Mengembalikan Peran Strategis Ibu

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNews.com, OPINI — Bagaimana kabar Ibu hari ini? Apakah peran strategis Ibu sudah optimal? Sayangnya, tak semua ibu di dunia ini berhasil memahami peran strategisnya. Banyak yang beranggapan kesuksesan ibu diperoleh jika anak-anaknya dapat bekerja, menikah, punya rumah, hingga punya anak. Jika semua itu sudah terealisasi, maka selesailah peran ibu. Benarkah anggapan itu?

Ibu dalam Kubangan Kapitalisme

Tahukah bahwa ibu saat ini terjerat kapitalisme. Mereka sebenarnya mengetahui akan tugasnya sebagai al umm warabatul bait. Tapi kesulitan ekonomi, pengaruh lingkungan hedonisme, sifat individualisme membuat para ibu tak lagi menyadari setiap peran pentingnya.

Kesulitan ekonomi, di-PHK-nya para suami, atau gaji suami yang tak mencukupi telah memaksa para ibu bekerja. Demi menambah pundi-pundi rupiah, ibu terpaksa menitipkan anaknya pada si mbah, pembantu, atau tempat penitipan anak. Ibu berangkat pagi pulang petang, hanya memiliki waktu sedikit berjumpa dengan buah hatinya.

Lebih sesaknya jika ibu terpaksa pergi merantau. Bekerja di negeri orang membuat ibu harus terpisah dengan anak-anaknya. Walhasil, si anak merasakan kasih sayang dan perhatian yang terbatas. Meskipun semua kebutuhan materinya terpenuhi, anak-anak akan tetap merasa kekurangan.

Kapitalisme telah membangun budaya serba bebas, karena budaya inilah seorang perempuan sering terpaksa menjadi ibu. Padahal, mereka belum siap betul. Kebiasaan free sex yang dilakoni, baik suka sama suka atau kadang dipaksa, membuat anak-anak terpaksa MBA, alias Married by Accident. Alhasil banyak ditemukan peristiwa pembuangan bayi atau pembunuhan bayi. Bahkan upaya menggugurkan kandungan dilakoni.

Baca juga:  Mendidik Calon Ummun wa Rabbatul Bait

Kapitalisme Menggerus Peran Ibu

Diakui atau tidak, penerapan kapitalisme telah memusnahkan fitrah seorang ibu. Hasil turunan dari mabda kapitalisme adalah hedonisme, feminisme, dan materialisme berhasil memalingkan para ibu.

Kapitalisme sendiri memiliki akidah sekularisme, yaitu tak mengakui keberadaan agama di dalam hidup manusia. Agama hanya dipakai sebagai hiasan pemanis manusia. Kalaupun nol agamanya, juga tak mengapa.

Hedonisme adalah pemikiran turunan dari mabda kapitalisme. Pemikiran bahwa hidup hanya untuk bersenang-senang. Pemikiran ini mengutamakan food, fun, dan fashion.

Jika para ibu sudah terpengaruh dengan hedonisme ini, mereka akan lebih memilih ke mal bersenang-senang, berburu baju, tas, make up brand terbaru, atau sekadar jalan-jalan karaoke dan nonton film. Mereka tersibukkan dengan aktivitas tersebut.

Feminisme adalah pemikiran mengenai kesetaraan perempuan dan laki-laki. Pemikiran ini lahir dari anggapan adanya penindasan perempuan atas laki-laki. Mereka menilai perlu pengakuan khusus atas perempuan.

Perempuan tak sekadar bisa macak, masak, dan manak. Tapi mereka juga bisa berkiprah di luar rumah. Bekerja layaknya lelaki, aktif dalam masyarakat dengan menjadi anggota parlemen atau pemimpin daerah. Bahkan memilih untuk jadi ibu atau tidak, melayani suami atau tidak adalah haknya.

Sedankan materialisme adalah pemikiran yang hanya mementingkan materi saja. Segala sesuatu hanya diukur dengan kesenangan duniawi. Hal ini membuat para ibu menjadi materialistis.

Misalnya masalah keuangan. Jika para ibu menilai uang adalah segala-galanya dan ternyata suami tak mampu memenuhi semua keinginannya, ia akan memilih bekerja. Anak akan dititipkan. Pendidikan anak pun tak diperhatikan.

Baca juga:  [News] Refleksi 2020: Potret Buram Umat

Lebih parah lagi, ia dapat menuntut suami mendapatkan uang yang lebih. Bisa saja menjerumuskan suami untuk melakukan korupsi. Bahkan mendidik anak-anaknya untuk melakukan segala cara demi mewujudkan keinginannya.

Tapi ada juga karena keterbatasan materi, mereka terimpit dengan kemiskinan. Tak jarang para ibu justru stres menghadapi ini. Mereka akhirnya melampiaskan pada anak-anak. Mereka menyiksa anak-anak atau bahkan ada yang nekat membunuh buah hatinya.

Oleh karena itu, kita perlu mengembalikan peran ibu agar ibu dapat menempatkan diri sesuai fitrahnya.

Mengembalikan Kiprah Ibu Sesuai Islam

Islam telah menempatkan kaum ibu sesuai dengan kapasitasnya. Ibu memiliki beberapa peran penting. Pertama, peran sebagai al umm wa rabatul bait, ibu dan pengatur rumah tangga suaminya. Di sini ibu mendapatkan amanah untuk mendidik putra-putrinya di rumah sebagai madrasatul ula, pendidikan awal.

Kedua sebagai pengatur rumah tangga suaminya, ibu sekaligus berperan sebagai istri diamanahi mengurus rumah. Kedua peran ini merupakan kewajiban bagi setiap ibu. Di dalamnya terdapat pahala yang luar biasa. Bahkan kualitas generasi muda tergantung pada peran ibu dalam mendidiknya.

Peran selanjutnya adalah kiprah ibu dalam masyarakat. Upaya memperbaiki masyarakat tak sepenuhnya dibebankan pada laki-laki. Perempuan termasuk di dalamnya seorang ibu, memiliki peran yang penting di masyarakat.

Seorang ibu dibolehkan menjadi pegawai atau pemimpin dalam suatu departemen atau pemerintahan. Dengan catatan bukan pemimpin yang berada pada wilayah al-hukm/al-amr (seperti Khalifah, muawwin, qadhi qudhat, qadhi mazhalim, dan wali).

Baca juga:  Pengelolaan Transportasi Laut yang Menyejahterakan Rakyat: Butuh Khilafah

Jadi, seorang ibu boleh menjadi kepala Baitulmal, anggota Majelis Wilayah, anggota Majelis Umat, qadhi khushumat (hakim yang menyelesaikan perselisihan antar rakyat), qadhi hisbah (hakim yang langsung menyelesaikan pengurangan atas hak-hak rakyat).

Seorang ibu juga dibolehkan menjabat kepala departemen kesehatan, departemen pendidikan, departemen industri, departemen perdagangan, rektor perguruan tinggi atau kepala sekolah, kepala perusahaan, dll.

Ibu memiliki akal sebagaimana laki-laki. Meskipun ia tak dibolehkan menjadi pemimpin negara atau wilayah, ibu tetap memiliki peran penting dalam mengurusi umat.

“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya mengubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)

Peran yang tak kalah penting bagi seorang ibu adalah berdakwah di tengah-tengah umat. Dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar ibu mampu mengubah masyarakat yang awalnya tak paham Islam menjadi paham Islam. Menyadarkan masyarakat yang terpengaruh kapitalisme, sekularisme, hedonisme, materialisme, dan feminisme, menjadi paham pada Islam.

Itulah peran strategis para ibu. Sehingga seorang ibu tak hanya menjadi istri atau ibu. Tapi juga bermanfaat bagi masyarakat, menghancurkan kapitalisme yang merusak dan membangun peradaban Islam yang berkah. [MNews/Gz]

2 komentar pada “Mengembalikan Peran Strategis Ibu

Tinggalkan Balasan