“Dakwah Ramah” Islam Moderat?

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS — Pembubaran FP1 dinilai Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Maman Imanulhaq sebagai momen untuk menguatkan “dakwah ramah”. Menurutnya, langkah yang diambil pemerintah adalah semata-mata untuk mengembalikan posisi Islam yang moderat, Islam yang toleran, dan Islam yang ramah.[1]

Senada dengan dakwah ramah, muncul pula istilah dakwah santun. Guru Besar Bidang Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr H Achmad Mubarok mengharapkan dakwah santun bisa menyentuh masyarakat tanpa membenturkan aparat dan ulama untuk membuat suasana menjadi lebih tenang.[2]

Dakwah Ramah Vs Dakwah Haq

Betul, Islam memerintahkan umatnya untuk melakukan dakwah dengan cara yang ramah, yaitu dakwah yang mengandung hikmah dan kelembutan, serta menyentuh perasaan dan membangkitkan kesadaran. Allah SWT berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka billati hiya ahsan, yaitu dengan cara yang baik.” (QS An Nahl 125)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran: 159)

Inilah dakwah yang ramah dalam Islam, yaitu memilih cara penyampaian yang baik, bijak, dan lembut; alih-alih menyampaikannya dengan paksaan, dengan kata-kata kasar, dan menghujat sesama muslim yang memiliki pemahaman yang berbeda.

Apalagi dakwah dengan cara memersekusi ulama, membubarkan pengajian yang tidak sepaham, maka yang seperti ini sudah keluar dari koridor dakwah billati hiya ahsan.

Namun, perlu diperhatikan, dakwah ramah seperti diajarkan Allah dalam QS An Nahl 125 ini, bukan berarti dakwah pada pluralisme, yang toleransinya melampaui batas-batas akidah.

Bila sudah melampaui batas akidah, dakwah Rasulullah ﷺ bisa menjadi tegas dan keras. Misalnya beliau ﷺ memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala yang disembah tanpa pengecualian dan menolak penundaan.

Baca juga:  Poros Wasathiyah dalam Isu Gender

Begitu pun dakwah tidak menoleransi kemaksiatan. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, orang-orang Quraisy merasa belas kasihan terhadap seorang wanita dari Bani Makhzum yang telah mencuri.

Rasulullah saw menegaskan, “Wahai sekalian manusia, tidaklah orang-orang sebelum kalian sesat melainkan karena apabila seorang yang mulia mencuri, mereka membiarkannya. Sedangkan apabila seorang yang lemah mencuri, mereka tegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fatimah binti Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR Bukhari).

Dakwah ramah tidak berarti tidak boleh marah. Imam Bukhari meriwayatkan ketika ada orang yang mengadu pada Rasulullah ﷺ tentang panjangnya bacaan seorang imam dalam salat, maka beliau marah dan bersabda dengan keras, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah membuat orang lari. Maka barang siapa salat mengimami manusia, hendaklah dia memperingan (salatnya) karena di antara mereka ada orang yang sakit, lemah, dan orang yang memiliki kebutuhan.” (HR Bukhari)

Al ’Allamah Al ’Ainy berkata dalam mengomentari hadis di atas, “Pada hadis ini terdapat makna yang menunjukkan tentang bolehnya marah karena perkara-perkara agama yang diingkari.” (‘Umdatul Qari’ 2/107)

Sikap keras, tegas, dan lugas dalam dakwah diberlakukan kepada orang yang menentang al-Haq dan menampakkan kefasikan dan kejelekannya secara terang-terangan.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia membutuhkan bujuk rayuan dan sikap lemah lembut tanpa kekerasan saat mereka diajak kepada kebaikan, kecuali seorang yang menentang (Al-Haq) dan menampakkan kefasikan berserta kejelekannya secara terang-terangan. Maka wajib atasmu mencegahnya (dengan keras) dan mengumumkannya (di hadapan khalayak ramai), karena dahulu dikatakan bahwa tak ada kehormatan bagi seorang yang fasik. Oleh sebab itu, orang yang seperti ini tak ada kehormatan baginya.” (Al Amru bil Ma’ruf Wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal halaman 47)

Allah juga telah mengizinkan untuk bersikap keras dalam dakwah kepada orang-orang yang zalim. Firman-Nya dalam QS Al Ankabut: 46,

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

Baca juga:  [News] Moderasi Beragama Kebutuhan Dunia Global?

Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang terbaik kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka…

Dalam ayat lain Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menggunakan sikap keras dan tegas ketika berhujah dengan kaum munafik. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ [٩:٧٣]

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahanam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS At Taubah: 73)

Dengan demikian, jelas dakwah ramah adalah dakwah dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya dalam menyerukan Islam dan penerapannya. Namun ketika ajaran Islam diingkari dan didustakan, tidak ada larangan untuk menolak dengan tegas dan keras. Atau terhadap orang-orang yang membangkang dan melakukan tipu daya, maka boleh mengancam dan membongkar keburukannya di hadapan umat.

Dengan kata lain, dakwah yang telah ditentukan Rasulullah ﷺ adalah dakwah ila alhaq; sedangkan kelembutan, keramahan, dan sikap yang baik dalam dakwah adalah cara yang dianjurkan dalam menyampaikan konten dakwah. Hanya sekadar cara, bukan kontennya itu sendiri.

Agenda Islam Moderat di Balik Dakwah Ramah

Dakwah ramah dan dakwah santun diangkat tokoh-tokoh yang mengaku moderat. Moderat mereka tafsirkan sebagai jalan tengah, tidak liberal, namun juga tidak radikal.

Mereka mengambil Islam sebatas ritual dan syariat parsial, seperti syariat dalam pernikahan, perceraian, dan akhlak; namun menolak penerapan syariat secara keseluruhan seperti sistem politik, pemerintahan, hukum pidana, dan sosial ekonominya.

Dalam keyakinan, mereka juga mengambil jalan tengah, menganggap Islam adalah agama yang benar dan agama yang lain juga benar. Karena itu mereka mengembangkan toleransi sampai pada batas menerima kebenaran agama lain, ikut merayakan hari raya agama lain, memfasilitasi perkembangan agama lain, dan menerima kepemimpinan agama lain.

Dalam kaitannya dengan dakwah, Islam moderat mengajarkan dakwah yang hanya menyeru kepada peribadahan dan akhlak. Inilah yang kemudian mereka sebut sebagai dakwah yang ramah, dakwah yang santun, dakwah yang tidak membenturkan umat dan penguasa. Padahal, Islam memerintahkan untuk mengingkari kezaliman penguasa. Rasulullah ﷺ bersabda,

Baca juga:  [Editorial] Serangan Barat di Balik Isu Ekstremis dan Moderat

“Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin? Barang siapa yang memasuki (berpihak kepada) mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kezaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku.” (HR al-Tirmidzi, al-Nasai, dan al-Hakim).

Mereka juga menyebutnya sebagai dakwah yang tidak menyalahkan agama yang lain, padahal Allah sendiri telah berfirman,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [٥:٧٣]

“Sesungguhnya kafirlah orangorang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga.’ Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS Al Maidah 73).

Kemudian mereka sebut dakwah yang mengajak pada demokrasi dan taat pada penguasa yang menolak pelaksanaan hukum Islam, padahal Allah telah berfirman,

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ

“…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS Al Maidah: 48)

Sungguh, dakwah ramah dan santun semacam ini justru akan menggiring umat pada pemahaman Islam secara parsial, bahkan memutilasi ajaran Islam.

Karena itu, konten-konten haq dalam pandangan Islam, seperti meyakini kebenaran hanya dalam Islam, Islam politik, kewajiban berhukum pada hukum Islam, dan wajibnya menerapkan Islam dalam institusi negara Khilafah, tetap menjadi konten dakwah yang harus disampaikan.

Jangan sampai kita hanya bicara tentang ibadah dan akhlak, sehingga membuat Islam kehilangan rohnya, mati karena tidak diterapkan dalam kehidupan. [MNews/Gz]


Referensi:

[1] https://www.eramuslim.com/berita/nasional/pkb-dukung-pembubaran-fpi-maman-minta-umat-islam-kuatkan-komitmen-dakwah-ramah.htm

[2] https://www.antaranews.com/berita/1898208/guru-besar-uin-harapkan-dakwah-santun-tanpa-benturkan-aparat-dan-ulama

One thought on ““Dakwah Ramah” Islam Moderat?

Tinggalkan Balasan