Suntik Kebiri untuk Predator, Solusikah?

Oleh: Maya Ummu Azka (Pemerhati sosial)

MuslimahNews.com, OPINI — Setelah sekian lama mencari solusi penanggulangan kejahatan seksual terhadap anak, akhirnya pemerintah memilih opsi suntik kebiri.

Dalam pertimbangan PP 70 tahun 2020 yang menjadi payung hukum suntik kebiri, pemerintah menganggap opsi ini bisa memberi efek jera terhadap pelaku dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Wacana suntik kebiri bagi penanggulangan kejahatan seksual terhadap anak telah menjadi perbincangan di negara ini sejak tahun 2014. Pro-kontra bergulir bertahun lamanya dan mencuat kembali pada tahun 2019 ketika Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak menjadi eksekutor pelaksanaan suntik ini.

Sebuah tanya mengemuka, tepatkah suntik kebiri menjadi solusi kejahatan seksual terhadap anak?

Lazimnya sebuah pemecahan sebuah permasalahan harus dilakukan secara komprehensif. Dengan penanganan yang komprehensif dan menyeluruh, kecil kemungkinan permasalahan itu akan berulang.

Begitu pula dengan menjamurnya predator seksual terhadap anak. Seyogianya semua elemen menggali akar permasalahannya terlebih dahulu sebelum menetapkan solusinya. Tanpa pemecahan menyeluruh, alih-alih memberi solusi, yang ada justru masalah tak tuntas bahkan semakin bertambah.

Sebagaimana yang telah banyak dipaparkan para ahli kesehatan, secara medis, banyak dampak negatif suntik kebiri. Suntikan yang dilakukan secara kimiawi memiliki banyak efek samping yang membahayakan penerimanya, antara lain risiko osteoporosis, anemia, melemahnya otot, dan gangguan kognitif. Sementara di satu sisi, efek suntikan hanyalah sementara, setelah itu hasrat seksual penerimanya akan kembali sebagaimana sebelumnya (suara.com/health/2016/06/09/160042).

Bahkan seorang dokter ahli saraf menyampaikan hukuman ini dapat membuat pelaku lebih agresif karena depresi dan ketidakseimbangan hormon (nasional.tempo.co/amp/774577).

Tak Berdiri Sendiri

Sejatinya permasalahan kejahatan seksual tidaklah berdiri sendiri. Ia berkait kelindan dengan peliknya persoalan interaksi sosial, pendidikan, dan ekonomi di negeri ini.

Pornografi pornoaksi masif terjadi, bahkan semakin beragam bentuknya. Sementara pernikahan sebagai tempat pelampiasan hasrat seksual yang sah secara agama dan negara telah dipersulit. Inilah awal merajalelanya perzinaan, penyimpangan, bahkan kejahatan seksual.

Liberalisasi ekonomi di negeri ini sangat berperan dalam memiskinkan rakyat. Dengan liberalisasi, lapangan pekerjaan yang seharusnya diperuntukkan bagi para lelaki pencari nafkah justru dikuasai pekerja asing. Sementara BUMN yang harusnya mampu mendulang keuntungan untuk biaya pembangunan justru diswastanisasi dan dijual kepada asing.

Di tengah persoalan ekonomi yang menggelayut rumah tangga dan sempitnya lapangan kerja bagi kepala keluarga, para ibu justru didorong untuk keluar dari rumah-rumah mereka dengan berbagai tawaran pekerjaan, termasuk menjadi TKW di luar negeri, yang bermakna berpisah lama dengan keluarga dan suami. Lantas, bagaimana para suami melampiaskan dorongan nalurinya?

Jamak dipahami, ketakwaan merupakan benteng pertahanan bagi manusia. Namun itu mustahil terbentuk dalam sistem pendidikan yang sekuler sebagaimana saat ini.

Nilai-nilai keimanan dijauhkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Pelajaran agama direduksi secara kuantitas dan kualitas, hanya tersisa sebatas formalitas saja. Pada akhirnya lahirlah generasi robot, maju dari sisi intelektualitas namun jauh dari takwa, walhasil muncul kerusakan demi kerusakan seiring dengan kemajuan zaman, termasuk kejahatan seksual.

Dengan demikian, jelaslah suntik kebiri sangat tak manusiawi. Opsi ini tak mampu menjadi solusi penanggulangan predator seksual pada anak. Sanksi tersebut akan memunculkan masalah baru yang tak kalah pelik, mengingat celah-celah kejahatan akibat sistem kapitalisme liberalisme masih menganga lebar di tengah masyarakat.

