Menjelang Perang Khandak

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Orang-orang Yahudi telah melihat kekuatan Negara Madinah, sebuah Negara Islam yang telah berhasil menancapkan pengaruhnya atas suku-suku bangsa Arab. Negara yang menjadikan sebagian besar suku di Jazirah Arab tunduk kepadanya.

Orang Yahudi berpikir jika mereka belum bersatu dan bersepakat untuk menyerang negara ini dari satu busur panah, tidak lama lagi Madinah akan menjadi negara adidaya baru. Untuk itu mereka berusaha menghimpun semua kekuatan penentang  Negara Madinah ini di antara kaum musyrik Arab dan Yahudi.

Bersepakat Menyerang Madinah

Para pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir dan Bani Wail mendatangi kaum kafir Quraisy di Makkah. Mereka mengajak kaum kafir Quraisy untuk bersatu menyerang Rasulullah Saw. dan Negara Madinah.

Mereka berkata kepada kafir Quraisy Makkah, “Sungguh kami bangkitkan kalian untuk memerangi Muhammad. Untuk kalian kami akan mengerahkan bangsa Arab agar mereka membantu kalian, kami akan bersungguh-sungguh bersama kalian hingga kita mampu menghabisi Muhammad.

Pernyataan ini membakar hati kafir Quraisy Makkah. Mereka berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, sesungguhnya kalian adalah ahli kitab yang pertama, dan kalian adalah kaum yang memiliki pengetahuan tentang apa yang kami perselisihkan dengan Muhammad. Maka jawablah dengan jujur, apakah agama kami yang lebih baik ataukah agamanya?”

Orang-orang Yahudi menjawab, “Tentu agama kalianlah yang lebih baik daripada agamanya, dan kalianlah yang lebih benar.

Jawaban mereka adalah sebuah kebohongan agar kaum kafir Quraisy mau bergabung bersama mereka untuk memerangi  Nabi Muhammad Saw. dan kaum muslimin. Kaum Yahudi ingin membalas dendam Bani Qainuqa dan Bani Nadhir yang telah terusir dari Madinah Al Munawwarah.

Kaum kafir Quraisy merasa senang dengan apa yang didengarnya. Mereka menyambut baik ajakan orang-orang Yahudi untuk memerangi Rasulullah Saw. Setelah bersepakat, mereka menentukan waktu untuk bertemu sebelum menyerang Madinah.

Kelompok Yahudi pergi mendatangi orang- orang Ghathfan, lalu mengajaknya untuk memerangi Muhammad Saw. Mereka memberitahukan tentang kesepakatan yang telah dibuatnya bersama kaum kafir Quraisy. Orang-orang Ghathfan setuju untuk membantu mereka dalam peperangan ini.

Ketika waktu yang telah ditentukan tiba, kaum kafir Quraisy pergi dengan dipimpin Abu Sufyan. Orang–orang Ghathfan, Bani Fazarah dipimpin oleh ‘Uyainah bin Hishen, Bani Marrah dipimpin oleh Harits bin Auf, dan orang-orang Asyja’ dipimpin oleh Mis’ar bin Rukhailah.

Membentengi Madinah

Rasulullah Saw. senantiasa menyebar mata-matanya di sekitar musuh di seluruh penjuru jazirah Arab. Sehingga Beliau Saw.  mengetahui setiap pergerakan orang-orang yang ingin menyerang Negara Madinah.

Kesepakatan persekutuan orang-orang Yahudi dan kafir Quraisy pun diketahui oleh Rasulullah Saw. Beliau Saw. memperkirakan bahwa persekutuan ini akan mampu mengumpulkan tidak kurang dari 10.000 pasukan untuk menyerang Negara Islam Madinah. Sementara kaum muslimin memiliki tidak lebih dari 3.000 mujahid.

Dalam kondisi yang tidak berimbang ini, jika memaksakan untuk segera melakukan peperangan, bisa jadi akan mengulang tragedi Uhud yang berakibat melemahkan kaum muslimin dan Negara Madinah. Rasulullah Saw. mulai memikirkan strategi untuk menang. Beliau Saw. juga bermusyawarah dengan sahabatnya dan kaum muslimin Madinah.

Atas usul Salman Al Farisi ra, Rasulullah Saw. membuat skema kota Madinah. Beliau Saw. mendapati bahwa Madinah terlindungi dari tiga arah pembatas, yaitu dua tanah vulkanik dan perkebunan.  Sehingga kemungkinan serangan datang dari arah pembatas yang keempat.  Untuk itu, Rasulullah Saw. memutuskan membuat penghalang dari arah pembatas yang keempat ini.

Rasulullah Saw. mengumpulkan setiap sarana dan kemampuan yang dimiliki. Beliau Saw. dan kaum muslimin menggali Khandak (parit) di antara dua tanah vulkanik.  Semua kaum muslimin bekerja keras menggali parit itu dengan penuh semangat.

Orang Munafik Lari dari Menggali Parit

Beberapa orang munafik ikut bekerja menggali parit agar kemunafikan mereka tidak diketahui oleh kaum muslimin. Sebagian yang lain lari dari pekerjaan tersebut.

Mereka menyelinap dan bersembunyi di rumah-rumah mereka tanpa meminta izin kepada Rasulullah Saw. Dalam hati orang munafik ada kabut dan niat buruk yang menginginkan kecelakaan menimpa Rasulullah Saw. dan kaum muslimin.

Tentang kaum munafik ini, Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.(QS An Nuur: 63)

Adapun kaum muslimin, mereka ikhlas, bersemangat, dan bekerja membantu Rasulullah Saw. dalam menggali parit. Bahkan jika ada di antara mereka ingin buang hajat, maka dia berbicara terus terang dan meminta izin kepada Rasulullah Saw. Ini mereka lakukan karena keikhlasan, kecintaan, dan ketaatan mereka kepada Rasulullah Saw.

Allah SWT berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An Nuur: 62)
Datangnya Pasukan Sekutu (Ahzab)

Setelah  Rasulullah Saw. selesai membuat parit, pasukan kafir Quraisy sampai di daerah Mujtama’ Al Asyal yang berada di antara Al Juruf dan Zaghobah dengan kekuatan 10.000 pasukan gabungan dari beberapa kelompok yang dibantu Bani Kinanah dan penduduk Tihamah. Orang-orang Ghathfan datang dengan dibantu penduduk Najed. Mereka bergerak terus sampai mereka semua tiba di daerah Dzanab Naqma yang terletak di sisi Uhud.

Rasulullah Saw. dan pasukan kaum muslimin pergi hingga mereka sampai di Sal dengan kekuatan 3.000 mujahid. Di tempat ini kaum muslimin membangun perkemahan. Sedangkan parit berada di antara pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum kafir Quraisy.

Luar biasa strategi yang dirancang oleh Rasulullah Saw. sebagai kepala negara dalam mempersiapkan kaum muslimin dan negara dalam menghadapi rencana datangnya serangan musuh. Beliau Saw. juga bermusyawarah dengan kaum muslimin agar tidak hanya siap siaga menghadapi serangan musuh, tapi juga siap memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat yang lemah dari kalangan perempuan, orang tua, dan anak-anak.Wallahua’lam bishshawab. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Tinggalkan Balasan