[Sirah Nabawiyah] Pengusiran Yahudi Bani Nadhir

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Berbagai peristiwa pasca kekalahan kaum muslimin di perang Uhud ternyata mempengaruhi aktivitas masyarakat Madinah.  Rasulullah Saw. mengambil langkah mengatasinya dengan menyelesaikan kondisi di dalam negeri.

Persoalan di dalam negeri berpusat pada kaum Yahudi dan munafik. Mereka selalu berusaha memperlemah kewibawaan kaum muslimin dan Negara Madinah, meskipun Rasulullah Saw. telah mengikat mereka dalam perjanjian.

Terusirnya Bani Nadhir dari Madinah

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi terusirnya Bani Nadhir dari Negara Madinah, di antaranya:

Pertama, Bani Nadhir merusak perjanjian mereka dengan Rasulullah Saw. bahwasanya mereka tidak akan mengganggu dan melakukan tindakan ofensif terhadap umat Islam. Tidak hanya mengganggu umat Islam, Bani Nadhir menjalin persekongkolan dengan kafir Quraisy untuk memerangi Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.

Salah seorang tokoh Bani Nadhir yang bernama Salam bin Misykam mengadakan pertemuan dengan Abu Sufyan untuk mengabarkan tentang keadaan kaum muslimin di Madinah.

Kedua, melakukan percobaan pembunuhan terhadap Nabi Saw.

Ini adalah kesalahan fatal yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Bani Nadhir. Mereka mencoba untuk membunuh Nabi Muhammad Saw.  padahal sebelumnya mereka telah berjanji untuk tidak mengganggu seorang muslim pun.

Suatu hari Nabi Saw. bersama beberapa orang sahabatnya pergi ke perkampungan Bani Nadhir untuk meminta diyat terkait terbunuhnya dua orang dari Bani Kilab oleh Amr bin Umayyah ad-Damiri.

Ketika Rasulullah Saw. mengutarakan maksud kedatangan beliau  ke Bani Nadhir, awalnya mereka menyanggupinya. Mereka mengatakan, “Wahai Abul Qasim, kami akan memenuhinya. Silakan duduk sampai kami bisa memenuhi kebutuhanmu.

Baca juga:  Gaza Kembali Terluka, Siapa Sudi Membela?!

Rasulullah Saw. duduk di dekat tembok rumah mereka bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan beberapa sahabat lainnya.

Sementara di tempat lain orang-orang Bani Nadhir berkumpul dan berencana membunuh Rasulullah Saw. Mereka mengatakan, “Siapa di antara kalian yang mau menjatuhkan batu ini ke kepala Muhammad sampai pecah?”

Salah satu dari mereka yang bernama Amru ibnu Jihasy mengatakan, ”Saya.”

Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw. melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam yang memberitahukan rencana tersebut. Setelah mendapat wahyu itu, Nabi Saw. segera beranjak dari tempat duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan pulang ke Madinah, begitu pula para sahabat.

Para sahabat  bertanya tentang apa yang menyebabkan beliau Saw. tiba-tiba bangkit dari tempat beliau dan pulang. Rasulullah Saw. menceritakan niat keji orang-orang yahudi yang hendak membunuhnya.

Tidak beberapa lama, Rasulullah Saw. mengutus Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan keputusan Rasulullah Saw. kepada Bani Nadhir. Muhammad bin Maslamah berkata kepada orang-orang Yahudi Bani Nadhir, “Keluarlah kalian dari Madinah. Aku beri kalian tenggat waktu 10 hari. Jika aku menemukan kalian setelah 10 hari tersebut, akan aku tebas batang lehernya!

Peranan Orang-Orang Munafik

Mendengar pesan Rasulullah Saw. yang disampaikan oleh Muhammad bin Maslamah radhiyallahu ‘anhu, orang-orang Yahudi Bani Nadhir pun takut. Mereka mempersiapkan diri untuk pergi dari Madinah, membawa barang apa pun yang bisa mereka bawa. Saat inilah orang-orang munafik Madinah memainkan perannya.

Tokoh munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul memberi angin surga untuk orang-orang Yahudi ini. Ia berkata, “Kalian jangan pergi, jangan keluar dari Madinah. Sesungguhnya bersamaku ada 1.000 orang yang siap mempertahankan benteng kalian. Membela kalian dan rela mati demi berjuang bersama kalian.

Baca juga:  Rumah Dirampas Israel, Muslim Palestina Huni Gua Sarang Kalajengking

Saat itulah Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta”. (QS. Al-Hasyr: 11)

Kepercayaan diri orang-orang Yahudi pun kembali ke dada-dada mereka. Tokoh Bani Nadhir Huyai bin Akhtab mengirim utusan kepada Rasulullah Saw. yang membawa pesan, “Sungguh kami tidak akan pernah keluar dari kampung halaman kami. Lakukanlah apa yang engkau inginkan.

Tantangan Yahudi ini pun dibeli oleh Rasulullah Saw. Beliau langsung memimpin para sahabatnya untuk menyerang perkampungan Bani Nadhir. Melihat respons dari Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, orang-orang munafik pun menarik dukungan mereka terhadap orang-orang Yahudi Bani Nadhir.

Allah Ta’ala berfirman mengisahkan mereka,

Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.(QS. Al-Hasyr: 12)

Oleh karena itu, Allah samakan orang-orang munafik ini dengan setan.

Baca juga:  Sebelumnya Sembunyi-sembunyi, Akhirnya Penguasa Rezim Al-Saud Umumkan Normalisasinya dengan Entitas Yahudi

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu,” maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.” Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hasyr: 16-17)

Penyerangan terhadap Bani Nadhir ini tidak berlangsung lama. Rasulullah Saw. dan para sahabatnya hanya membutuhkan waktu satu malam untuk membuat orang Yahudi itu takut bukan kepalang. Akhirnya mereka menyerah dan menyepakati untuk pergi dari Madinah.

Mereka diizinkan membawa unta-unta mereka, namun tidak diizinkan membawa senjata-senjata mereka keluar dari Madinah.

Namun yang menunjukkan betapa dengkinya Yahudi terhadap umat Islam adalah mereka robohkan rumah-rumah mereka sebelum berangkat dan mereka ambil puing-puing yang bisa mereka manfaatkan, lalu dibawa di atas unta mereka.

Mereka lakukan itu agar tidak ada yang bisa dimanfaatkan oleh kaum muslimin dari apa yang mereka tinggalkan. Mereka sama sekali tidak rida kaum muslimin mendapatkan manfaat dan kebaikan walaupun hanya sedikit saja.

Sebagian di antara mereka pergi menuju Syam dan sebagian yang lainnya bergabung dengan orang-orang Yahudi di Khaibar.

Dengan pengusiran Bani Nadhir dan memberi pelajaran kepada mereka, Rasulullah Saw. berhasil memantapkan kedudukan politik di dalam negeri dan mengembalikan kewibawaan kaum muslimin dan Negara Islam Madinah. Wallahua’lam bishshawab. [MNews/Rgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

3 thoughts on “[Sirah Nabawiyah] Pengusiran Yahudi Bani Nadhir

    • 27 Januari 2021 pada 09:35
      Permalink

      bener tuh… ini yang disebut negara merdeka.
      Hanya bergantung kepada Allah, bukan bergantung kepada bangsa dan negara lain.

      Hanya Allah sudah lebih dari cukup.

Tinggalkan Balasan