[Tarikh Khilafah] Khalifah Umar bin Khaththab Menetapkan Penanggalan Hijriah

MuslimahNews.com, TARIKH KHILAFAH — Dr. Thomas Djamaludin dalam Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriah, mengatakan penanggalan awal tahun 1 Hijriah dilakukan pada tahun ke-6 setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab dalam sebuah upaya rasionalisasi sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya, melihat banyaknya persoalan yang timbul akibat ketakjelasan masa awal dari penanggalan Hijriah.

Persoalan penentuan bulan contohnya yang dialami Gubernur Basrah pada masa itu. Al-Baruni menyatakan, Khalifah Umar bin Khaththab menerima surat dari Gubernur Basrah dan dalam surat itu tertulis,

“Kami hingga saat ini telah banyak menerima surat dari para Amirul Mukminin, dan kami sungguh tidak mengetahui pilihan mana yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, serta kami telah membaca agenda kegiatan yang bertanggalkan Syakban, namun kami tidak tahu pasti Syakban mana yang dimaksud, apakah Syakban yang jatuh pada tahun ini atau Syakban pada tahun depan?”

Menurut Abu Hasan Al-Atsari dalam bukunya Bidayah wa Nihayah Juz III, Khalifah Umar bin Khaththab menjadikan persoalan yang dihadapi Abu Musa Al-Asy’ari itu sebagai suatu persoalan yang penting dan ia membuat ketetapan kalender yang seragam antara satu sama lain agar dapat digunakan untuk keperluan administrasi dan keperluan umat dalam kehidupan.

Baca juga:  Peradilan Antisuap (Nasihat Khalifah Umar bin Khaththab ra. kepada Para Hakimnya - Bagian 1/2)

Musyawarah dengan Sahabat

Khalifah Umar bin Khaththab mengumpulkan para Sahabat dan mengadakan musyawarah untuk menentukan hal apa atau peristiwa apa yang paling tepat sebagai patokan awal tahun Islam tersebut, hingga keluarlah empat opsi:

Pertama: Hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai awal tahun Hijriah

Kedua: Hari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam,

Ketiga: Hari di mana ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam menerima wahyu pertama dan merupakan awal tugas kenabiannya dan

Keempat: Peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dan para Sahabat dari Makkah ke Madinah.

Dengan ijtihad Khalifah dan para Sahabat ketika itu, peristiwa hijrahlah yang menjadi tumpuan akhir, sehingga keputusan pun diambil dengan bijak berasaskan musyawarah.

Menentukan hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam—yaitu 1 Muharram—sebagai peristiwa yang paling tepat untuk mengawali sistem penanggalan Hijriah.

Pada 638 M (17 H), Khalifah Umar bin Khaththab menetapkan awal patokan kalender Hijriah dengan menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun.

Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Juli 622 , dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam terjadi bulan September 622.

Menentukan peristiwa Hijrah sebagai awal dari penanggalan Hijriah mengandung makna historis yang sangat dalam. Imam Sakhawi dalam kitabnya Al-I’laan bi al-tawbikh liman dzamma al-Tarikh mengatakan bahwa bulan Muharram sebagai awal bulan penanggalan Hijriah karena niat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam untuk berhijrah sudah ada sejak bulan tersebut (Muharram).

Baca juga:  Khilafah Antikritik?

Maka, penentuan hijrah sebagai awal Hijriah adalah sangat tepat, mengingat nilai, hikmah, dan teladan dari peristiwa tersebut. [MNews/Rgl]

Sumber: Hidayatullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *