Berkah Bonus Demografi

Oleh: Nila Mawarwati

MuslimahNews.com, FOKUS — Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia—sekaligus menjadi salah satu negeri muslim terbesar—telah menjadikan Indonesia sebagai perhatian dunia khususnya negara adidaya. Ditambah Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

Konon, Indonesia kini telah dikeluarkan AS sebagai negara berkembang dan berubah menjadi negara maju. Tak ayal, kini Indonesia semakin membuka lebar pintu masuknya para investor asing yang ingin menanamkan modalnya yang sedikit untuk mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat lebih banyak. Ya, itulah tabiat kapitalisme.

Jumlah penduduk yang besar tentu menjadi pasar yang potensial bagi para kapitalis, apalagi berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), dalam rentang tahun 2020-2035 Indonesia akan mengalami bonus demografi.

Bonus demografi adalah fenomena usia produktif, yaitu 15-64 tahun lebih banyak daripada usia nonproduktif (usia 15 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas).

Itu artinya, 100 orang penduduk usia produktif hanya akan menanggung sekitar 47 orang nonproduktif. Sehingga hal ini akan mengurangi besarnya biaya untuk pemenuhan kebutuhan penduduk usia nonproduktif, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan penduduk.

Penduduk dengan usia produktif—dimaknai sebagai angkatan pekerja—menjadikan pemerintah harus menyiapkan lapangan pekerjaan yang banyak serta sumber daya manusia andal yang siap diserap dunia usaha.

Oleh karenanya, saat ini pendidikan vokasi menjadi terobosan pemerintah untuk menciptakan SDM yang dinamis, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki daya saing global.

Dengan strategi seperti ini, diharapkan Indonesia berhasil memanfaatkan peluang bonus demografi. Namun, apakah potensi penduduk usia produktif ini hanya disiapkan sebagai penggerak perekonomian saja?

Baca juga:  Kemelut Utang BUMN, Waspadalah, Waspadalah!

Generasi Muda di Pusaran Kapitalisme

Potensi kuantitas penduduk usia produktif di Indonesia sebenarnya sangat besar, namun potensi besar tersebut masih sebatas “dimanfaatkan” sebagai penggerak ekonomi saja baik sebagai pekerja yang diupah atau konsumen yang konsumtif.

Sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini tentu menjadikan materi atau keuntungan sebagai standar segalanya. Lihat saja bagaimana orientasi dari lulusan sekolah sampai perguruan tinggi adalah bekerja atau menjadi pekerja.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Agus Sartono, ada 1,8 juta lulusan pendidikan menengah atas yang terpaksa bekerja dan 1,3 juta lulusan perguruan tinggi dengan gelar sarjana maupun diploma. Berarti, setiap tahunnya ada 3,1 juta pencari kerja di Indonesia.

Namun, seiring berkembangnya zaman dan revolusi teknologi, lapangan kerja khususnya yang membuka peluang untuk lulusan pendidikan menengah kian menyempit. Belum lagi terbuka lebarnya izin kerja bagi tenaga kerja asing membuat persaingan semakin ketat, bagi yang minim skill tentu akan tersingkir.

“Undangan” dari pemerintah Indonesia untuk para investor yang akan membuka banyak lapangan pekerjaan khususnya dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia, hakikatnya hanya menebar jala untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar. Sedangkan putra-putri bangsa menjadi pekerja dan negara hanya menjadi regulator saja. Miris!

Selain itu, ideologi kapitalisme sekuler yang bercokol di negeri ini telah memengaruhi cara pandang terhadap hidup mayoritas masyarakat negeri ini, di mana hidup sekadar untuk mendapatkan materi dan “membeli” kesenangan yang bersifat materi.

Sehingga, dari perilaku konsumtif ini akan menguntungkan pihak kapitalis, terlebih ketika Indonesia berada di puncak bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 209 juta jiwa dari 321 juta jiwa penduduk Indonesia.

Baca juga:  Solusi Total Atasi Kemiskinan Massal

Inilah potensi bonus demografi yang hanya dipandang dan dikelola secara ekonomi saja.

Bonus Demografi: Berkah Songsong Khilafah

Setiap negara pasti akan menghadapi bonus demografi yang hanya terjadi satu kali saja. Salah mengelola potensi bonus demografi tentu akan membawa bencana.

Memanfaatkan usia produktif hanya untuk target ekonomi pun tidak akan membawa pada kemajuan dan kebangkitan hakiki suatu bangsa.

Islam sebagai agama dan ideologi sahih tentu harus menjadi satu-satunya rujukan, termasuk dalam mengelola dan menyiapkan bonus demografi.

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah At Taubah ayat 33,

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

Rasulullah saw. pun menegaskan dalam sabdanya, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR Ad Daruquthni).

Generasi muda saat ini adalah pemimpin di masa depan. Menyiapkan mereka menjadi generasi unggul adalah suatu keniscayaan. Apalagi bonus demografi di negeri mayoritas muslim ini adalah anugerah yang jangan sampai disia-siakan.

Oleh karenanya, hal utama dan mendasar yang harus dilakukan kepada generasi saat ini adalah menanamkan keimanan yang kokoh dan produktif, yaitu iman yang akan melahirkan amal saleh dengan menjalankan syariat-Nya (Islam) secara keseluruhan.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208).

Baca juga:  Khilafah Menutup Celah “Abuse of Power”

Berikutnya, membentuk generasi yang mencintai ilmu, generasi muda yang faqih fiddiin yaitu menguasai ilmu-ilmu agama Islam. Selain itu mereka juga harus menguasai ilmu sains teknologi serta dibekali skill yang mumpuni.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika kedua hal tersebut tiada padanya, tidak ada jati diri padanya.”

Oleh sebab itu, dengan ilmu dan takwalah generasi saat ini bisa memaksimalkan dan mengarahkan potensinya berupa kecemerlangan akal pikiran, tenaga yang masih kuat; serta karakter yang dinamis, kreatif, dan inovatif.

Produktif menurut Islam adalah melakukan sesuatu yang bukan hanya akan menghasilkan manfaat bagi umat, tapi kelak amal perbuatannya akan menjadi saksi atau hujah bagi pelakunya saat bertemu dengan Rabb-nya, Allah SWT.

Sebaliknya, sangat disayangkan jika menyiapkan SDM yang unggul hanya sebagai penggerak perekonomian semata, bahkan hal ini sungguh telah meremehkan potensi yang dimiliki generasi terbaik.

Allah SWT berfirman, “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110).

Ya, generasi unggul adalah penggerak perubahan hakiki, yang bergerak dan berkarya untuk kebangkitan Islam.

Iman yang kokoh, visi misi hidup mulia sebagai seorang hamba Allah, serta mental tangguh yaitu mental pemimpin dan pejuang, telah memantapkan kesiapan menghadapi bonus demografi dalam menyongsong peradaban mulia dengan tegaknya institusi Khilafah Islamiyyah. [MNews/Gz]


#PerempuanRinduKepemimpinanIdeologis
#KhilafahHarapanUmat
#PerempuanMuliadenganKhilafah

8 thoughts on “Berkah Bonus Demografi

Tinggalkan Balasan