dalam muamalat.

Setelah melewati masa cukup panjang dalam ketaatan dan berkorban memperjuangkan agama Allah, Asma’ pun harus berbaring di atas kasur kematian menghadap Tuhannya.

Ia pantas berbahagia, karena ketika Rasulullah Saw. wafat, ia termasuk sahabat wanita yang diridainya. Dan ketika suami-suaminya meninggal dunia, ia adalah istri yang diridai oleh mereka.

Asma’ binti Umais ra. meninggal dunia tak lama setelah suaminya, Ali bin Abi Thalib ra. wafat. Semoga Allah meridai Asma’ yang telah meraih banyak kehormatan dan kemuliaan. [MNews/Chs]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *