Khilafah Pijakan Dunia Muslim

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

MuslimahNews.com, OPINI — “Tatanan Dunia sedang mengalami penyelarasan yang mendalam, dan Dunia Muslim perlu menemukan tempatnya di dalamnya,” ujar Aybet dilansir di Andalou Agency. Gulnur Aybet merupakan penasihat senior Recep Tayyib Erdogan, ia berpendapat dunia muslim perlu menempatkan tempat dalam tatanan dunia baru. (republika.co.id, 22/12/2020)

Dalam konferensi Pemerintahan dan Otoritas Politik di Dunia Muslim yang diselenggarakan Pusat Urusan Islam dan Global (CIGA) yang berbasis di Istanbul. Aybet juga menyampaikan pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia telah mengubah dinamika kekuatan global. Bahkan tidak ada yang mampu merancang apa pun dalam sistem internasional saat ini.

Adanya persaingan kekuatan besar dan kebangkitan Rusia dan Cina, hal ini pun menimbulkan tantangan eksistensial bagi tatanan dunia liberal yang dominan dan mereka berupaya mempertahankannya.

Aybet mungkin lupa atau bisa jadi tidak memahami sejarah negaranya sendiri. Turki pernah berjaya dan menjadi negara adidaya dunia saat dinaungi Islam. Aybet sibuk mencari untuk menemukan tatanan Dunia baru bagi Dunia Muslim, padahal sejarah seharusnya mengajarkan pemerintahannya untuk kembali pada Islam, kembali menerapkan sistem Khilafah.

Khilafah pernah memayungi Dunia Muslim dengan segala keunggulan dan kegemilangannya. Justru ketika Albayrak Media Group mengeluarkan seruan untuk membangkitkan kembali kekhilafahan Islam, pemimpin redaksinya dilaporkan sebagai tindakan pidana, menghasut orang-orang untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Republik Turki. Menghasut masyarakat membentuk kebencian dan permusuhan dan menghasut orang untuk tidak mematuhi hukum. (republika.co.id, 28/7/2020)

Negara Adidaya Lumpuh Akibat Pandemi

Aybet menyatakan  pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia telah mengubah dinamika kekuatan global. Bahkan, tidak ada yang mampu merancang apa pun dalam sistem internasional saat ini.

Hal ini menandakan tak ada satu pun negara yang sanggup mengklaim sebagai negara yang kuat menghadapi badai pandemi. Guncangan dahsyat pandemi telah meluluhlantakkan sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan,dan kehidupan masyarakat di setiap negara.

Bahkan negara kampiun AS, yang pernah mengklaim negaranya sebagai negara superpower justru harus dihadapkan dengan berbagai permasalahan pelik di tengah pandemi. 59 persen warganya pun tidak puas dengan penerapan sistem demokrasi di negerinya. Bahkan sebelum pandemi, tiap bulan rata-rata 0,65 juta orang AS menjadi pengangguran. 48 negara bagian AS secara teknis bangkrut.

Baca juga:  Khilafah Lindungi Agama dan Hak Warga Negara

Jika di Indonesia warganya harus menanggung beban utang Rp 20,5 juta/jiwa, di AS, setiap warga negara AS memiliki 13 kali utang lebih tinggi daripada pendapatan mereka. Utang per kapita negaranya adalah salah satu tertinggi di dunia. Bisa dipastikan cerita-cerita kesuksesan AS sebagai pemimpin global dalam menyelesaikan perselisihan, membawa kestabilan dalam berbagai wilayah ialah nol besar.

Maka, harapan baru dunia tertuju pada Khilafah, tegaknya Khilafah di salah satu negeri kaum muslimin justru akan memulai persaingan adidaya baru. Barat dan sekutunya meyakini akan prediksi mereka lewat NIC akan tegaknya kembali Khilafah dalam waktu dekat. Ketakutan Barat akan tegaknya kembali Khilafah selalu menghantui hingga menjadi mimpi buruk dalam setiap tidur mereka.

Tantangan Global Barat ialah Khilafah

Mantan Kepala angkatan bersenjata Inggris dan penasihat Perdana Menteri Inggri David Cameron, Jenderal Raichard Dannat pernah mengakui, “Terdapat agenda Islamis yang jika tidak kita lawan dan kalahkan di Afghanistan Selatan atau di Asia Selatan. Maka jelas pengaruhnya akan berkembang, ia bisa tumbuh pesat dan ini adalah poin penting. Kita bisa melihatnya bergerak dari Asia Selatan ke Timur Tengah hingga ke Afrika Utara, dan ke penanda tinggi Khilafah Islam abad ke-14 dan 15.” (BBC Radio 4)

Tantangan-tantangan global dominan yang dihadapi negara adidaya saat ini datang dari Umat Islam, 81 persen mendukung kuat kembalinya negara Khilafah Islam, dikepalai Amirul Mukminin seperti Abu Bakar ra., Umar bin Khattab ra., Utsman bin Affan ra. dan Ali bin Abu Thalib ra..

Adanya keinginan dan aspirasi politik untuk penyatuan dan Khilafah dari umat Islam sudah membuat negara adidaya seperti AS ketakutan, kehilangan akal sehat, dan memaksanya untuk menganggap aspirasi ini sebagai faktor kebijakan luar negeri dan keamanan terbesar bagi AS dan para sekutunya Barat.

Jika AS dan para sekutunya saja telah mengakui kekuatan baru bagi Dunia Muslim ialah Khilafah, lantas mengapa Aybet masih berupaya menemukan pijakan untuk Dunia Muslim sebagai tatanan dunia baru?

Baca juga:  [RATU 2020] Demokrasi Rusak, Tidak Bisa Menyelamatkan Hak Rakyat

Harusnya ia menyadari dengan melihat berbagai fenomena ambruknya kapitalisme akibat pandemi Covid-19, dan bangkitnya girah persatuan di kalangan kaum muslimin, tentu peluang munculnya Khilafah sebagai tata dunia baru akan semakin besar menjadi kenyataan.

Kembali Khilafah Islam sangat jarang diungkap dalam berbagai analisis dunia internasional. Banyak di kalangan kaum muslim sendiri mengatakan berdirinya adalah suatu yang utopis dan mustahil.

Hal ini wajar, karena media sekuler mengopinikan Khilafah sebagai obat yang getir dan tidak bagus. Khilafah disebut sebagai benda yang berbahaya, mengancam keutuhan negara hingga perlu dibasmi ide-idenya serta pengemban ide tersebut oleh penguasa sekuler.

Khilafah Pijakan Dunia Muslim

Steven Kull et. al pernah memberikan laporan berharganya pada 2007, menyatakan kebanyakan responden (di lima negara besar Muslim) mengekspresikan dukungan kuat terhadap meluasnya peran Islam dalam masyarakat mereka. Mayoritas besar di kebanyakan negara, rata-rata 71 persen (39 persen sangat setuju), setuju dengan tujuan mensyaratkan penerapan tegas hukum syariah di setiap negeri Islam.

Umat Islam memiliki potensi luar biasa untuk kembali menjadi umat terbaik dalam naungan Khilafah. Hal ini dinyatakan Abu Abdullah dalam bukunya Emerging World Order The Islamic Khilafah State.

Kekuatan penduduk dan demografi di antaranya. Populasi umat Islam di dunia mencapai 1,6 miliar atau 24 persen dari total penduduk dunia. Umat Islam juga memiliki kekuatan militer yang tersebar di seluruh negeri kaum muslim.

Pasukan militer Dunia Islam mengalahkan jumlah setiap anggota permanen Dewan Keamanan, baik secara terpisah maupun bergabung.

Pasukan militer kombinasi Dunia Islam sebesar 22,42 juta sementara 5 anggota permanen Dewan Keamanan PBB hanya memiliki 15,95 juta dan BRIC secara tergabung juga hanya memiliki 17,53 juta. Kekuatan ekonomi, industri dan cadangan energi dunia juga sumber energi terbesar dunia dimiliki Dunia Islam.

Ditambah lagi letak geografis yang strategis, paling memungkinkan untuk membangun dan memelihara aliansi kekuatan maritim dan sekaligus kontinental. Hal itu berarti menguasai pintu-pintu dunia. Selama lebih dari 13 abad Khilafah pernah memimpin peradaban dunia.

Baca juga:  [RATU 2020] Tokoh Mubaligah: Kembali ke Syariat Allah, Solusi Kerusakan Bangsa

Maka, kembalinya Khilafah menjadi pijakan untuk Dunia Muslim merupakan suatu keniscayaan. Peluangnya sebagai tatanan dunia baru sangat besar.

Kembalinya Khilafah Telah Diingatkan Rasulullah Saw

Rasulullah saw. telah mengingatkan umat Islam tentang kembalinya Khilafah.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu, Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zalim; ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya (no.18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no.439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Khilafah adalah Negara Islam yang dinyatakan Allah, juga dipraktikkan Nabi saw. selama berpuluh tahun, kemudian dilanjutkan para Sahabat turun-temurun, hingga dihancurkan oleh konspirasi kaum kafir (Inggris, Prancis, dan Yahudi).

Khilafah bukan hanya hukum Islam yang wajib, tetapi juga qath’i, baik dari sisi hukum dan fakta. Khilafah janji agung Allah SWT.

Allah SWT berjanji memberikan istikhlaf fi al-ardh kepada umat Islam (QS an-Nur: 55). Istikhlaf fi al-ardh tidak memiliki makna lain selain penganugerahan kekuasaan dan tugas pengaturan urusan manusia di seluruh dunia.

Imam al-Qurthubi menyatakan, “…Allah akan men jadikan di antara mereka para Khalifah (penguasa) . Para Sahabat pun bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar ra. setelah terjadi diskusi antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah …,” (Imam al-Qurthubi, tafsir al-Qurthubi, I/264)

Kembalinya Khilafah dan kewajiban atasnya telah diketahui kaum muslimin, maka menjadi tanggung jawab umat Islam untuk mewujudkan bisyarah nubuwwah, yang dikabarkan Nabi Saw.

Menjadi tanggung jawab umat Islam untuk meningkatkan kesadaran politiknya dan mengukuhkan keyakinan untuk meraih kembali kejayaan Islam dalam naungan Khilafah. [MNews/Gz]

2 thoughts on “Khilafah Pijakan Dunia Muslim

Tinggalkan Balasan