[RATU 2020] Tokoh Mubaligah: Kembali ke Syariat Allah, Solusi Kerusakan Bangsa

MuslimahNews.com, NASIONAL — Demokrasi dan Khilafah semakin hari semakin menarik untuk diperbincangkan. Inilah yang dibahas dalam digital event muslimah Nasional Risalah Akhir Tahun (RATU) 2020 pada Sabtu, 26/12/2020 kemarin.

Selain menghadirkan tiga pembicara utama, acara bertema “Berkah dengan Khilafah” yang diselenggarakan secara virtual ini ini turut menampilkan pendapat tokoh mubaligah nasional, yakni Hj. Irena Handono (Kristolog), Hj, Komariah (Pembina 60 majelis taklim), dan Dr. Ir. Pigoselpi Rokhmin Dahuri, M.Si. (Intelektual).

Hj. Irena Handono menyatakan, demokrasi dianggap menjanjikan, seolah tidak ada yang lain selain demokrasi. Menurut Hj. Irena, ajakan untuk meninggalkan ayat suci kemudian digantikan dengan ayat konstitusi adalah sikap arogan, sebab hamba-Nya merasa lebih pintar dan lebih suci dari Sang Khalik.

“Firman Allah digeser dengan ayat buatan hamba-Nya. Layak tidak? Beranilah menyatakan yang hak itu hak, yang batil itu batil. Kembali kepada tuntunan agama kita,” tuturnya.

Hj. Irena tegas mengajak kita sebagai seorang hamba, untuk tidak menjadikan diri kita sebagai seorang Tuhan.

“Maka sebagai hamba-Nya yang taat mari kita ambil hukum Allah, jangan membuat Tuhan-Tuhan yang lain,” pukasnya.

Sementara Hj. Komariah berpendapat, demokrasi adalah buatan manusia dan hasil rekayasa global. Setelah jatuhnya Turki Utsmani ke tangan Yahudi dan Nasrani, mereka sangat ingin menjadikan negeri-negeri muslim sebagai jajahan mereka, mengambil potensi SDA untuk dikuasai. Sehingga ghazwul fiqr sengaja dibuat untuk meredam umat Islam yang ingin melaksanakan hidup kaffah sebagai seorang muslim, baik sebagai individu, bermasyarakat, ataupun bernegara.

Baca juga:  Khilafah Lindungi Agama dan Hak Warga Negara

“Bahwa kita sebagai muslim yang mempunyai tatanan aturan yang datang dari Allah, bukan berasal dari manusia. Buatan manusia banyak salahnya. Akal punya keterbatasan. Jika membuat hukum dan undang-undang untuk menguntungkan mereka,” paparnya.

Oleh karena itu, Hj. Komariah berpesan, hendaklah dakwah harus betul-betul tersebar ke masyarakat agar mengenal Islam yang seperti apa, bukan sekadar berkiprah membangun rumah tangga Islami atau mendidik anak Islami.

“[Itu] tidak cukup. Jika kita tidak memiliki sistem yang akan melindungi kita, keluarga, dan negara kita dengan UU yang berasal dari Allah. Allah justru ingin melindungi kita melalui negara Islam yang pernah ada di Madinah al-Munawarah dan melambung ke dua pertiga dunia,” ujarnya.

Sedangkan menurut intelektual Dr. Ir. Pigoselpi Rokhmin Dahuri, M.Si., solusi satu-satunya mengatasi persoalan bangsa, hanyalah dengan menegakkan syariat Islam.

“Demokrasi harus diganti. Demokrasi ini suara rakyat yang terbanyak, tetapi belum tentu suara terbanyak itu yang benar. Kadang kala yang tidak benar itu yang banyak. Bagaimana mungkin menerapkan sistem yang tidak benar ini,” tanyanya retorik.

Dr. Pigoselpi pun menyatakan, jika belajar dari sejarah, kemunduran umat Islam terjadi akibat meninggalkan hukum-hukum syariat Allah [Islam, ed.]. Bahkan, bisa dikatakan demokrasi sudah mati, tidak membawa kesejahteraan, tidak ada untungnya.

Baca juga:  Mengembalikan Peran Strategis Ibu

“Faktanya sekarang di masyarakat dunia, persentase kemiskinan semakin meningkat, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin melebar. Akibatnya terjadi demonstrasi di mana-mana, terjadi kecemburuan sosial, bunuh membunuh, dan sebagainya yang membuat tidak nyaman,” bebernya.

Keadaan bangsa yang karut marut ini disebutnya karena umatnya meninggalkan ajaran Islam. Sehingga dengan permasalahannya tersebut, Dr. Pigoselpi menyatakan saatnya menegakkan syariat Islam, yaitu Khilafah Islamiah.

“Demokrasi yang menciptakan adalah manusia, yang bisa berubah-ubah tergantung keinginan yang berkuasa. Sedangkan Khilafah Islamiah bersumber dari ajaran Allah, tidak akan pernah berubah dan diterapkan secara adil merata sampai kapan pun,” jelasnya.

Terakhir ia menegaskan, solusi satu-satunya adalah kembali menegakkan syariat Islam melalui Khilafah. Sebab, sudah terbukti dalam sejarah, ketika umat Islam menerapkan syariat Islam secara kaffah, umat Islam makmur dan sejahtera.

“Bukan hanya untuk umat Islam tetapi rahmatan lil ‘alamin untuk semua. Maka gantilah sistem demokrasi dengan syariat Islam,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, digital event ini menuai respons positif dari masyarakat. Terbukti tercatat sekitar 91 ribu partisipan menyaksikan dengan antusias. Dihubungi MNews, panitia berharap acara ini dapat menyadarkan masyarakat mengenai kebobrokan demokrasi, dan masyarakat hanya bisa berkah dengan Khilafah. [MNews/Ruh-Gz]

Baca juga:  Solusi Total Atasi Kemiskinan Massal

#JayaDenganSyariatIslam
#IslamJagaPerempuan
#BerkahdenganKhilafah

2 thoughts on “[RATU 2020] Tokoh Mubaligah: Kembali ke Syariat Allah, Solusi Kerusakan Bangsa

Tinggalkan Balasan