Satu-satunya Solusi Komprehensif

Jika suntik kebiri bukanlah solusi, adakah solusi lain yang mampu memecahkan permasalahan kejahatan seksual secara komprehensif? Tentu saja ada, karena tak ada masalah di dunia ini yang tak memiliki pemecahan.

Namun satu hal yang harus kita camkan, solusi ini tak bisa lahir dari keterbatasan akal manusia yang penuh dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Solusi ini harus lahir tanpa ada konflik kepentingan dan campur tangan hawa nafsu manusia.

Maka, pemecahannya harus dari Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Allah Sang Pencipta yang telah memberi aturan terbaik bagi diri manusia dan kehidupannya. Itulah Syariat Islam.

Syariat Islam hadir dengan dua fungsi, yaitu preventif dan kuratif. Fungsi preventif tercermin dari sistem pergaulan sosial (nizhamul ijtima’iy) yang begitu lengkap, mencakup pengaturan laki-laki dan perempuan di kehidupan khusus serta di kehidupan umum (public area).

Islam memandang perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga. Dengan demikian syariat memiliki seperangkat mekanisme penjagaan terhadap kehormatan perempuan.

Sedangkan secara umum, Islam mengatur mulai dari penetapan batasan yang jelas akan aurat laki-laki dan perempuan, pakaian penutup aurat, kewajiban menjaga pandangan, larangan tabarruj, larangan khalwat dan ikhtilat, pengaturan safar bagi perempuan, dorongan menikah hingga pengaturan rumah tangga.

Dengan kelengkapan aturannya, Islam menutup celah aksi pornografi pornoaksi serta memastikan laki-laki dan perempuan mampu mengoptimalkan peran dalam masyarakat dengan tetap terjaga kehormatannya.

Sedangkan fungsi kuratif berupa sanksi hukum bagi siapa pun—lelaki dan perempuan—yang melanggar syariat. Sanksinya meliputi hukuman bagi lelaki yang enggan menafkahi keluarganya, hukuman bagi pembuat serta penyebar konten pornografi pornoaksi, hingga adanya hukum jilid dan rajam bagi pezina.

Demikian pula, para predator seksual akan mendapat sanksi berat berupa jilid jika dia belum menikah, dan rajam hingga mati jika dia sudah atau pernah menikah.

Tentu saja sistem pergaulan tersebut tidaklah berdiri sendiri, namun ditunjang sistem lain yang diadopsi negara. Salah satunya adalah sistem ekonomi (nizhamul iqtishadiy) yang adil dan menyejahterakan.

Sistem ini memastikan kebutuhan pokok setiap warga negara terpenuhi dan para pencari nafkah mampu menafkahi keluarganya dengan baik. Dengan demikian kaum perempuan mampu mengoptimalkan peran sebagai pencetak generasi tanpa menanggung beban penafkahan.

Ada pula sistem pendidikan berbasis akidah yang bertujuan membentuk generasi bertakwa serta menguasai iptek. Hal ini akan mencegah generasi melakukan perbuatan tercela, apalagi hingga menjadi predator seksual.

Dengan dasar keimanan pula, akan tumbuh para ahli di berbagai bidang kehidupan yang selalu merasakan pengawasan Allah (muraqabatullah). Mereka tak akan terpikir membuat sebuah penemuan yang berpengaruh buruk karena takut akan azab Allah.

Seluruh sistem ini berpangkal pada sistem politik dan pemerintahan Islam yang diterapkan negara. Pemerintahan yang dilandasi ketakwaan, yang hadir dalam rangka menerapkan syariat Islam secara murni dan menyeluruh untuk mengatur urusan rakyatnya.

Dengannya, negara akan mampu memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh rakyat—khususnya anak—dari faktor-faktor pemicu kejahatan seksual serta kejahatan lainnya. [MNews/Gz]

4 thoughts on “Suntik Kebiri untuk Predator, Solusikah?

  • 13 Januari 2021 pada 19:17
    Permalink

    Sistem kapitalis tak mampu memberi solusi yg komprehensif.
    Justru sistem ini selalu menimbulkan problem yg tak menemukan solusi.
    Back to Islam and Khilafah!

  • 6 Januari 2021 pada 10:24
    Permalink

    Masyaa Allah.. Sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah adalah solusi yang terbaik dan menyeluruh untuk segala permasalahan hidup manusia. Krn tidak berpangkal pada hawa nafsu tetapi berdasarkan pada ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sebagai Sang Pencipta yang mengatur kehidupan kita.

  • 5 Januari 2021 pada 19:01
    Permalink

    Masya Allah sistem ISLAM begitu sempurna ALLOH SWT turunkan untuk mengatur makhluk-Nya…hanya dengan penerapan ISLAM kaffah semua problematika kehidupan akan tuntas teratasi

Tinggalkan Balasan