SMA di Denmark Terapkan Kebijakan Anti-Islam

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Di Denmark, beberapa kepala sekolah menunjukkan sikap mereka terhadap pelaksanaan ibadah salat siswa muslim di SMA dalam sebuah artikel di Jyllands Posten pada 6/12/2020.

Sikap yang aneh: Murid muslim dilarang salat di sekolah atau tidak diberikan ruangan khusus (kosong) atau semacam tempat sepi untuk beribadah ketika waktu istirahat. Dan semua murid bisa menggunakannya.

Ketua Kepala Sekolah Denmark, Birgitte Vederso menjelaskan, ada kebijakan umum yang melarang ibadah umat Islam di SMA di kota-kota besar, yaitu di SMA yang memiliki banyak siswa muslim.

Di artikel yang sama, Menteri Integrasi Mattias Tesyafe berkomentar atas kebijakan larangan ini dengan pernyataan, “Seseorang seharusnya tidak berharap ketika ada panggilan istirahat, bersamaan dengan panggilan untuk beribadah.”

Hipokrisi Barat

Sekali lagi, semakin jelas yang dimaksud “kebebasan beragama” di negara ini tidak termasuk kebebasan bagi muslim. Sikap hipokrit ini semakin parah dengan adanya tujuan resmi pendidikan siswa SMA adalah nilai-nilai kebebasan.

Pemikiran seperti keberagaman, toleransi, dan sikap inklusif, sering disampaikan di SMA. Bagaimanapun itu, hasil akhirnya jelas, yaitu siswa dididik dengan standar ganda Barat.

Kebijakan larangan salat menunjukkan intoleransi adalah pendekatan standar bagi Islam. Persis sebagaimana yang terjadi pada sebagian kecil masyarakat, di mana diskriminasi melawan muslim semakin meluas dan menjadi kebijakan Parlemen Denmark.

Baca juga:  Serangan terhadap Kemuliaan Islam Makin Masif, Harus Dilawan!

Para kepala sekolah menggunakan beragam dalih untuk melegalkan larangan tersebut. Beberapa dari mereka menggunakan argumen sekularisme, di saat hal tersebut bertentangan dengan klaim berharga sekularisme bahwa sistem ini bisa merangkul semua pandangan hidup masyarakat.

Kebijakan larangan mengungkapkan hal yang sebaliknya. Netralitas adalah penjelasan bodoh yang digunakan dengan klaim bahwa “SMA bukan institusi religius, tetapi sebagai tempat netral”.

Apakah ini berarti beberapa perusahaan tertentu, sekolah, dan universitas tidak netral karena mereka memberikan ruangan ibadah kepada pegawai dan murid mereka? Jelas klaim absurd telah dibuat.

Ketua Kepala Sekolah dan Menteri Integrasi juga menggunakan dalih “sosial kontrol”: Kekhawatiran bahwa siswa mungkin tertekan dengan ibadah siswa lain.

Tetapi di mana kekhawatiran pihak sekolah ketika siswa “tertekan” dengan “makan malam saru” (dengan “berpelukan”), pesta dengan ritual merendahkan, mabuk-mabukan, atau gaya berpakaian tertentu? Terlebih lagi, adakah bukti ada siswa muslim yang beribadah dengan terpaksa?

Hal yang masuk akal untuk semua penjelasan itu adalah, penjelasan yang tidak kuat, konyol, lemah. Mereka menunjukkan intoleransi yang sengit, juga hipokrisi.

Kebijakan Anti-Islam, Obsesi Pemerintah Denmark

Penjelasan yang nyata untuk larangan ini adalah SMA melaksanakan kebijakan anti-Islam yang menjadi obsesi pemerintah Denmark. Simbol Islam, nilai, dan identitasnya senantiasa ditunjukkan sebagai serangan politis. Menteri Integrasi Mattias Tesyafe menyebut salat—ibadah umat Islam—sebagai “Tangisan Perang”.

Baca juga:  Cina Tak Berniat Tutup Kamp-Kamp Konsentrasi Uighur di Xinjiang

Padahal, salat adalah pilar utama dalam identitas Islam. Terlebih lagi, ruang ibadah bisa menjadi tempat menarik bagi lingkungan yang sehat dan amal saleh.

Juga sebagai perlawanan atas perbuatan nista (cabul) yang biasanya dipromosikan di SMA—berpesta, mabuk-mabukan, dan berzina—yang justru mendapat ruang luas dan diciptakan sebagai bagian integral dalam pembelajaran di SMA.

Maka, ini seruan kepada para wali murid, keluarga, dan perwakilannya untuk menuntut sekolah agar mengizinkan anak-anak muslim memiliki akses salat di sekolah.

Sebagai komunitas muslim, kita harus mendukung siswa muslim memegang teguh identitas mereka, khususnya ketika menghadapi kecurigaan dan larangan. Dengan pendekatan ini, mereka membuktikan kelemahan dan standar ganda budaya Barat sebagai kekuatan Islam. [MNews/Rgl-Gz]

2 thoughts on “SMA di Denmark Terapkan Kebijakan Anti-Islam

  • 22 Desember 2020 pada 16:32
    Permalink

    Kebebasan beragama tidak berlaku bagi kaum muslimin. Tentu saja, standar ganda yang divuat oleh barat,akan bertentangan dengan apa2 yang berhubungan dengan Islam. Sentimen terhadap Islam menandakan bahwa ketidakadilan terhadap kaum Muslimin akan terus berjalan sehingga yang patut kita lakukan adalah upaya2yang akan membebaskan kaum muslimin serta menyelesaikan seluruh permasalahan dengan jalan mengubah sistem yang berlaku di dunia. Yakni mengusahakan penegakan Islam yang Rahmatan Lil Aalamin dalam naungan Khilafah Islamiyyah.

  • 22 Desember 2020 pada 14:47
    Permalink

    Innalillahi wainnailaihi rojiuun.segala upaya dilakukan untuk menjegal islam berkuasa kembali.

Tinggalkan Balasan