Nussa and Rara, We Will Always Miss You!

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

Makan jangan asal makan/
Perut buncit langsung kenyang/
Makan pakai aturan yang Nabi ajarkan//
Makan jangan asal makan/
Perut buncit langsung kenyang/
Raihlah keberkahan dalam setiap makan//
(Nussa dan Rara)


MuslimahNews.com, OPINI — Siapa yang kenal cuplikan lagu di atas? Saat membaca liriknya, pasti dunia bawah sadar kita langsung bernyanyi. Dari anak-anak, remaja, emak-emak, bahkan bapak-bapak, Nussa dan Rara menjadi film favorit keluarga. Bukan hanya karena setara film animasi buatan Disney, Hollywood atau Bollywood, tapi karena konten yang mendidik dan mengandung pelajaran yang baik bagi anak-anak.

Namun sayang sekali, Nussa dan Rara sekarang tak dapat tayang lagi. Jumat (1/1/2021) kemarin adalah episode terakhir Nussa dan Rara yang bisa disaksikan.

Sesuai kabar yang disampaikan Ustaz Felix di akun Instagramnya, serial anak terfavorit ini tak lagi tayang karena terkendala pandemi. Sejak pandemi menyapa, hampir 70% anggota tim Nussa dan Rara dirumahkan. Bahkan menurut Ustaz Felix ada beberapa orang yang menyatakan kalau Nussa dan  Rara mengandung unsur radikal. Hmm… radikal dari sisi apa coba? (suara.com, 4/01/20).

Sedih pasti ada. Itulah ungkapan yang banyak ditulis di kolom komentar Nussa dan Rara Episode “Mengenal Ka’bah”, episode yang dikabarkan sebagai tayangan terakhir serial ini.

Hingga artikel ini ditulis, episode itu telah mendapat 17.000 like dan 1.100 dislike. Film anak yang mendidik begini masih ada yang dislike? Susah dipercaya. Memang dalam penjelasan Ustaz Felix di akun Instagramnya, ada beberapa orang yang menganggap konten Nussa dan Rara termasuk konten radikal. Apa pun itu, penikmat dan followers Nussa dan Rara tetap lebih banyak.

Minimnya Tontonan yang Menuntun

Era milenium seperti saat ini memang sangat susah mencari tontonan yang menuntun ke arah yang benar. Bagi anak-anak Generasi Z, tontonan yang menyenangkan adalah tontonan yang mampu mengaduk-aduk perasaan, terutama masalah gharizah nau alias naluri kasih sayang.

Tontonan seperti inilah yang laris di pasaran. Bahkan anak-anak pun turut mengikuti film bergenre remaja atau dewasa.

Sebut saja film-film terbitan Pixar Animation Studio, Walt Disney Animation Studio, DreamWorks Animation, Warner Bros, kebanyakan mengisahkan konten percintaan, ada pula yang memasukkan konten “lagibete” (penyuka sesama).

Mengapa demikian? Jelas saja perusahaan film ini menyajikan konten seperti itu. Mereka adalah perusahaan animasi yang berasal dari Barat.

Sebagaimana yang kita pahami, Barat terkenal dengan kehidupan dan ide kebebasannya. Agama bagi Barat hanya simbol, bukan tools yang bisa dijadikan petunjuk.

Ide kebebasan inilah yang membuat semua orang termasuk para pengusaha melancarkan segala cara. Tak ada standar pembatas tontonan mana yang dinilai baik dan buruk.

Bagi para pengusaha alias kapitalis, hal yang paling mereka perhatikan dalam usaha adalah untung dan rugi. Bagaimana caranya agar mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dengan usaha yang minimal, seperti prinsip ekonomi yang sering diajarkan di sekolah-sekolah negeri kita.

Karena kepentingannya hanya mencari untung, perusahaan ini akan menyajikan tontonan yang diminati mayoritas konsumen. Berhubung konsumennya sudah terpengaruh ide kebebasan, suka baper, jadinya filmnya pun tak jauh dari kenyataan.

Bagaimana dengan film besutan anak negeri? Seperti yang terjadi pada film Nussa dan Rara, dari sisi konten banyak disukai. Film garapan anak negeri ini memang patut diacungi jari. Pesan yang tersirat dalam ceritanya cukup menggetarkan hati. Film anak yang islami seperti Nussa dan Rara sangat jarang didapati. Wajar jika Nussa dan Rara menjadi idola. Selain jalan ceritanya bagus, animasinya pun tak kalah dengan film anak lainnya.

