Baitulmal di Masa Umar bin Khaththab ra.

MuslimahNews.com, TARIKH KHILAFAH – Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, wilayah kekuasaan Islam meluas mulai dari Jazirah Arab, Suriah, Palestina, Mesir, hingga ke seluruh kerajaan Persia termasuk Irak.

Wilayah kekuasaan yang semakin besar itu turut pula berkontribusi terhadap penambahan harta yang terhimpun, baik yang berasal dari zakat, pajak, ghanimah (harta yang diperoleh dari musuh usai perang), kharaj (pungutan atas tanah kharajiyah), dan instrumen lainnya.

Baitulmal inilah yang menjadi tempat untuk mengatur keuangan negara. Penataan sistem administrasi Baitulmal yang tertata rapi ini awalnya bermula dari masa ketika Gubernur Bahrain, Abu Hurairah membawa pajak al-kharaj sebesar 500 ribu dirham.

Besarnya dana tersebut kemudian membuat Khalifah Umar bin Khaththab memutuskan untuk tidak mendistribusikan seluruhnya, tetapi disimpan sebagai cadangan untuk keperluan darurat.

Luasnya wilayah penaklukan umat Islam di masa itu juga membuat hadirnya cabang Baitulmal di ibu kota provinsi. Namun, Umar menetapkan eksekutif tidak boleh ikut campur dalam mengelola Baitulmal.

Di provinsi, pejabat Baitulmal tidak bergantung pada gubernur dan punya otoritas penuh dalam menjalankan tugas serta bertanggung jawab pada pemerintah pusat. Secara tidak langsung, Baitulmal berfungsi sebagai pelaksana kebijakan fiskal dan Khalifah menjadi pihak yang berkuasa penuh terhadap harta Baitulmal.

Dalam urusan pendistribusian ini, Umar juga mendirikan beberapa departemen di Baitulmal. Misalnya Departemen Pelayanan Militer yang berfungsi mendistribusikan dana bantuan pada yang terlibat perang, Departemen Kehakiman dan Eksekutif yang bertugas membayar gaji hakim dan pejabat eksekutif, Departemen Pendidikan dan Pengembangan Islam untuk memberikan bantuan dana bagi penyebar dan pengembang ajaran Islam, dan Departemen Jaminan Sosial yang memberi dana bantuan pada fakir miskin.

Saat kondisi Baitulmal kuat, Umar bin Khaththab menambahkan daftar kewajiban negara dengan memberi pinjaman untuk perdagangan dan konsumsi dari harta yang ada di Baitulmal.

Selain itu, Umar juga memberi berbagai tunjangan kepada kaum muslim dengan rentang antara 100 dirham untuk bayi yang baru lahir dan anak yatim piatu, hingga 12 ribu dirham untuk istri Rasulullah Saw. (Hasanuzzaman, 1991). Langkah ini merupakan suatu bentuk tanggung jawab negara terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat. [MNews/Rgl] Sumber: mysharing.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *