Peningkatan Peran Perempuan Dalam Bingkai Feminis, Akankah Membawa Perubahan?

“Hanya Islam yang menjamin dan melindungi peran perempuan!”


Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Belum lama ini, saat membuka acara LEAP Virtual Summit secara daring, wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, menilai perlu “lompatan besar” dalam mewujudkan peningkatan peran dan hak-hak perempuan agar setara.

Ia mengajak para perempuan Indonesia bergerak bersama, melahirkan terobosan sesuai konteks dan peluang yang ada untuk menjawab tantangan di masa kini dan mendatang.

“Kita butuh langkah besar untuk sebuah lompatan besar demi memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara. Bercermin dari sejarah, perempuan telah melakukan langkah besar melalui ide dan kerja nyata.”

Menurutnya, hal membanggakan di masa pandemi, secara nyata kaum perempuan telah menunjukkan peran yang signifikan. Tujuh perempuan kepala negara yang dipuji karena mengelola pandemi Covid-19 secara baik, yaitu Mette Frederiksen (Denmark), Kartin Jakobsdottir (Islandia), Sanna Marin (Finlandia), Angela Merkel (Jerman), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberf (Norwegia), dan Tsai Ing-wen (Taiwan).

“Kata-kata dan tindakan para perempuan pemimpin itu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya. Perempuan Indonesia di setiap masa menorehkan sejarah warisan kepemimpinan yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga menginspirasi.”

Ia menilai, memberi ruang bagi perempuan Indonesia untuk bergerak, menjadi pemimpin, dan melakukan perubahan adalah potensi bangsa yang harus diwujudkan. Benarkah demikian?

Potret Buram Perempuan

Jika kita mau jujur, sesungguhnya keberhasilan pemimpin perempuan menangani Covid-19 saja tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan perempuan. Faktanya, kondisi perempuan di dunia saat ini terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan.

Menurut data PBB, 1/3 penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan, 70% di antaranya adalah kaum perempuan. (jurnalperempuan.com).

Kondisi ini pun dialami Indonesia, negeri kaya raya tapi ironisnya lebih dari separuh penduduknya miskin, dan sebagian besarnya perempuan. Inilah yang menyebabkan kualitas hidup perempuan begitu rendah.

Dampak kemiskinan lain akibat merebaknya paham liberalisme dan hedonisme adalah terjebaknya kaum perempuan dalam bisnis kotor semacam pelacuran dan pornografi. Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai “surga” kedua bisnis pornografi di dunia setelah Rusia. Ini berdampak pada meningkatnya jumlah PSK “legal” di lokalisasi dan PSK “ilegal” di jalanan.

Sekitar Februari 2020, Polda Sulut mengamankan 20 anak muda dan menetapkan delapan di antaranya sebagai tersangka prostitusi anak di bawah umur. Prevalensi pelacuran anak di bawah 18 tahun, ada sekitar 30%. Sekitar 150.000 anak diperdagangkan untuk tujuan seksual. (Kompas.com).

Kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat. Di Jawa Timur, sepanjang 2020 terjadi 284 kasus dengan 551 korban ditangani LBH Surabaya. Bentuk pelanggaran yang kerap adalah KDRT, disusul kekerasan nonfisik. Sedangkan terhadap anak adalah penganiayaan, pemerkosaan dan pencabulan. (Liputan6.com).

Kemiskinan pun telah mendorong lebih dari 40 juta perempuan Indonesia terjebak dalam dunia kerja yang tak ramah dan tak memihak perempuan. Jutaan di antaranya hidup di kawasan industri yang kumuh untuk menjadi roda pemutar mesin-mesin pabrik milik para kapitalis dengan upah murah.

Baca juga:  Desa Ramah Perempuan: Liberalisasi Perempuan di Desa dalam Kerangka Feminisme

Sebagiannya lagi bekerja di sektor-sektor informal yang tak menjanjikan kemudahan. Jutaan lainnya berbondong-bondong menjadi buruh migran bahkan di antaranya menjadi korban sindikat perdagangan perempuan.

Apakah beberapa fakta ini menunjukkan terjadinya perubahan nasib perempuan atau masyarakat secara umum? Jelas tidak!

Mencari Akar Masalah

Demikianlah wajah kaum perempuan saat ini, buram! Jika kita cermati, kita akan temukan apa yang menjadi biang keladi. Ya, faktanya kaum perempuan saat ini telah terbawa arus feminisme. Mereka menjadikan ide fminisme yang lahir dari sekuler kapitalis sebagai pijakan.