Sayangnya, materi alias modal menjadi hambatan. Perusahaan yang berdiri sendiri tanpa modal riba—di sistem sekarang—, memang cukup sulit bertahan, apalagi di era pandemi.

Kalaupun ada suntikan, dikhawatirkan mendapat “persyaratan konten” yang boleh ditayangkan dan tak boleh ditayangkan. Selain itu ada juga pesan-pesan titipan. Kalau pesannya tak melanggar syariat, ya tak masalah. Tapi kalau melanggar? Ya pasti berdosa.

Sebagai muslim yang taat, yang ingin menyajikan konten bermanfaat, tentu ingin jauh dengan hal-hal maksiat. Untuk mendapatkan modal pun inginnya tak terjerumus dalam dosa alias riba. Jadi, jika perusahaan gulung tikar begini, ya tak bisa dielak lagi.

Sistem saat ini juga tak mendukung. Di satu sisi masyarakat butuh tontonan yang baik, di sisi lain sistem malah tak bersahabat. Alih-alih mencoba merangkul film bermanfaat, menentukan standar tontonan yang tak melanggar syariat saja belum dapat. Bagaimana generasi saat ini bisa selamat?

Peran Negara dalam Memberikan Tontonan

Siapa yang dapat menyangkal kalau menyediakan tontonan yang mendidik itu adalah peran negara? Meskipun sebuah perusahaan film diberi kebebasan dalam membuat film, negara berperan menentukan dan menyaring konten yang boleh disiarkan.

Ada rambu-rambu bagi perusahaan film yang harus diikuti. Bukan sekadar demi keuntungan, tapi tak boleh melanggar hukum yang diberlakukan. Bagi kita, umat muslim, rambu-rambu itu telah jelas. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai rambu-rambu pembeda dengan aturan lainnya.

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan: 1).

“Manusia itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Baqarah: 213)

Karena Al-Qur’an menjadi petunjuk manusia, wajar ketika menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara pun mengikutinya. Bukankah Rasulullah dan para Sahabat juga mencontohkan demikian? Sebuah negara yang menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk, akan selalu memperhatikan urusan umatnya. Salah satunya masalah pendidikan.

Pendidikan di sini ada yang bersifat formal dan nonformal. Formal dengan cara membuat kurikulum standar Islam, nonformal salah satunya melalui tontonan-tontonan. Negara akan memberikan kemudahan dan kebebasan bagi penyaji tontonan asalkan tak melanggar hukum syara’.

Ketika ada masalah modal usaha, negara akan memberikan bantuan yang berasal dari Baitulmal. Bantuan modal ini berupa pinjaman tanpa adanya riba. Pastinya juga tak memberatkan peminjamnya. Dari mana Baitulmal dapat modal? Melalui pembayaran fai’, kharaj, jizsyah hingga pengelolaan sumber alam.

Apakah para perusahaan akan mematuhi aturan negara? Tentu saja akan patuh. Negara sebagai pembuat hukum berhak memberikan sanksi pada siapa saja yang melanggar syariat. Sedangkan para pengusaha, sebelumnya mereka telah disadarkan bahwa keuntungan materi bukanlah segala-galanya.

Rida Allah SWT adalah yang utama. Jika antara negara, masyarakat dan pengusaha saling berjabat erat taat syariat, maka generasi yang tangguh, bermartabat dan taat akan terwujud.

Pertanyaannya, apakah kita  dapat memperoleh itu semua di sistem saat ini? Nihil. Tong kosong nyaring bunyinya, hanya sekadar omong tak ada buktinya. Mungkin begitu kata para netizen yang rindu tontonan mendidik. Jika tidak mungkin kita dapatkan, lalu di sistem seperti apa semua itu dapat terwujud?

Ikan air laut tak akan bisa hidup di air tawar. Aturan Islam tak akan bisa terlaksana dalam sistem sekarang. Aturan Islam hanya akan hidup dalam sistem Islam. Sebagaimana yang dilakukan para Sahabat, sistem Islam hanya akan terwujud jika ada institusi pemerintahan di dalamnya, yaitu Khilafah.

Mungkinkah episode Nussa dan Rara akan tayang lagi saat ada Khilafah? Kapan pun itu, Nussa and Rara, we will always miss you! [MNews/Gz]

5 thoughts on “Nussa and Rara, We Will Always Miss You!

Tinggalkan Balasan