Nafsiyah

Larangan Membenarkan dan Membantu Pemimpin yang Dusta dan Zalim

Oleh: Ustazah Rohmah Rodhiyah

MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Dari Ka’ab bin Ujrah dia berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Rasulullah saw. pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Rasulullah saw. lalu bersabda,

“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan zalim. Barang siapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta dia tidak akan minum dari telagaku.

Dan barang siapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka dia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak dia akan minum dari telagaku.”

(HR Ahmad No. 17424 ), Status: Hadis Sahih, diriwayatkan Abu Abdallah Ahmad Ibnu Muhammad Ibn Hanbal (w.246) Musnad Ahmad 37/79; Diriwayatkan Imam Nasa’i No. 4136 dan No. 4137 , Sunan Nasa 13/119).

Dalam hadis sahih riwayat Ahmad No. 17424, riwayat  Sunan Nasa’i No. 4136 dan  No. 4137,  Nabi mengabarkan bahwa nanti akan ada pemimpin umat Islam  yang pandai berdusta, yaitu pemimpin yang tidak jujur/berdusta/berbohong dalam mengurus rakyatnya: mengurus urusan rakyat berdusta, mark up anggaran, korupsi, suap, atau pernyataan pernyataan dusta lainnya.

Baca juga:  [Nafsiyah] Menyikapi Pelaku Kezaliman

Selanjutnya, Nabi mengabarkan nanti akan ada pemimpin umat Islam yang zalim. Yang dimaksud dengan lafaz “zalim” adalah lawannya “adil”.

Adil adalah melaksanakan hukum Islam secara keseluruhan, berarti pemimpin zalim adalah pemimpin yang tidak melaksanakan hukum Islam. Firman Allah dalam QS Al Maidah: 45,

ۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Dalam hadis tersebut terdapat larangan bagi pemimpin untuk berbuat dusta dan zalim. Hal ini ditunjukkan kalimat: “فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْه” (maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya) adalah qarinah/indikator yang menunjukkan thalabu attarki jaaziman (tuntutan untuk meninggalkan perbuatan tersebut secara pasti). Hal ini menunjukkan hukumnya haram.

Keharaman ini meliputi beberapa aktivitas yang berkaitan dengan dusta dan kezaliman: Pertama, pelaku dusta dan kezaliman. Kedua, orang yang mendatanginya dan membenarkannya. Ketiga, orang yang membantu perbuatan dusta dan zalim.

Dari sini Rasulullah saw. menegaskan seharusnya sikap umat Islam meninggalkan kezaliman dan kebohongan/dusta, tidak membantunya, atau terlibat dalam proyek serta agendanya.

Sabda Rasulullah saw., “Barang siapa mendatangi mereka, pemimpin umat Islam  yang berdusta dan zalim, kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka dia bukan dari golonganku (golongan Rasulullah) dan aku bukan dari golongannya.”

Selanjutnya, dalam hadis tersebut ada ancaman bagi yang terlibat dalam kezaliman dan dusta para pemimpin, bahwa mereka tidak dimasukkan dalam golongan Rasulullah dan tidak mendapat kesempatan minum dari telaga Rasulullah saw. saat kiamat kelak.

Baca juga:  Dosa dan Bahaya Dusta

Padahal, pada saat itu umat Islam akan mengalami kepayahan dan kesulitan yang sangat dan sangat haus, sehingga membutuhkan syafaat Rasulullah.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian (ketika mendatangi telaga pada hari kiamat nanti) dan aku akan menjadi saksi bagi kalian, demi Allah, sungguh aku sedang melihat telagaku saat ini. (HR al-Bukhari no. 6218 dan Muslim no. 2296)

Di hadis lain, beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian ketika mendatangi telaga (pada hari kiamat nanti), barang siapa yang mendatanginya, maka dia akan meminum airnya, dan barang siapa yang meminumnya, dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya.” (HR al-Bukhari no. 6643 dan Muslim no. 2290).

Membantu perbuatan dusta dan zalim, terlibat dalam proyek dusta, juga diharamkan. Menggencarkan sekularisme misalnya, yaitu menyampaikan bahwa umat Islam tidak harus menerapkan Islam kaffah (hukum Islam secara menyeluruh), bahwa boleh kalau urusan dunia membuat aturan sendiri karena Allah telah menyerahkan kepada manusia.

Mereka menggunakan dalil “Engkau lebih mengetahui dunia kalian“. Padahal, dalil itu tentang penyerbukan kurma—masalah teknis, bukan masalah hukum halal haram.

Baca juga:  Cinta Kepada Nabi Saw: Tegakkan Keadilan, Lawan Kezaliman

Berbeda kalau urusan akhirat, menurut mereka itu adalah urusan agama, maka aturannya diserahkan kepada agama Islam dan boleh merujuk Al-Qur’an dan Hadis.

Atau terlibat dalam proyek-proyek yang memusuhi Islam dan umatnya, dengan mengatakan Islam tidak mempunyai sistem pemerintahan yang baku; Khilafah bukan ajaran Islam; dalil Khilafah tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadis; atau dalilnya hanya pendapat ulama.

Sesungguhnya, semuanya itu proyek dan perkataan dusta dan tidak berhujah. Kaum muslimin seharusnya menyikapi kezaliman dan dusta sesuai tuntunan Nabi, yaitu tidak membenarkannya, tidak membantu, tidak terlibat dalam proyek dusta dan zalim.

Sabda Rasulullah saw. “Dan barang siapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantunya dalam berbuat kezaliman, maka dia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak dia  akan minum dari telagaku.”

Melakukan amar makruf nahi mungkar kepada pemimpin yang zalim dan dusta merupakan kewajiban. Berkaitan dengan telaga Rasulullah saw., Imam Ibnu Katsir berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasulullah saw., berdasarkan hadis yang kuat.” Semoga Allah memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat. [MNews/Gz]

Sumber: https://suaramubalighah.com/2019/12/04/larangan-membenarkan-dan-membantu-pemimpin-yang-berdusta-dan-dzalim/  Dengan penyesuaian redaksi.

One thought on “Larangan Membenarkan dan Membantu Pemimpin yang Dusta dan Zalim

  • Yani Suryani

    Sistem ini yg menciptakan pemimpin yg zalim, tidak adil, dan kurang peduli..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *