[RATU 2020] Ganti Demokrasi dengan Sistem Tuntunan Wahyu

MuslimahNews.com, NASIONAL — Demokrasi jelas merupakan sistem kehidupan buatan manusia. Dalam kacamata muslim, sistem aturan yang bukan berasal dari wahyu Allah SWT adalah sistem kufur sehingga haram mengadopsinya.

Demikian disampaikan Ibu Hj. Ir. Dedeh Wahidah Achmad (Konsultan dan trainer keluarga sakinah) dalam digital event khusus muslimah, Risalah Akhir Tahun (Ratu) 2020 pada Sabtu (26/12/2020).

Bu Dedeh mendalilkan pada firman Allah dalam surah Al-Maidah: 49-50,

وَأَنِ ٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ وَٱحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنۢ بَعْضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Dalam acara itu, Bu Dedeh menegaskan, tidak ada alasan apa pun untuk melanjutkan demokrasi, dan tidak ada harapan lagi pada demokrasi, sehingga kerusakan demokrasi tidak bisa dipertahankan lagi.

Baca juga:  Islam Tidak Jadi Alat Politik? Bentuk Kegagapan Islam Moderat

“Ibarat tanaman yang akarnya sudah busuk, tidak bisa lagi diharapkan kehidupannya sekalipun dipindahkan ke tanah yang subur, terus disirami, dibasmi hama dan penyakitnya. Dia akan terus layu, menuju kematiannya yang pasti . Solusinya hanya satu, dicabut dan diganti,” tegas Bu Dedeh.

Menurutnya, saat ini sedang terjadi perang pemikiran yang tidak berimbang, sehingga arah dan tuntutan perubahan memang sangat penting dipahami.

Tuntutan perubahan harus diawali dengan kesadaran tentang perkara yang yang meniscayakan perubahan tersebut. Umat harus memahami bahwa penyebab utama penderitaan, kezaliman, serta berbagai krisis yang sekarang dirasakan terus mengimpit adalah karena sistem kehidupan yang salah.

“Demokrasi kapitalismelah yang melahirkan semua kerusakan tersebut. Kesadaran yang benar tentang akar masalah ini akan mendorong umat menuntut perubahan sistem, bukan saja meminta bergantinya orang yang berkuasa,” jelasnya.

Berikutnya, umat juga harus memahami sistem apa yang akan menyelamatkan mereka dari penderitaan di dunia dan akan menghantarkan pada keselamatan di akhirat kelak. Jangan sampai umat salah dalam menentukan pilihan solusi.

“Pada akhirnya bukan membebaskan mereka dari kezaliman, tetapi justru menjerumuskan mereka pada penderitaan lain, hanya pelakunya saja yang berganti,” ujarnya.

Ia mengibaratkan, kejadian ini seperti kata pepatah, “Lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya.”

Baca juga:  Keamanan Terancam, Demokrasi Suburkan Kekerasan

Sistem Alternatif yang Menyelamatkan

Bu Dedeh menjelaskan, sistem alternatif itu hanya satu, yakni sistem kehidupan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, yang dalam istilah fikih Islam disebut Khilafah Islamiah.

Kesadaran terhadap sistem pengganti ini sangat penting agar perubahan tidak salah arah. Juga untuk menjaganya tetap konsisten di jalan perjuangan dan tidak terbelokkan iming-iming, rayuan, dan lobi-lobi dari pihak lain yang ingin menjegal arus perubahan.

“Datangnya perubahan berupa hancurnya demokrasi kapitalis dan tegaknya Khilafah merupakan perkara pasti karena merupakan janji Allah SWT (Lihat: QS an-Nur: 55), juga dalam hadis Rasulullah saw.,” jelasnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

ثُم تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَرِيَّةً فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعَهَا اللهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Maka ia menegaskan, tugas umat adalah meyakini kebenaran janji Allah tersebut, kemudian menyiapkan diri berperan aktif menyongsong kedatangannya.

Hal pertama yang harus disiapkan adalah memahami metode perjuangan menegakkan Khilafah. Perjuangan tidak boleh ditempuh dengan metode yang salah, namun harus mencontoh jalan perjuangan yang sudah dilewati baginda Rasulullah saw., yakni dakwah pemikiran.

Baca juga:  Berbagi Jatah di Reshuffle Kabinet

Lalu persiapan kedua, segera melibatkan diri dalam upaya dakwah untuk mencerdaskan umat. Dalam hal ini sebagai muslimah memiliki tanggung jawab untuk memahamkan muslimah di sekeliling kita, mereka harus disadarkan tentang kezaliman yang sedang terjadi dan diarahkan pada cahaya kebenaran Islam.

Dengan demikian, mereka pun mendapat penjelasan tentang aktivitas yang harus dijalankan untuk merealisasikan tujuan tersebut (penegakan Islam kaffah, ed.).

“Jika umat secara mayoritas sudah menghendaki perubahan dan merindukan hadirnya kepemimpinan Islam, akan muncul kekuatan politik yang tidak bisa dibendung. Untuk itu butuh pemahaman yang benar, keyakinan yang kokoh, dan aksi yang nyata. Saat itu tegaknya Khilafah menjadi keniscayaan, in syaa Allah,” tutupnya. [MNews/Ruh-Gz]


#JayaDenganSyariatIslam
#IslamJagaPerempuan
#BerkahdenganKhilafah

Tinggalkan Balasan