[Hadits Sulthaniyah] Ke-6 dan 7: Akidah Islam Merupakan Landasan Negara

MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH [Hadis ke-6] “Diriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah yang mengatakan, “Kami pernah mendatangi Ubaidah bin Shamit yang waktu itu sedang sakit. Kami berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Beritahukanlah kepada kami sebuah hadis yang dengannya Allah memberi manfaat yang engkau dengar dari Nabi saw.’”

Ia berkata, “Nabi saw. mengajak kami dan kami pun membaiat beliau.”

Kemudian berkata, “Kami membaiat beliau untuk mendengar dan menaatinya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun kami benci, baik dalam keadaan yang sulit maupun keadaan yang mudah, dan tidak mengutamakan urusan kami; juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari yang berhak, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah Ta’ala.” (HR Bukhari No. 6532)

[Hadits ke-7] “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka menyatakan kesaksian “Laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadar Rasulullah”, mendirikan salat, dan membayar zakat. Dan jika mereka melakukan itu, terpeliharalah darah dan harta mereka dariku, kecuali ada hak (hukum Islam), dan perhitungan mereka dengan Allah.” (HR Bukhari No. 24)

Penjelasan:

a. Tidak boleh menjadikan sesuatu (baik itu pemikiran maupun ideologi) selain akidah Islam sebagai landasan atau dasar negara. Dengan demikian, konstitusi (undang-undang dasar) dan hukum-hukum negara harus diambil dari syariat Islam.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-20: Hudud Diberlakukan Meski Tidak Ada Pihak yang Menyampaikan Tuntutan

b. Hadis pertama menjadi dalil bagi pernyataan di atas (pernyataan poin a), karena hadis tersebut menjadikan penyimpangan terhadap akidah Islam sebagai dasar atau alasan bagi umat untuk melawan; atau dengan kata lain, penguasa tidak boleh menerapkan suatu peraturan atau hukum yang tidak bersumber dari akidah Islam.

c. Riwayat-riwayat lain menjelaskan larangan untuk mengangkat pedang (memberontak) melawan penguasa selama mereka menegakkan salat, atau sepanjang mereka tidak melakukan kekufuran yang nyata, atau selama mereka tidak bermaksiat kepada Allah secara terang-terangan.

Semua riwayat tersebut menunjukkan bahwa penerapan dan ketundukan kepada hukum-hukum Islam adalah dasar (bagi) sahnya kekuasaan mereka.

d. Sebagaimana penjelasan Imam Nawawi, yang dimaksud dengan kekufuran yang nyata adalah dosa-dosa yang dilakukan secara terbuka, yaitu perbuatan-perbuatan yang bertentangan secara nyata dengan dalil-dalil syara’, dan dapat dibuktikan.

e. Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan umat diwajibkan melakukan upaya aktif untuk memakzulkan penguasa. Diriwayatkan bahwa Qadhi Iyad berpendapat bahwa apabila penguasa terbukti secara nyata melakukan kekufuran, penyimpangan terhadap syariat, dan melakukan bidah secara terang-terangan, maka wajib bagi kaum muslim untuk berjuang memakzulkannya dan menggantinya dengan penguasa yang adil.

f. Perlu dicatat bahwa semua hadis tersebut berkaitan dengan penguasa zalim yang sebelumnya telah sah menjadi pemimpin kaum muslim, tapi kemudian melakukan penyimpangan-penyimpangan. Jadi, hadis-hadis tersebut membahas para penguasa dalam sistem (hukum) Islam, sehingga yang perlu diluruskan hanyalah pribadi pemimpinnya (tanpa mengganti sistemnya).

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] Ke-5: Wajibnya Pemimpin Tunggal bagi Kaum Muslim

Dengan kata lain, hadis-hadis tersebut berkaitan dengan koreksi terhadap penguasa dalam sistem Islam, apabila mereka melakukan penyimpangan.

Hadis-hadis tersebut tidak membahas para penguasa saat ini, yang tidak pernah menerapkan hukum-hukum yang berasal dari akidah Islam, bahkan mereka hanya menerapkan sistem hukum dan aturan kufur.

g. Hadis kedua menunjukkan bahwa akidah Islam tidak hanya menjadi landasan bagi kekuasaan dan pemerintahan. Lebih dari itu, Rasulullah saw. juga mensyariatkan jihad, dan menjadikannya sebagai kewajiban bagi kaum Muslim untuk menyebarluaskan akidah Islam kepada seluruh umat manusia. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010; Dengan penyesuaian redaksi.


 

2 thoughts on “[Hadits Sulthaniyah] Ke-6 dan 7: Akidah Islam Merupakan Landasan Negara

Tinggalkan Balasan