[News] Refleksi 2020: Potret Buram Umat

MuslimahNews.com, NASIONAL — Tahun 2020 menjadi potret buram perjalanan umat. Terjadinya pandemi di saat resesi ekonomi, makin memperburuk keadaan.

Hal ini disoroti penulis dan pemerhati perempuan, Ustazah Siti Nafidah Anshory, pada acara Live Discussion: “Harapan Umat, Kepemimpinan Ideologis Menuju Tegaknya Khilafah” di FP Muslimah News ID (25/12/2020).

Ustazah Siti Nafidah menjelaskan, terjadi persoalan di berbagai aspek. Seperti kebijakan pemerintah yang keliru saat membuka arus manusia masuk di awal pandemi dunia, yang menyebabkan pandemi turut hadir di negeri ini. Apalagi dengan kebijakan era pandemi yang tidak membuat kondisi membaik, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan fokus menarik investasi sebanyak-banyaknya.

Lalu dikukuhkannya UU No. 109/2020 ada sekitar 201 Proyek Strategis Nasional (PSN) dijual kepada investor asing dan lokal, program bantuan sosial langsung yang digadang-gadang bisa menjadi solusi, tetapi faktanya masyarakat justru tambah terpuruk.

“Dana bantuan tersebut dikorupsi, dan tidak tepat sasaran. Penggerakan sektor riil pun tidak terwujud,” paparnya.

Dampaknya, sektor riil terhantam, utang menumpuk, hingga Indonesia menjadi juara kesepuluh utang terbanyak. Bahkan jika dihitung setiap warga negara menanggung utang 20,5 juta. Belum lagi pengangguran massal. Dari sini muncul persoalan seperti daya beli anjlok, bahkan pendapatan Indonesia terkategori rendah yaitu di urutan ke-120 dunia.

Baca juga:  Mengembalikan Peran Strategis Ibu

Kemiskinan pun meningkat, kelaparan merajalela, dan berdampak ke kehidupan sosial seperti kriminalitas. Penguasaan aset oleh asing juga semakin lebar.

“Terlebih penanganan Covid-19 yang belum menggembirakan. Tidak terbayangkan pada hari ini penambahan kasus harian bisa mencapai ribuan,” kritiknya.

Bertambahnya Beban Perempuan

Kondisi ini berimbas pula kepada kaum perempuan. Ustazah Siti menjelaskan, kesulitan ekonomi telah memaksa perempuan berperan ganda. Akhirnya kondisi ini dimanfaatkan penguasa untuk menancapkan program yang sejak dulu memberikan ekses negatif kepada perempuan, yaitu Program Ekonomi Perempuan (PEP).

“Perempuan dengan segala perannya yang berat dipaksa juga memberi solusi terhadap problem kemiskinan untuk menghasilkan secara ekonomi,” tukasnya.

Belum lagi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), peran ibu makin bertambah dengan menjadi guru di rumah. Tak jarang mengakibatkan ibu dan anak stres yang berujung kekerasan dan memicu ketegangan antara antara istri dan suami. Konstruksi keluarga makin rapuh dengan indikator gugat cerai yang meningkat.

Masalah di Semua Aspek

Dari aspek politik, kekuasaan oligarki dan politik dinasti juga menguat dengan adanya industrialisasi dan kasus korupsi politisi.

“Ada tiga menteri terjaring OTT. Dan ini sejalan dengan “pembacaan” dunia yang mendaulat Indonesia juara ke-3 korupsi,” ungkapnya.

Baca juga:  Politik Dinasti: Dipelihara Demokrasi, Ditolak Islam

Menurutnya, yang sangat beririsan dengan nasib umat Islam adalah kondisi politik saat ini tampak sensitif, seolah mengalami islamofobia. Hal ini tampak dari kebijakan-kebijakannya yang cenderung anti-Islam, yang disebutnya sebagai sistem politik tangan besi.

“Syaiful Muzani mengatakan sistem politik tangan besi itu lekat dengan demokrasi. Karena saat ada yang masuk, harus ikut dengan putarannya dan berkompromi. Jika tidak, harus siap ‘dipukuli’,” tegasnya.

Di aspek  sosial, layanan publik pun makin kacau. “Banyak kasus layanan kesehatan yang dikapitalisasi. Kita respek dengan tenaga medis yang seolah-olah dikorbankan. Dipaksa maju ke medan perang tanpa senjata,” urainya.

Dalam aspek hukum, dengan dalih menghindari penyebaran Covid-19, narapidana dibebaskan. Eksesnya kriminalitas pun meningkat. Ditambah lagi aspek pertahanan keamanan.

“Ada ancaman disintegrasi Papua. Keberanian Benny Wenda menyatakan kemerdekaan Papua menunjukkan kelemahan hankam bangsa ini. Kemudian dimunculkannya isu terorisme secara masif di bulan-bulan terakhir. Misalnya Lampung sebagai pusat terorisme. Di-framing sebagai teroris dan sebagainya,” ungkapnya miris.

Selain itu, Ustazah Siti menyorot aspek media yang terseret arus dan adanya fenomena buzzer. “Banyak media menjadi amplifier hoaks. Sebagaimana disampaikan Rocky Gerung, produsen terbesar hoaks itu penguasa. Amplifier-nya media,” cetusnya.

Baca juga:  Solusi Total Atasi Kemiskinan Massal

Semua ini menggambarkan betapa buramnya potret umat di sepanjang 2020. Ustazah Siti menegaskan, fase ini memang sudah masanya dan dirasakan siapa pun. Untuk itu umat harus melewati masa ini, serta penting memahamkan umat tentang urgensi sistem Islam yang menerapkan syariat kafah.

“Harus diiringi penyadaran bahwa ini adalah kewajiban dan konsekuensi keimanan. Kemudian membandingkan sistem saat ini dengan Khilafah dan memberikan gambaran konstruktif Khilafah kepada umat,” tegasnya. [MNews/Ruh-Gz]

2 thoughts on “[News] Refleksi 2020: Potret Buram Umat

  • 1 Januari 2021 pada 17:36
    Permalink

    Khilafah Insya Allah akn segera hadir menghapus luka ummat Rasulullah SAW terakibat kezaliman sistem kapitalisme neoliberal

Tinggalkan Balasan