Menelusuri Jejak Hijrah Menuju Madinah Al Munawwarah

Oleh: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

MsulimahNews.com, TAPAK TILAS — Rasulullah saw. tak pernah tahu, pertolongan dakwah itu ternyata akan datang dari kota Yatsrib. Saat itu, di bulan haji tahun ke-13 kenabian (bi’tsah), ikhtiarnya mendakwahkan Islam dan mencari pertolongan dari pemilik kekuasaan (nushrah) mulai menampakkan tanda-tanda keberhasilan.

Di tengah-tengah musim haji itu, seperti biasa beliau mendatangi kabilah-kabilah Arab yang datang ke Makkah di tenda-tenda mereka di sekitar Mina. Hingga sampailah beliau pada kabilah Khazraj, yang ternyata menyambut baik seruan dakwah Rasulullah lantaran mereka memang sudah lama merindukan kebenaran.

Sebelum itu, nyaris 13 tahun lamanya beliau dan kelompoknya berjuang agar Islam diterima para pemuka kota Makkah. Namun alih-alih gembira menyambut anugerah risalah Islam yang turun di antara mereka, para penjaga Baitullah ini justru menjadi penentang Islam paling kuat dan paling keras.

Setelah dakwah masuk fase terbuka, tak hanya serangan verbal seperti caci-maki, fitnah, dan pencitraburukan yang dihadapi Rasul dan kelompoknya. Sebagian di antara mereka bahkan kerap diperlakukan sangat tidak layak, termasuk mengalami siksaan fisik yang berujung hilangnya nyawa.

Itulah kenapa Rasul saw. sempat mengizinkan mereka yang lemah untuk berhijrah ke Habsyah di tahun ke-5 bi’tsah. Yakni tahun kedua setelah dakwah dilakukan secara terbuka. Sementara sebagian lagi bertahan di Makkah menghadapi risiko perjuangan yang tak mudah.

Lalu di tahun ke-7 bi’tsah, gangguan yang dialami Rasul dan kelompoknya makin meningkat dalam bentuk pemboikotan. Tak hanya kaum muslim saja yang diboikot, tapi seluruh Bani Hasyim dan Bani Muthallib pun harus menanggung akibat dari dukungan mereka terhadap dakwah Rasul saw.

Namun setelah 3 tahun, ujian ini pun berlalu. Berganti dengan ujian lain yang tak kalah berat. Terutama saat pembela Nabi yakni pamannya Abu Thalib dan Khadijah, istrinya yang tercinta, di tahun ke-10 bi’tsah wafat. Di tahun itu, baginda Nabi mengalami tahun kesedihan (‘am al-huzni), hingga mendapat penghiburan dari Allah dengan peristiwa Isra Mikraj.

Mulai Mencari Nushrah

Di tahun itu yakni tahun ke 10 bi’tsah dakwah memang mulai stagnan. Bukan karena masyarakat tak ada lagi yang mau menerima Islam, tapi karena penguasanya makin represif dan menutup diri dari kebenaran.

Maka beliau pun mulai melebarkan sayap dakwahnya ke wilayah di luar Makkah. Salah satunya, beliau pergi ke kota Thaif yang berjarak sekira 60 mil (96,5 km) dari Makkah. Saat itu, beliau ditemani Zaid bin Harisah dan sempat tinggal di Thaif selama 10 hari.

Di sanalah beliau mendatangi pembesar Bani Tsaqif, yakni Abdi Talel, Khubaib, dan Mas’ud untuk menyampaikan ajaran tauhid. Namun sebagaimana yang masyhur diceritakan, Rasulullah justru mendapat jawaban yang sangat buruk. Beliau diumpat, dilecehkan, dan dihina.

Tak hanya itu, para pembesar Thaif menyuruh anak-anak dan budak-budak mereka untuk melempari beliau dan Zaid dengan batu. Hingga diceritakan, keduanya terluka dan lari ke kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.

Di kebun inilah malaikat Jibril datang dan menawari beliau untuk menimpakan gunung sebagai azab bagi bani Tsaqif. Namun saat itu baginda Rasul menolaknya, bahkan memanjatkan doa kebaikan buat mereka.

Demikianlah, hari-hari terus berlalu. Beliau tetap istikamah mendakwahkan risalah Islam. Seraya mencari celah dukungan dari kabilah-kabilah lainnya di luar kota Makkah.

Maka musim haji adalah waktu terbaik yang selalu beliau manfaatkan untuk menyebarkan Islam sekaligus mencari dukungan. Di masa itu, beliau bersengaja mendatangi kabilah-kabilah itu di tenda-tenda mereka di sekitar Mina.

Hingga sejarah mencatat setidaknya ada 28 kabilah yang beliau sambangi. Di antaranya Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani Amir bin Sha’sha’ah.

Namun qadarullah, semuanya kabilah itu menolak, mulai dengan cara yang halus hingga cara yang buruk. Mereka paham, dengan menerima tawaran Nabi, berarti mereka tak hanya berislam saja, tapi juga harus menyerahkan kekuasaan mereka dan harus bersiap menghadapi permusuhan dari bangsa Quraisy.

Dari Madinah, Harapan itu Datang

Barulah di tahun ke-12 dari bi’tsah, Rasulullah saw. bertemu dengan kabilah Khajraj yang justru menerima Islam dengan tangan terbuka. Sehingga tatkala mereka pulang ke negerinya di Yatsrib, beliau saw. mengutus sahabat Mush’ab bin Umair untuk menjadi duta Islam pertama yang akan mendakwahkan Islam di sana.

Tak lebih dari satu tahun waktu yang dibutuhkan Mush’ab untuk berdakwah menyiapkan masyarakat di kota Yatsrib. Di sana, Islam dengan cepat diterima para tokoh kunci yang dikuti kaumnya. Mereka berbondong-bondong menerima dakwah Islam hingga Islam dan kepemimpinan Muhammad pun menjadi opini umum di tengah-tengah masyarakat kota Yatsrib.

Maka di musim haji tahun berikutnya, yakni tahun ke-13 bi’tsah, sebanyak 75 tokoh Yatsrib, dua di antaranya perempuan, sengaja datang ke Makkah untuk menemui Nabi yang mereka cinta dan rindukan. Lalu pada suatu malam yang dijanjikan, terjadilah baiat Aqabah kedua yang fenomenal itu.

Dengan baiat inilah para tokoh kunci Yatsrib dari kalangan Aus dan Khajraj, dengan resmi menyatakan penyerahan kekuasaan mereka kepada Rasulullah saw.. Momen ini sekaligus menjadi tonggak tegaknya negara Islam pertama di kota Yatsrib yang kelak disebut sebagai Madinah Al-Munawwarah (Kota Bercahaya).

Setelah itu, hijrahlah kaum mukminin secara bergelombang ke kota Madinah Al-Munawwarah. Sementara baginda Rasul dan sahabatnya Abu Bakar ra. tetap berada di Makkah menunggu-nunggu perintah Allah SWT. Hingga di satu malam, saat itu pun tiba.

Saat itu, kaum Quraisy tampak sedang berada di puncak kemarahan. Sehubungan akhirnya mereka tahu telah terjadi peristiwa sumpah setia penduduk Yatsrib kepada musuh mereka. Mereka tahu, telah banyak kaum muslimin yang diam-diam pergi berhijrah ke tempat itu.

Mereka khawatir dengan apa yang akan terjadi saat Muhammad bersatu dengan kekuatan Madinah. Tentu ini akan menjadi ancaman politik buat mereka di masa yang akan datang.

Mereka pun akhirnya sepakat untuk membunuh Muhammad dengan melibatkan para pemuda yang mewakili seluruh kabilah yang ada di kota Makkah. Mereka berpikir, dengan cara itu mereka bisa menghindar dari tuntutan balas Bani Hasyim dan Bani Muthallib karena pelakunya bukan hanya satu dua.

Saat Perintah Hijrah itu Tiba

Itulah malam turunnya perintah hijrah bagi Rasulullah. Para ahli sirah menyebutkan, peristiwa hijrah ini terjadi pada Senin malam awal bulan Rabiulawal tahun pertama hijrah atau 16 September 622 Masehi.

Saat itu, beliau memerintahkan Sayyidina Ali tidur di pembaringannya. Lalu beliau keluar melewati para algojo Quraisy yang sudah mengepung rapat sekitar rumahnya. Beliau keluar dalam keadaan aman. Konon, beliau menaburkan pasir ke arah mereka, hingga penglihatan mereka pun buta untuk sementara.

Beliau pun pergi ke rumah Abu Bakar yang sudah dalam posisi siap siaga. Lalu bersamanya berlari menjauhi kota Makkah. Sebelumnya, beliau sudah memutuskan akan menempuh jalur yang berbeda dari yang biasa dilalui penduduk Makkah untuk menuju Madinah.

