Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH – Banyaknya kaum Muslimin yang syahid dalam perang Uhud membuat orang-orang kafir mengira mental kaum Muslimin jatuh. Mereka mengira kekuatan kaum muslimin melemah dan akan roboh. Dugaan ini membuat mereka semakin berani dan lancang terhadap kaum Muslimin.

Perang Hamra’ul Asad

Tidak lama setelah perang Uhud, kaum musyrikin berniat untuk menyerang kembali demi menghabisi kaum Muslimin.

Ketika mendengar rencana buruk mereka ini, Rasulullah Saw. memobilisasi para sahabat untuk menyongsong kedatangan musuh. Namun dalam perang kali ini, para sahabat yang diijinkan ikut hanyalah mereka yang sudah terjun dalam perang Uhud, kecuali Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu anhuma. Karena saat itu bapaknya menugaskannya menjaga saudara-saudara perempuannya di Madinah.

Meskipun kondisi fisik para sahabat belum pulih pasca perang Uhud, namun mereka tetap taat terhadap perintah Rasulullah Saw. Mereka berangkat sampai di suatu daerah yang bernama Hamra’ul Asad.

Tentang peperangan ini, Allah Azza wa Jalla berfirman,

(yaitu) Orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.(TQS. Ali Imrân:172)

Namun peperangan ini tidak berkecamuk, karena kaum kafir mengurungkan niatnya.

Respons cepat Rasulullah Saw. menggambarkan keberanian, kemampuan beliau dalam menanggung beban, kemampuan politik beliau, dan kepribadian beliau yang tidak mudah menyerah dalam kondisi sulit.

Juga tanggapan positif para sahabat beliau Saw. menunjukkan betapa mereka sangat taat dan bergegas melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menunjukkan kesabaran mereka dalam memikul beban.

Ini yang dijelaskan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya,

(yaitu) Orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) Orang-orang (yang menaati Allâh dan Rasûl) yang dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allâh adalah Sebaik-baik Pelindung.” Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allâh, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allâh. Dan Allâh mempunyai karunia yang besar.” (TQS. Ali Imrân:172-174])

Baca juga:  Perang Uhud

Pasukan Abi Salamah

Berita tentang perang Uhud telah tersebar dan terdengar kaum musyrik yang tinggal di sekitar Madinah. Ini mendorong Thulaihah al Asadi dan saudaranya Salamah memobilisasi Bani Asad bin Khuzaimah untuk melakukan penyerangan ke Madinah.

Mereka ingin menguasai dan merebut kekayaan Madinah serta menampakkan dukungan mereka kepada Quraisy dalam memusuhi kaum Muslimin. Untuk memuluskan ambisi ini, mereka melakukan berbagai persiapan.

Namun sebelum bergerak melakukan penyerangan, rencana busuk mereka sudah terdengar Rasulullah Saw. Beliau Saw. segera mengirim 150 pasukan gabungan dari kaum Muhajirin dan Anshar di bawah pimpinan Abu Salamah bin Abdul Asad Radhiyallahu anhu.

Pasukan ini segera bergerak melakukan penyerangan ke daerah Qathan, tempat pasukan Thulaihah. Pasukan Thulaihah lari ketakutan meninggalkan berbagai harta yang mereka miliki. Akhirnya harta ini diambil pasukan kaum Muslimin dan dibawa ke Madinah. Peristiwa ini terjadi pada awal bulan Muharam di penghujung tahun ke-3 hijrah.

Pasukan Abdullah bin Unais

Dalam waktu yang tidak berselang lama dengan pengiriman pasukan Abu Salamah Radhiyallahu anhu , Rasulullah Saw. juga mengirim pasukan ke Arafah. Di sana ada Khâlid bin Abu Sufyan bin Nubaih al Hudzali yang tengah mengerahkan massa untuk menyerang Madinah.

