Derita Kaum Kafir pada Hari Kiamat (Tafsir QS al-Muddatstsir [74]: 8-16) Bagian 2/2

Sambungan dari Bagian 1/2

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN – Beberapa Pelajaran Penting / Dalam ayat-ayat ini terdapat banyak pelajaran penting. Beberapa di antaranya: Pertama, kepastian adanya peniupan sangkakala pada hari Kiamat. Peristiwa tersebut diberitakan dalam banyak ayat lain. Jika dalam ayat ini trompet sangkakala itu disebut an-nâqûr dalam ayat-ayat lain disebut dengan ash-shûr (Lihat, misalnya: QS an-Naml [27]: 87).

Menurut para ulama, tiupan yang diberitakan ayat ini merupakan tiupan pertama, yang disebut dengan nafkhat al-faza’. Tiupan ini menyebabkan kaget, panik atau terkejut seluruh makhluk. Tiupan ini juga menyebabkan perubahan dan rusaknya keteraturan alam dunia (Lihat juga: QS al-Haqqah: 13 – 14; QS az-Zumar [39]: 68; QS. Yasin [36]: 51; QS al-An’am [6]: 73; QS al-Kahfi [18]: 99; QS Thaha [20]: 102; QS al-Mukminun [23]: 101; QS az-Zumar [39]: 68; dan lain-lain)

Kedua, kondisi sulit yang dialami orang-orang kafir pada Hari Kiamat. Hal ini juga dengan jelas diberitakan ayat-ayat ini. Kesulitan mereka juga diberitakan dalam ayat-ayat lainnya (Lihat, misalnya: QS al-Furqan [25]: 26).

Hal itu juga akan dikatakan oleh orang-orang kafir ketika mereka dibangkitkan (Lihat: QS al-Qamar [54]: 8).

Selain itu terdapat banyak berita yang menunjukkan kesulitan, kesempitan dan kesengsaraan mereka pada Hari Kiamat. Mereka dibangkitkan dalam keadaan tertunduk dan terhina (Lihat, misalnya: QS al-Ma’arij [70]: 43-44 dan al-Qamar [54]: 6-8).

Ketika sangkakala ditiup, orang-orang kafir juga meratapi kemalangan mereka seraya bertanya satu sama lain tentang siapa yang telah membangunkan mereka dari tidur mereka (Lihat: QS Yasin [36]: 51-52).

Mereka juga mengalami ketakutan luar biasa hingga mata terbelalak dan melotot,  serta jiwa mereka kosong dari apa pun selain kengerian yang mencekam itu (Lihat: QS Ibrahim [14]: 42-43; QS Ghafir [40]: 18).

Qatadah mengatakan bahwa hati menyesak sampai di tenggorokan karena takut yang amat sangat, dan hati tidak dapat keluar dan tidak dapat pula kembali ke tempatnya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan as-Suddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Makna kadhimina ialah semuanya diam, tidak ada seorang pun yang dapat bicara kecuali dengan izin Allah Swt.26

Kesusahan mereka juga digambarkan dalam QS al-Isra [17]: 97.

Ketiga, kemudahan yang dialami kaum Mukmin. Ayat ini, yang secara jelas memberitakan kesusahan dan kesulitan yang dialami orang kafir, juga dapat dipahami bahwa keadaan yang berbeda akan dialami oleh mukmin yang berbeda dengan mereka.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, orang-orang kafir selalu menghadapi kesulitan yang lebih besar. Ini berbeda dengan orang-orang mukmin yang selalu menghadapi apa yang lebih ringan hingga mereka masuk surga karena rahmat Allah SWT. Ibnu ‘Abbas juga memahami QS al-Muddatstsir [74]: 10), bahwa hari itu adalah mudah bagi orang mukmin dan ini adalah hujjah bagi orang yang berpendapat bahwa dalil khithâb adalah hujjah.27

Hal itu juga dapat dipahami dari firman Allah SWT,

وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا  ٢٦

(Hari itu) adalah hari yang penuh kesukaran bagi kaum yang kafir. (QS al-Furqan [25]: 26)

Ayat ini menjadi dalil bahwa pada hari itu mudah bagi kaum Mukmin. Demikian penjelasan al-Baghwi, Ibnu ‘Athiyah, dan lain-lain.28

Menurut Ibnu Katsir, keadaan orang-orang mukmin diberitakan dalam firman-Nya:

لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ هَٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ  ١٠٣

Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada Hari Kiamat) dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), “Inilah hari kalian yang telah dijanjikan kepada kalian.” (QS al-Anbiya’ [21]: 103)29

Menurut Abu Sa’id al-Khudri, pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw. tentang sehari seperti lima puluh ribu tahun, betapa lamanya hari itu. Rasulullah Saw. bersabda, “Demi jiwaku yang berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya hari itu dipendekkan bagi Mukmin sehingga lebih pendek daripada shalat wajibnya sewaktu di dunia.” (HR Ahmad)

Demikianlah. Hari Kiamat pasti terjadi. Saat itu, orang-orang kafir mengalami kesulitan, kesusahan, dan kesengsaraan luar biasa. Berbeda dengan orang-orang mukmin. Mereka justru mendapatkan kemudahan, kesenangan, dan kenikmatan tak ternilai. WalLâh a’lam bi al-shawâb. [MNews/Rgl]


Catatan kaki:

1        Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29 (Tunisia: al-Dar al-Tunisiyyah, 1984), 300

2        al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 644; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 134; al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 702. Lihat juga dalam al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 391

3        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishiryyah, 1964), 70; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 390; Ibnu ‘Ajibah, al-Bahr al-Madîd, vol. 7 (Kairo: Doktor Hasan Abbas, 1999), 173;

4        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 70; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 390

5        Ibnu ‘Ajibah, al-Bahr al-Madîd, vol. 7, 173

6        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 70

7        Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 300

8        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 264

9        Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2001), 392; al-Khazin, Lubâb al-Ta`wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 363; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 124;

10      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 264

11      al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 391

12      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 70

13      al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 391

14      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 70

15      al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, vol. 2 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiyy, 2001), 48

16      Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 301

17      Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 301

18      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30, 703

19      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30, 703

20      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 70

21      Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 301

22      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30, 703

23      al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 30, 703

24      al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 363; Nizhamauddin al-Naisaburi, Gharâib al-Qur‘ân wa Raghâib al-Furqân, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 388

25      Nizhamauddin al-Naisaburi, Gharâib al-Qur‘ân wa Raghâib al-Furqân, vol. 6, 388

26      al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4, 646

27      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 7, 137

28      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 223

29      al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur‘ân, vol. 3 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiy, 2001), 442; Ibnu ‘Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 4, 208

30      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 6, 107

2 thoughts on “Derita Kaum Kafir pada Hari Kiamat (Tafsir QS al-Muddatstsir [74]: 8-16) Bagian 2/2

Tinggalkan Balasan