Mereka menilai persoalan perempuan akan terselesaikan dengan membebaskan perempuan berkiprah di mana pun, terutama di ranah publik sehingga suara dan partisipasinya diperhitungkan baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Alih-alih mampu mengangkat nasib perempuan, gagasan ini justru menjadi racun yang kian mengukuhkan ketakmungkinan menyelesaikan persoalan perempuan.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan feminisme telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan bahkan telah dengan sukses menjerumuskan perempuan ke dalam jurang jahiliah dan kegelapan. Betapa tidak? Kondisi kaum perempuan saat ini tak ubahnya seperti perempuan di masa jahiliah, walau dalam penampakan yang tidak persis sama.

Apakah kita tetap ingin berada dalam kegelapan dan berharap pada sistem rusak ini? Sudah saatnya kita bergerak membangunkan umat dari rasa terlena. Kegelapan ini tidak akan pernah beranjak selama umat Islam mencampakkan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya.

Sebaliknya, umat akan mulia dan meraih kemenangan jika menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya,

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang telah yakin?” (QS Al-Maaidah:50)

Oleh karenanya, secara imani dan realistis, penyelesaian mendasar dari semua persoalan ini hanyalah dengan mencampakkan sistem yang rusak dan kembali kepada sistem yang mampu menyelesaikan secara tuntas dan adil, yakni sistem yang berasal dari Yang Mahasempurna dan Mahaadil.

Itulah sistem Islam, yang telah teruji selama berabad-abad membawa umat ini pada kemuliaan, khairu ummah. Sebuah sistem yang mampu menjadi motor peradaban dan membawa rahmat bagi manusia secara keseluruhan.

Hanya Islam yang Menjamin dan Melindungi Hak dan Peran Perempuan

Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki aturan yang komprehensif yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi siapa pun, termasuk perempuan.

Hanya sistem Islam yang memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan yang berangkat dari pandangan yang universal mengenai perempuan. Yakni pandangan yang melihat perempuan sebagai bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam kancah kehidupan ini.

Baca juga:  Menjauhkan Masjid Dari Pemikiran Menyimpang? Wajib!

Islam bersumber dari Zat Yang Maha Pencipta dan Pengatur, dipastikan akan menjamin kebahagiaan manusia secara keseluruhan selama diterapkan secara kaffah. Aturan Islam dipastikan akan bersifat tetap sekalipun bentuk kehidupan masyarakat berubah, karena Islam datang dari Yang Mahasempurna.

Maha Suci Allah yang telah memberi aturan Islam yang bersifat tetap dan sempurna. Aturan yang telah memuliakan kaum perempuan setelah sebelumnya mereka dihinakan dan direndahkan. Di mana pada saat itu perempuan tak lebih dari benda yang bisa dimiliki dan diwariskan, bahkan hanya sebagai pemuas nafsu laki-laki.

Yang lebih mengerikan, pada saat itu perempuan menjadi simbol kehinaan, sehingga kehadiran anak perempuan dianggap sebagai aib luar biasa besar, dan membunuhnya menjadi budaya yang diwajarkan.

Jelas, sebuah revolusi besar ketika Islam datang dengan mengungkapkan perempuan dan laki-laki adalah manusia dengan segala potensi hidup dan akalnya.

Sebagai manusia, perempuan mengemban tugas hidup yang sama dengan laki-laki, yakni beribadah kepada Allah Al-Khaliq, sekaligus mengemban misi kekhalifahan di muka bumi berdasarkan aturan hidup yang telah ditentukan.

Islam juga menetapkan bahwa standar kemuliaan seseorang tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin, kedudukan, dan materi, melainkan berdasar kadar ketakwaan di hadapan Allah.

Karenanya, Islam menetapkan aturan yang adil dan harmonis yang akan menjamin kemuliaan hidup keduanya, dunia dan akhirat.

Memang benar, adakalanya Allah memberi aturan yang sama di antara laki-laki dan perempuan. Sebagai hamba Allah, secara insaniah keduanya memiliki potensi dan akal yang sama. Keduanya wajib menuntut ilmu, berbakti pada orang tua, menegakkan salat, menunaikan zakat, shaum, haji, mengemban dakwah, dan lain-lain.

Adakalanya pula Allah memberi aturan yang berbeda, karena dari sisi tabiat keduanya berbeda, baik berkaitan dengan fungsi dan kedudukan masing-masing dalam masyarakat.

Adapun tentang peran perempuan, Islam telah menetapkan secara khusus tanggung jawab kepemimpinan sebagai ibu dan pengatur rumah (ummun wa rabbat al-bayt). Sebagai ibu, dia wajib merawat, mengasuh, mendidik dan memelihara anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang mulia di hadapan Allah.

Sebagai pengatur rumah suaminya, dia berperan membina, mengatur dan menyelesaikan urusan rumah tangganya agar memberikan ketenteraman dan kenyamanan bagi anggota-anggota keluarga yang lain, sekaligus menjadi mitra utama laki-laki sebagai pemimpin rumah tangganya berdasarkan hubungan persahabatan dan kasih sayang.

Dengan peran-peran khususnya ini, perempuan dipandang memberikan sumbangan besar kepada umat dan masyarakat. Bahkan kegemilangan peradaban sebuah masyarakat—sebagaimana dicapai belasan abad oleh umat Islam terdahulu—tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan peran para ibu.

Baca juga:  Maraknya Kekerasan dalam Keluarga, Bukti Gagalnya Negara Penuhi Kemaslahatan Keluarga

Mereka telah berhasil mendidik dan memelihara generasi umat, sehingga tumbuh menjadi individu-individu yang mumpuni, generasi mujtahid dan mujahid yang telah berhasil membangun peradaban Islam hingga mengalami kegemilangan.

Oleh karena itu, menjadi ibu merupakan peran yang sangat mulia dan memiliki nilai politis dan strategis, karena dari para ibu inilah akan lahir pemimpin-pemimpin umat yang tangguh, cerdas, dan berkualitas.

Islam juga membuka ruang bagi perempuan untuk masuk dalam kehidupan umum, berkiprah dalam aktivitas yang dibolehkan, seperti berjual beli, berdagang, bahkan qadhi—Khalifah Umar mengangkat Syifaa’ sebagai qadhi hisbah.

Demikian pula terkait pelaksanaan aktivitas yang diwajibkan syariat, seperti menuntut ilmu dan berdakwah. Namun dalam kehidupan umum ini, Islam mewajibkan kaum perempuan menggunakan pakaian syar’i, melarang tabarruj; dan memerintahkan menjaga pandangan, melarang khalwat, serta memerintahkannya disertai mahram ketika bepergian jauh.

Dengan aturan-aturan ini, kehormatannya akan selalu terjaga dan terhindar dari tindak kejahatan, sebagaimana yang kerap terjadi dalam masyarakat kapitalistik saat ini.

Islam pun menempatkan perempuan sebagai bagian dari masyarakat sebagaimana laki-laki. Keberadaan keduanya di tengah-tengah masyarakat tidak dapat dipisahkan, keduanya bertanggung jawab menghantarkan kaum muslim menjadi umat terbaik di dunia.

Karenanya, aktivitas politik dalam pengertian pengaturan urusan umat bukan kewajiban laki-laki saja, melainkan kewajiban kaum perempuan sebagai bagian dari umat.

Hal ini diungkap dalam nas yang bersifat umum, di antaranya QS Ali Imran 104: “Dan hendaknya ada di antara kalian satu golongan umat yang menyeru kepada al-khair (Islam) dan memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang menang.”

Dalam hadis dari Hudzaifah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin, ia bukanlah termasuk di antara mereka. Dan barang siapa bangun pada pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, ia bukanlah golongan mereka.(HR Ath-Thabari).

Khatimah

Benar perempuan harus berperan dalam kehidupan, akan tetapi tidak menyerahkan pengaturannya kepada feminisme yang lahir dari kapitalis-sekuler, sistem buatan manusia. Karena yang terjadi justru kehinaan dan jauh dari kemuliaan.

Akan tetapi, kita harus menyerahkannya kepada Islam, aturan dari Allah SWT yang sesuai fitrah manusia, memuaskan akal, yang pada akhirnya membawa kepada ketenteraman.

Penerapan syariat Islam secara kaffah dan konsisten oleh penguasa dan penjagaan/pengawasan yang ketat dari umat inilah yang akan menghantarkan pada tercapainya kemaslahatan hidup yang rahmatan lil ’alamin sebagaimana yang Allah janjikan.

Tidak hanya perempuan yang termuliakan, umat secara keseluruhan pun akan memperoleh kebahagiaan dan kebangkitan yang hakiki. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

3 komentar pada “Peningkatan Peran Perempuan Dalam Bingkai Feminis, Akankah Membawa Perubahan?

  • 4 Januari 2021 pada 12:55
    Permalink

    Perempuan mulia sesuai fitrahnya dan hanya dapat diwujudkan dengan sistem Islam

    Balas
  • 3 Januari 2021 pada 18:28
    Permalink

    Dengan Islam bukan cuma perempuan termuliakan,semua umat jg sejahtera

    Balas
  • 31 Desember 2020 pada 17:37
    Permalink

    Perempuan ditemani dengan isu fenimisme,persamaan gender Dan lain lain padahal perempuan adalah ujung gambarnya kebersihan generasi berikutnya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.