Baca juga:  [Sirah Nabawiyah] Dari Propaganda Jahat Hingga Pemboikotan

Pasukan kaum Muslimin dipimpin Abdullah bin Unais al Jumahi. Sebelum mulai bergerak, Abdullâh bin Unais Radhiyallahu anhu terlebih dahulu meminta Rasûlullâh Saw. agar menjelaskan ciri-ciri Khalid bin Sufyan bin Nubaih, sang provokator.

Setelah dirasa cukup penjelasan dari Rasulullah Saw., Abdullah bin Unais Radhiyallahu anhu memimpin pasukannya untuk bergerak. Saat melihat orang yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan penjelasan Rasulullah Saw., dia segera mengatur strategi untuk menyerangnya.

Akhirnya beliau Radhiyallahu anhu berhasil mengakhiri hidup Khalid. Dia kembali ke Madinah dan melaporkan keberhasilannya kepada Rasulullah Saw. dalam menjalankan tugas yang diembannya.

Cara Licik Kafir Quraisy

Pengikut Khalid bin Sufyan al Hudzali tidak bisa menerima kematian komandan mereka dan berniat membalas dendam. Inilah yang mendorong mereka untuk menempuh cara licik.

Pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijrah utusan dari kabilah ‘Udhal dan al-Qarrah mendatangi Nabi Saw. ke Madinah. Mereka meminta kepada Rasulullah Saw. agar mengirim beberapa sahabat untuk mengajari mereka agama Islam.

Rasulullah Saw. mengabulkan permintaan mereka dengan mengirim sepuluh sahabat di bawah pimpinan ‘Ashim bin Tsabit al-aqlah Radhiyallahu anhu. Para sahabat yang terpilih ini mulai melakukan perjalanan tanpa ada rasa curiga.

Ketika tiba di lembah antara ‘Asfan dan Makkah, kedatangan mereka diberitahukan kepada penduduk salah satu kampung Hudzail yaitu Banu Lihyan. Bani Lihyan tidak menyiakan-nyiakan kesempatan untuk membalas kematian komandan mereka. Mereka mengerahkan ratusan pasukan dan membuntuti para sahabat ini sampai berhasil menyusul mereka.

Menyadari bahaya yang sedang mengancam, ‘Ashim bin Tsabit Radhiyallahu anhu beserta para sahabat lainnya segera menyelamatkan diri dengan mengambil posisi di atas bukit. Namun karena kalah jumlah, para sahabat ini terkepung.

Baca juga:  Pelajaran Berharga dari Perang Uhud

Ketika itu para pengepung ini memberikan janji, “Jika kalian mau turun, maka kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian.” Ashim Radhiyallahu anhu yang diangkat Rasûlullâh Saw. sebagai pimpinan bertekad, “Saya tidak sudi turun dan berada dalam jaminan orang kafir.” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu berdoa, “Ya Allah, beritahukanlah kepada nabi-Mu tentang keadaan kami.

Ucapan ini menyulut emosi para pengepung dan mendorong mereka melakukan penyerangan sehingga akhirnya tujuh di antara para sahabat ini, termasuk Ashim Radhiyallahu anhu gugur sebagai syahîd dalam pertempuran ini.

Dengan demikian, tersisa tiga orang yaitu Khubaib, Zaid, dan satu orang lagi (dalam riwayat Ibnu Ishaq, orang ini adalah Abdullah bin Thariq). Para sahabat yang masih hidup ini diikat. Abdullah bin Thariq gugur sebagai syahid sebelum sampai di Makkah.

Khubab bin ‘Adiy dan Zaid bin Datsinnah Radhiyallahu anhuma menjadi tawanan. Keduanya digiring ke Makkah dengan tangan terikat lalu dijual ke kaum Quraisy. Kemudian kafir Quraisy Makkah membunuh mereka.

Inilah berbagai upaya yang dilakukan kafir Quraisy untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka memanfaatkan kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud untuk menghalangi kembalinya kekuatan pengaruh Negara Islam Madinah di Jazirah Arab.

Namun, usaha kafir Quraisy ini justru menambah semangat kaum muslimin dan meningkatkan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahua’lam bishshawab. [MNews/Rgl]


Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al AzharPress

2 thoughts on “Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Tinggalkan Balasan