Islam Menjaga Fitrah dan Naluri Ibu

Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, FOKUS — Seorang perempuan diberi Allah SWT kelembutan dan kasih sayang yang luar biasa. Semestinya anugerah ini terjaga keberadaannya dan akan tercermin dalam keoptimalan dalam menjalankan perannya sebagai ibu.

Dia akan mengerjakan perannya dengan sebaik-baiknya, menyayangi, menjaga, membesarkan, dan mendidik putra-putrinya dengan benar sehingga terlahir dari rahimnya generasi saleh dan salihah.

Namun, fakta sekarang banyak membuat kita miris dan sedih. Ternyata, ada di antara perempuan ini yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri, bahkan dengan sengaja membunuhnya.

Kenapa naluri ibu seolah hilang? Apakah benar kemiskinan penyebab utamanya? Inilah beberapa perkara yang membutuhkan jawaban, sehingga kaum perempuan kembali kepada fitrahnya sebagai ibu pendidik generasi. Ibu yang akan melindungi anak dengan sepenuh hati dalam kondisi apa pun.

Kemiskinan Hanyalah Kambing Hitam, Buah Penerapan Demokrasi Kapitalisme

Kemiskinan memang sering kali dituduh sebagai penyebab yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa kriminal. Sebagaimana kasus pembunuhan yang dilakukan seorang ibu kepada tiga anak kandungnya di kepulauan Nias. Menurut Humas Polres Nias, Iptu Yasden, motif pelaku melakukan pembunuhan tersebut karena faktor himpitan ekonomi. “Kesulitan mencari nafkah sehari-hari,” ujarnya. (tribunnews.com)

Padahal, sesungguhnya kemiskinan hanyalah dampak diterapkannya sistem yang salah, sistem yang gagal mengelola kekayaan alam. Limpahan kekayaan luar biasa yang dimiliki negeri ini tidak diurus dengan benar, sehingga tidak menjadi sumber pendapatan yang akan menjadi modal menyejahterakan rakyatnya.

Sistem demokrasi kapitalisme yang diterapkan sekarang telah sukses mengumpulkan kekuasaan pada seseorang dan pihak yang berada di sekitarnya—kemudian dikenal istilah politik dinasti. Namun, gagal dalam mendistribusikan keadilan dan kesejahteraan pada rakyatnya.

Jika jujur dalam mengungkap akar masalahnya, kemiskinan hanyalah kambing hitam. Sebenarnya yang layak dijadikan tertuduh adalah sistem kehidupan yang telah melahirkan banyaknya keluarga miskin.

Baca juga:  Berkah Bonus Demografi

Aturan yang diterapkan lebih berpihak kepada pemilik modal. Merekalah yang banyak mendapat keuntungan dari kekayaan negeri ini. Sementara rakyat tetap berada dalam himpitan kesulitan.

Orang-orang yang kurang secara ekonomi dan lemah dalam keyakinan akhirnya tidak bertahan dan terjerumus mengambil solusi yang tidak menyelesaikan, malah justru semakin menjerumuskan pada kejahatan dan pelanggaran.

Nasib ibu dan anak dalam sistem demokrasi kapitalis sangat mengenaskan. Dia tidak memiliki kesempatan untuk menikmati perannya dengan baik. Mereka menjalaninya dengan berat dan penuh keterpaksaan. Jadilah fungsi istri dan ibu sebagai beban yang menyesakkan, dianggap merampas kebebasan dan ekspresi pribadi, dan jauh dari kenyamanan yang membahagiakan.

Mereka berupaya untuk melepaskan beban ini dengan berbagai cara. Bahkan kematian dianggap sebagai solusi yang dipilih untuk menghentikan segala penderitaan. Bagi mereka, urusan hisab dan pertanggungjawaban di akhirat bukan perkara yang harus dipikirkan.

Hal ini karena mereka jauh dari nilai-nilai agama sebagai fondasi dan standar ketika berpikir dan berbuat. Sekularisme telah menghilangkan hubungannya dengan Sang Pencipta, berupa ketaatan terhadap aturan-Nya yang diturunkan dalam ajaran agama.

Islam Melindungi dan Menyejahterakan Perempuan dan Anak

Ketika Islam diterapkan secara sempurna oleh negara, hak dan kewajiban seluruh warga negara pun akan terpenuhi dengan baik. Keadilan bukan hanya janji dan harapan, tetapi akan terbukti dalam kehidupan nyata.

Sistem ekonomi Islam yang diterapkan negara akan mengelola sumber daya alam milik umum, seperti hutan dan barang tambang untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Keuntungan yang diperoleh negara akan dikembalikan kepada mereka berupa jaminan pendidikan, kesehatan, dan keamanan yang diperoleh secara cuma-cuma, juga tersedianya fasilitas umum yang baik.

Baca juga:  Kemelut Utang BUMN, Waspadalah, Waspadalah!

Kebijakan pendidikan Islam yang diberlakukan negara akan memastikan seluruh rakyat mendapatkan pendidikan yang layak dan cukup. Sistem pendidikan yang akan menguatkan keimanan, meningkatkan penguasaan ilmu syariat dan ilmu kehidupan, juga akan mendorong pengamalannya.

Lewat sistem ini, akan lahir orang yang kuat dalam keimanan dan siap menjalani kehidupan sesuai syariat, serta mampu bertahan menghadapi ujian kehidupan.

Ketika Khilafah tegak, negara akan dirasakan kehadirannya oleh seluruh rakyat, termasuk kaum perempuan. Kebijakan yang ditetapkan negara senantiasa akan mengacu pada fungsinya sebagai raa’in dan junnah (perisai), penanggung jawab dan pelindung rakyat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ،

“Ingatlah, kalian semua adalah penggembala, dan kalian semua penanggung jawab atas ternaknya. Seorang amir (yang memiliki kedudukan) di atas manusia ialah penggembala, dan dia penanggung jawab atas ternaknya.” (HR. Bukhari no. 2409 & Muslim no. 1829, dari hadits Ibnu Umar)

Seorang pemimpin dalam Islam menyadari bahwa yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan pada Allah SWT, Sang Pemilik aturan. Ketakwaan inilah yang akan menjaganya sekuat tenaga menjalankan amanah yang ada di pundaknya dengan sempurna.

Jika melakukan kesalahan, dia segera menyadarinya dan memperbaikinya. Sebagaimana ditunjukkan Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Beliau pernah membuat kebijakan yang kurang tepat. Beliau memberikan santunan dari Baitulmal bagi anak-anak yang telah selesai masa penyapihannya (menyusui), yakni usia di atas dua tahun.

Baca juga:  Khilafah Menjamin Terwujudnya Negara Penuh Berkah

Mengetahui kebijakan demikian, para ibu mempercepat masa penyapihan anak-anaknya. Mereka ingin segera mendapat santunan pemerintah, demi meringankan beban rumah tangga.

Umar terkejut melihat respons ibu-ibu itu. Seusai salat, Umar mengeluarkan kebijakan, santunan diberikan kepada setiap anak sejak mereka dilahirkan. Ia tempuh kebijakan ini demi menjaga dan melindungi anak-anak. Dan juga menyenangkan hati para ibu yang sedang menyusui (Thabaqat Ibnu Said, (III: 298); ar-Riyadh an-Nadhirah, (II: 389); dan ath-Thifl fi asy-Syari’ah al-Islamiyah).

Khalifah Umar memang dikenal sangat perhatian pada urusan rakyatnya. Pada suatu malam, Umar mendapati ada anak-anak yang menangis kelaparan, lalu ibunya berpura-pura memasak, padahal hanya mendidihkan air, berharap agar anaknya yang kelaparan menunggu dan tertidur.

Melihat itu, Khalifah Umar bersegera mengambil sekarung gandum yang beliau bawa sendiri dan diberikan kepada ibu tersebut. (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 7/153-154)

Apa yang dilakukan khalifah Umar adalah wujud tanggung jawab seorang pemimpin terhadap kebaikan ibu dan nasib anak. Keduanya mendapatkan hak dengan sebaik-baiknya.

Ketika negara menjalankan fungsi pengurusan dengan baik maka seorang ibu akan mampu menjaga naluri dan fitrah keibuan. Dia akan menjalani perannya dengan baik, dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan rasa bahagia.

Kehadiran anak akan diterima sebagai amanah. Kalaupun ada kesulitan maka akan dihadapi dengan sikap sabar dan berusaha keras untuk mencari solusinya. Ketika Khilafah tegak tidak akan dibiarkan ibu membunuh anaknya disebabkan himpitan ekonomi.

Jadi, agar ibu menjalani hidup sesuai fitrahnya secara sempurna dan anak-anak mendapatkan hak-hak mereka dengan baik, solusinya adalah meninggalkan sistem yang menyengsarakan. Dan beralih pada sistem yang menyejahterakan, yakni Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]


#PerempuanRinduKepemimpinanIdeologis
#KhilafahHarapanUmat
#PerempuanMuliadenganKhilafah

7 thoughts on “Islam Menjaga Fitrah dan Naluri Ibu

  • 23 Desember 2020 pada 08:59
    Permalink

    Miris ya mendengar/melihat problematika ummat saat ini ternyata semua terjadi akibat sistem yg salah

  • 23 Desember 2020 pada 08:57
    Permalink

    Miris ya mendengar problematika ummat terutama kaum ibu sekarang ini…ternyata..akibat dr sebuah sistem

  • 22 Desember 2020 pada 15:51
    Permalink

    Masyaalloh andaikn islam saat ini tegak tdk ada lg kasus yg pmbunuhan hnya krn kelaparan.bs trjadi saat ini krn sstem yg d pk sstem demokrasi yg mmbwa kengsaraan manusia.mari kita perjuangakn tegakny sistem islam yaitu khilafah islamiyah

  • 22 Desember 2020 pada 15:13
    Permalink

    Sistem demokrasi sekulerisme yang ada sekarang memang terbukti salah dan menyengsarakan bukan hanya perempuan dan anak” tapi juga seluruh masyarakat terutama rakyat miskin…dan solusi untuk permasalahan adalah mengganti sistem yg ada dengan sistem ISLAM dengan penegakan KHILAFAH ISLAMIYAH

Tinggalkan Balasan