Plagiarisme, Output Pendidikan Sistem Demokrasi

MuslimahNews.com, NASIONAL — Plagiarisme merupakan perilaku ketidakjujuran. Di dalam dunia pendidikan, perilaku ini sangat berat konsekuensinya. Terlebih bagi muslim. Demikian dikemukakan Ustazah Dyah Hikmawati dalam Live Discussion: Demokrasi Suburkan Plagiarisme, Apa Solusinya? di FP Muslimah News ID (18/12/2020).

Ustazah Dyah menuturkan di dalam sistem demokrasi segala hal diatur oleh manusia, sehingga seolah-olah tidak akan terjadi plagiarisme di alam demokrasi. “Namun faktanya, demokrasi merupakan sistem yang menjadikan akal sebagai pembuat keputusan. Tolok ukurnya adalah madiyah atau materi. Maka yang ujungnya adalah materi yang menguntungkan individu atau kelompok, akan dikejar,” jelasnya.

“Implementasinya di perguruan tinggi, menyelesaikan karya ilmiah adalah “sesuatu” karena ijazahnya dapat digunakan mencari kerja. Atau untuk penelitian dan publikasi, menjadi hal yang berarti sekali saat seseorang mampu melakukannya bahkan sampai ke jurnal internasional. Bisa mendapat poin demi poin (angka kredit –red),” tambahnya.

Motif Ekonomi

Ustazah Dyah mengkritisi sistem ini yang mengajarkan tolok ukur adalah berapa rupiah yang bisa diperoleh ketika melahirkan karya ilmiah. Karya ilmiah pun menjadi sarana mendapatkan kepuasan yang dianggap tolok ukur kebahagiaan. “Paradigma ini merusak naluri kejujuran tadi. Budaya permisif yang menghalalkan segala cara diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mengambil jalan pintas. Apalagi dengan digitalisasi era Revolusi 4.0 sangat mudah mengakses informasi dan big data dari mana saja. Plagiarisme menjadi ladang subur karena mudah mendapatkan informasi,” cetusnya.

Ustazah Dyah memaparkan demokrasi sekuler dengan kebebasan kepemilikannya yang tidak mengenal halal haram,  menyebabkan orang yang memiliki modal dan menguasai kepemilikan akan mudah mengakses data sehingga akan menguasai ilmu pengetahuan. Dampaknya ilmu pengetahuan tidak lagi murni untuk dipelajari. Tetapi siapa yang menguasai ilmu dia yang menguasai ekonomi, ujung-ujungnya adalah uang. “Inovasi sekarang juga berbasis ekonomi. Sehingga menjadi sulit menyatakan bahwa menduplikasi, plagiat, mengakui karya orang lain adalah perbuatan yang salah karena dalihnya ekonomi,” tegasnya.

Terlebih, Ustazah Dyah menegaskan, jika industri dan infrastruktur sudah mendukung maka dialah yang menguasai. Sebaliknya di Indonesia, akan sulit mengeksekusi ide-ide. “Siapa yang memplagiat duluan, dia akan menang,” kecamnya.

Baca juga:  Rekomendasi RNPK: Solusi atau Masalah?

Pendidikan Islam Menihilkan Plagiarisme

Sementara itu Ustazah Yusriana menyoroti solusi fenomena plagiarisme saat ini. Menurutnya problem output generasi saat ini, termasuk plagiarisme, timbul akibat sistem pendidikan dalam bingkai demokrasi. Islam memiliki solusi semua problematika kehidupan. “Pemecahannya tidak bisa dalam bingkai demokrasi tetapi khas dalam bingkai Khilafah Islamiyah,” tuturnya.

Ustazah Yusriana menyebutkan berbagai keunggulan sistem pendidikan khilafah yaitu,

Kesatu, berkepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Yakni cara berpikir dan bersikap sesuai dengan Islam.

Kedua, faqih fiddin yakni penguasaan terhadap ilmu agama.

Ketiga, faqih finnaas yakni terdepan dalam saintek. Kreatif dan inovatif dalam konstruksi teknologi. Tanpa plagiat.

Keempat, berjiwa pemimpin.

Ustazah Yusriana menekankan dari keunggulan tersebut menghasilkan individu dan generasi berkualitas. Individu berkualitas yaitu ulul albab atau yang berpikir (QS Ali Imran: 190), akan menggunakan akalnya untuk kemashlahatan generasi. Sebaliknya dengan plagiat potensi berpikir tidak digunakan. Sedangkan generasi berkualitas yaitu khoiru ummah atau umat terbaik yang memberi kemashlahatan bagi dunia, bukan merusak. “Mirisnya, saat ini generasinya banyak yang memberi kerusakan,” ujarnya.

Hanya dalam Bingkai Khilafah

Untuk menghasilkan output pendidikan tersebut, Ustazah Yusriana merinci adanya cakupan politik pendidikan Khilafah Islamiyyah berupa,

Kesatu, asas pendidikan, yaitu akidah Islam dalam ilmu pengetahuan dan menjadi standar pemikiran. “Sehingga yang dihasilkan adalah sesuatu yang murni untuk kemashlahatan umat,” jelasnya.

Kedua, tujuan pendidikannya untuk membentuk generasi bersyakhsiyah (berkepribadian –red) Islam. Menjadi ulama yang bermakna berilmu dalam ilmu agama maupun ilmu terapan dalam semua aspek hidup.  “Semuanya menyatu, tidak menomorasatukan yang satu dan menomorduakan yang lain. Mempersiapkan generasi khoiru ummah untuk membangun peradaban mulia yang tidak bisa muncul dari orang-orang yang terbiasa plagiat,” tegasnya.

Ketiga, kurikulum pendidikan Islam yang mencakup rancangan pembelajaran dan metodenya untuk meningkatkan level berpikir para siswa agar berpikir cemerlang. “Ini juga tidak tercapai dengan plagiat,” cetusnya.

Keempat, metode pembelajarannya talqiyan fikriyan. Penyampaian ilmu kepada peserta didik sebagai sebuah konsep adalah mengaitkan akal dengan fakta yang terindra siswa. Proses penyampaiannya diarahkan agar siswa paham dan mampu menerapkannya sebagai landasan bersikap dan berperilaku. “Setiap penyampaian ilmu pun disertai dorongan kepada siswa untuk mengamalkannya,” tuturnya.

Baca juga:  Bagaimana Solusi Sistem Pendidikan Islam Menghilangkan Stres?

Kelima, materi pelajaran disusun berdasarkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Untuk menjadi bekal kehidupan. Menentukan sikap dan perilaku, sehingga materi pelajaran harusnya menjadi ilmu yang diyakini kebenarannya. Sedangkan ilmu-ilmu yang bertentangan dengan Islam tidak boleh diajarkan khususnya pada usia dini. Dan di dalam penanaman konsep ilmu, materi pelajaran yang dipilih adalah yang sesuai realitas kehidupan yang paling dekat dengan siswa agar lebih mudah dipahami. “Oleh sebab itu plagiat yang dilakukan bisa jadi akibat pemahaman yang mengambang. Hanya sekadar bisa menyelesaikan soal atau yang diminta oleh gurunya,” kritiknya.

Keenam, sistem evaluasi dalam pendidikan Islam harus mampu melingkupi perkembangan siswa baik dari sisi aqliyah maupun nafsiyah dalam kesehariannya. Sistem evaluasi mampu melihat pengaruh ilmu terhadap pemahaman siswa, selanjutnya bagaimana pengaruh pemahaman itu terhadap sikap dan perilaku siswa. Sistem evaluasi ini mencakup lisan, tulisan, dan praktik yang sesuai arah pembelajaran setiap ilmu yang diajarkan. “Siswa harus benar-benar menguasai karena akan dievaluasi. Dari sini celah plagiarisme juga ditutup,” ulasnya.

Pada poin keenam ini, Ustazah Yusriana mengungkapkan perlunya peran optimal antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Terkait peran sekolah maka guru sangat berperan dalam proses pembelajaran yaitu sebagai teladan. Menggali dan mengoptimalkan potensi siswa. Memotivasi siswa untuk memiliki semangat belajar tinggi. Mengajarkan materi pelajaran secara sistematis untuk membangun pola pikir dan meningkatkan taraf berpikir siswa. Memotivasi siswa untuk meraih prestasi terbaik bukan sekadar mencari pekerjaan. Memotivasi siswa untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal saleh (fastabiqul khoiroot) dalam sikap dan perilaku. Mengevaluasi pengaruh pelajaran terhadap sikap dan perilaku siswa baik di sekolah maupun di rumah. “Ini hal yang luar biasa dan tidak ada di dalam sistem demokrasi,” tekannya.

Ustazah Yusriana memaparkan untuk peran keluarga khususnya dilakukan orang tua. Orang tua menjadi model atau teladan bagi anak-anaknya di rumah. Menjadi guru pertama dan utama, tidak menyerahkan secara penuh kepada guru di sekolah. Menggali dan mengoptimalkan potensi luar biasa anak. Memberikan kasih sayang yang cukup dan tulus kepada anak. Memfasilitasi tumbuh kembang anak dan proses pembelajarannya. Membangun rasa percaya diri yang tinggi pada anak. Mendampingi anak dalam proses pembelajaran di rumah. Bertanggung jawab penuh terhadap proses pembelajaran anak. Melatih anak mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Serta senantiasa mendoakan anak dalam kondisi apapun. “Karena insyaa Allah doa orang tua itu maqbul,” urainya.

Baca juga:  Tak Dihargai Sistem Sekuler, Guru Honorer Dimuliakan dalam Sistem Islam

Selanjutnya Ustazah Yusriana menjelaskan peran masyarakat dalam politik pendidikan Islam juga turut dibangun. Menciptakan suasana yang kondusif di lingkungan masyarakat agar anak semangat dan rajin beramal saleh. Masyarakat tidak cuek. Menciptakan suasana yang menutup keinginan anak berbuat berdasarkan hawa nafsu. Sehingga jika ada tetangga atau anggota masyarakat yang tahu ada anak melakukan plagiat atau perilaku buruk lainnya langsung dinasihati. Juga menciptakan suasana yang kondusif untuk anak yang berkembang sesuai level usianya. Peran masyarakat ini tentu berjalan ideal jika ada edukasi dari negara. “Hanya saja negara dalam sistem demokrasi sangat abai terhadap proses pendidikan ini, yang jauh berbeda dengan sistem Islam,” tukasnya.

Ketujuh, manajemen sekolah dalam sistem Islam harus mampu menciptakan suasana yang membuat siswa semangat dan senang belajar, bukan plagiarisme.  Suasana berlomba-lomba menjadi cerdas dan saleh. Suasana yang mengharuskan setiap guru menjadi teladan terbaik bagi siswa yaitu terdepan dalam beramal saleh. “Berbeda pada sistem sekarang dengan knowledge based economy untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka manajemen sekolah diarahkan menciptakan manusia siap kerja,” kritiknya.

Ustazah Yusriana menegaskan melalui sistem pendidikan Khilafah Islamiyyah ini insyaa Allah akan mengeliminir plagiarisme dan menjamin output yang berkualitas. “Tentunya kita sangat berharap sistem pendidikan Islam ini segera terwujud. “Namun tidak bisa di dalam bingkai sistem demokrasi. Hanya bisa dalam bingkai Khilafah Islamiyyah,” tandasnya.

3 thoughts on “Plagiarisme, Output Pendidikan Sistem Demokrasi

Tinggalkan Balasan