Kemudian beliau dan sahabatnya berlari menuju gua yang ada di gunung Tsur yang berjarak 6-7 km di selatan kota Makkah. Padahal, kota Madinah yang menjadi tujuan hijrah ada di sebelah utara kota Makkah. Targetnya adalah untuk mengelabui kafir Quraisy yang dipastikan akan melakukan pengejaran.

Di Gua Tsur inilah Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi selama kurang lebih tiga hari. Kebutuhan logistik beliau selama di sana, setiap harinya dipasok Asma putri Abu Bakar dengan bantuan Abdullah putra Abu Bakar yang bertugas menghapus jejak kaki Asma dengan kambing-kambing yang digembalakannya di dekat sana.

Persembunyian ini nyaris diketahui orang kafir. Namun Allah SWT menolong Nabi dan sahabatnya dengan mukjizat-Nya yang agung. Seekor laba-laba dan dua ekor burung dengan cepat membuat sarang di pintu gua. Di saat sama, muncul pula tetumbuhan yang menutup pintu gua.

Setelah kondisi aman, beliau berangkat menuju Madinah bersama dua ekor unta yang sudah disiapkan Abu Bakar. Sebelumnya unta-unta itu dititipkan kepada seorang Arab Badui bernama Abdullah bin Uraiqith yang diupah Abu Bakar untuk menjadi penunjuk jalan dalam perjalanan hijrah.

Hijrah dengan Rute Tak Biasa itu Luar Biasa

Atas petunjuk Abdullah bin Uraiqith tersebut, beliau mengambil jalur ke arah barat menuju Hudaibiyah, arah sebelah timur desa Sarat. Kemudian menuju arah Madinah dan berhenti di sebuah kawasan di al-Jumum dekat wilayah Usfan. Lalu, bergerak ke arah barat dan memutar ke perkampungan Ummul Ma’bad dan berhenti di wilayah Al-Juhfah.

Selanjutnya, beliau menuju Thanniyat al-Murrah, Mulijah Laqaf, Muwijaj Hujaj, Bath Dzi Katsir, hingga tiba di Dzu Salam. Di sini, beliau memutar ke arah barat sebelum meneruskan ke arah Madinah dan berhenti di daerah Quba.

Di sini beliau tinggal di keluarga Amr bin ‘Auf selama empat hari dan sempat mendirikan Masjid Quba, yaitu Masjid pertama yang didirikan Rasul saw..

Setelah dari Quba, atau sekitar satu kilometer dari Quba di Bathni Wadin, beliau menerima perintah Salat Jumat. Maka beliau bersama umat Islam lainnya melaksanakan salat Jumat pertama. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah masjid di lokasi ini dengan nama Masjid Jumat.

Setelah itu, barulah Rasul saw. menuju kota Madinah. Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan yang tak mudah dan penuh ujian, beliau bersama Abu Bakar pun tiba dengan selamat.

Mereka disambut dengan sambutan yang luar biasa. Karena kaum mukmin dari kalangan Muhajirin dan Anshar telah lama menanti-nanti kedatangan pemimpin yang dicintainya.


Di Madinah inilah beliau mulai menggagas asas-asas sebuah negara Islam pertama. Mulai dari membangun masjid sebagai pusat aktivitas politik, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menstabilkan ekonomi dan kondisi politik dalam negeri, hingga mempersiapkan kekuatan militer dan aktivitas pengiriman utusan dan surat-surat ke berbagai negara di luar Madinah.

Sungguh tak perlu waktu lama bagi Rasulullah menjadikan negara yang dibangunnya sebagai kekuatan politik yang disegani di seantero jazirah. Karena negara ini tegak di atas asas keimanan dan aturan yang sahih dan didukung masyarakat yang memiliki kesadaran.

Khatimah

Sungguh peristiwa hijrah Rasulullah saw. memberi kita pelajaran, keimanan menuntut kesiapan untuk taat, yakni siap meninggalkan seluruh hukum jahiliah dan siap menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena hakikat hijrah adalah berpindah dari masyarakat kufur jahiliah menuju sistem Islam.

Namun hijrah juga mengajarkan, sunatullah dalam menjalankan ketaatan adalah akan diuji dengan berbagai rintangan. Bekal takwalah yang akan menuntun kita sampai pada tujuan. Allaahu a’lam bi ash-Shawwab. [MNews/Juan] — Disarikan dari berbagai sumber.

One thought on “Menelusuri Jejak Hijrah Menuju Madinah Al Munawwarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *