[News] Refleksi 2020: Menuju Khilafah yang Berkah

MuslimahNews.com, NASIONAL — Penulis dan pemerhati perempuan, Ustazah Siti Nafidah Anshory menyatakan, berbagai peristiwa dan potret buram yang terjadi sepanjang 2020 ini, sesungguhnya telah digambarkan Rasulullah saw. 1.400 tahun lalu.

Saat itu Rasulullah saw. bersabda, “Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR al-Hakim).

Menurutnya, jika dinilai secara jujur, umat sudah mulai merasakan bahwa kesejahteraan dalam kepemimpinan demokrasi cuma mimpi. Bahkan sudah banyak kritik akan sistem demokrasi ini termasuk apa yang tertulis dalam buku How Democracies Die yang viral baru-baru ini.

“Ada benang merah antara isi buku tersebut dengan realitas pelaksanaan demokrasi hari ini. Misal penulis menyebut bahwa hari ini pagar demokrasi, yakni toleransi dan kemampuan menahan diri telah hilang. Bahkan pelaku intoleransi yang paling utama adalah penguasa yang terpilih melalui jalur demokrasi,” ujarnya pada acara Live Discussion: “Harapan Umat, Kepemimpinan Ideologis Menuju Tegaknya Khilafah” di FP Muslimah News ID (25/12/2020).

Ustazah Siti juga menyebutkan, bahwa empat pilar demokrasi yakni eksekutif, legislatif, yudikatif (trias politika), dan media, sebenarnya sudah runtuh. Bahkan keempatnya, justru saling mengukuhkan munculnya kepemimpinan politik oligarki dan politik dinasti. Hal ini ditandai dengan munculnya kebijakan-kebijakan pro pemilik modal dan pro kepentingan kelompok dan golongan.

“Wajar jika di tengah situasi itu, umat mulai jengah dengan kepemimpinan demokrasi. Dan dinsaat sama gagasan perubahan menuju penerapan sistem Islam yakni Khilafah makin menguat. Media-media yang menyampaikan Khilafah secara konstruktif mulai mudah diterima masyarakat sebagai pilihan rasional,” katanya menjelaskan soal adanya perubahan alternatif.

Baca juga:  Menanggalkan Dilema, Mencari Format Pendidikan Tahan Krisis

Hanya saja, tambahnya, ekses dari menguatnya gagasan perubahan ke arah Khilafah ini ternyata memunculkan perlawanan dari para penjaga sistem saat ini, baik dari pihak penguasa maupun para pendukungnya.

Mereka merespons munculnya geliat masyarakat untuk menggagas perubahan dengan sikap yang sangat represif. Sebagaimana mereka merespons suara-suara kritis yang mempertanyakan berbagai kebijakan yang cenderung menyengsarakan rakyat.

Menurutnya, kondisi ini memang sejalan dengan hadis Rasulullah. “Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” [HR Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)].

Menurutnya, realitas saat ini menggambarkan fase keempat sebagaimana gambaran Rasulullah pada hadis di atas. Yakni gambaran kepemimpinan diktator yang keberadaannya dapat dirasakan siapa pun, dan tampaknya memang sudah masanya.

Baca juga:  Politik Dinasti: Dipelihara Demokrasi, Ditolak Islam

“Untuk itu kita harus melewati masa ini serta menguatkan apa yang harus dilakukan,” tegasnya.

Urgensi Dakwah Pemikiran Ideologis

Berdasar potret tersebut, Ustazah Siti menekankan kebutuhan akan dakwah pemikiran tanpa kekerasan untuk menumbuhkan kesadaran ideologis terhadap hakikat kepemimpinan.

Menurutnya, harus ada upaya menyadarkan umat bahwa sistem sekuler demokrasi bukan habitat kaum muslimin, dan menjauhkan mereka dari karakter khairu ummah. Hal ini dikarenakan demokrasi lahir dari asas yang rusak dan melahirkan aturan-aturan yang juga rusak.

“Penting pula memahamkan umat akan urgensi Khilafah diiringi penyadaran bahwa Khilafah adalah kewajiban dan konsekuensi keimanan. Umat juga harus diberi gambaran yang konstruktif tentang Khilafah dan bagaimana Khilafah bisa mewujudkan kehidupan yang sejahtera penuh berkah,” cetusnya.

Untuk menuju perubahan itu, Ustazah Siti Nafidah juga memaparkan pentingnya mewujudkan tiga hal. Pertama, umat harus menyadari bahwa mereka sedang berada dalam situasi yang salah dan harus berubah.

Kedua, umat memiliki gambaran bagaimana arah perubahan yang sahih (Khilafah), serta mengupayakan agar umat memiliki gambaran yang benar tentangnya.

Ketiga, umat harus paham roadmap atau peta jalan menuju Khilafah. Hal ini tentu berbicara tentang bagaimana baginda Rasulullah memberi contoh mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam.

“Yang pasti, yang dibutuhkan hari ini bukan hanya perubahan orang saja, tapi justru harus dibarengi perubahan sistem. Jika terus terjebak dalam pergantian orang, kondisi umat akan makin terpuruk dari sekarang,” urainya.

Hal-Hal yang Dibutuhkan Umat

Agar ketiga hal tersebut dapat terlaksana, menurut Ustazah Siti Nafidah ada hal-hal yang dibutuhkan umat, yang pertama adalah ilmu.

Baca juga:  Perempuan Susah Tanpa Khilafah

“Umat harus mengkaji ilmu untuk meningkatkan kapasitas diri dalam pelaksanaan semua kewajiban dan memenuhi kebutuhan akan amunisi dakwah. Dan ini didapatkan bukan dari kajian biasa, tetapi dari kajian-kajian yang bersifat ideologis dan politis,” jelasnya.

Kemudian, bersama-sama membangun kesadaran politik umat dengan Islam dengan massif dan simultan. Karena basis perubahan adalah adanya umat yang juga sadar akan urgensi perubahan.

“Hal lainnya, menggagas perubahan ke arah tegaknya Khilafah tentu tak mungkin dilakukan sendirian. Sehingga mesti menjadi bagian jemaah dakwah agar aktivitasnya terorganisir, terarah, dan tepat sasaran,” paparnya.

“Lalu di tengah umat harus ada aktivitas muhasabah lil hukam atau mengoreksi penguasa. Sehingga umat harus melek politik, tidak boleh apatis dan berpikir hanya untuk kepentingan individu. Karena sudah menjadi karakter kaum muslimin untuk melakukan amar makruf nahi mungkar,” tegasnya.

Bekal Menghadapi Era Penuh Fitnah

Ustazah Siti mengatakan, saat ini memang sudah masuk di era penuh fitnah. Maka untuk menghadapinya, umat wajib meningkatkan ketakwaan sebagai sebaik-baik bekal melalui taqarrub ilallah.

“Umat juga butuh ilmu sebagai amunisi perjuangan, karena tanpa ilmu, [umat] akan tersesat. Perlu kewaspadaan akan adanya upaya kanalisasi girah umat yang berjalan halus dan masif. Sehingga semangat perubahan umat ini benar terarah pada upaya mencampakkan demokrasi, bukan malah melanggengkannya” jelasnya.

Dengan demikian, kondisi umat yang senantiasa dalam keadaan terpuruk akan segera berubah, sejalan dengan makin kokohnya keyakinan umat untuk melangkah menuju tegaknya Khilafah yang diberkahi Allah SWT. [MNews/Ruh-Gz]

2 thoughts on “[News] Refleksi 2020: Menuju Khilafah yang Berkah

Tinggalkan Balasan