Perang Uhud

Oleh: Nabila Ummu Anas

MuslimahNews.com, SIRAH NABAWIYAH — Pada tahun ketiga Hijriyah di bulan Syawal kaum kafir Quraisy memobilisasi 3.000 pasukan disertai para wanita, budak, dan beberapa kabilah di sekitar Arab. Persenjataan dan perbendaharaan perang mereka persiapkan untuk membalaskan dendam kekalahan Perang Badar. Abu Sufyan tampil sebagai komandan perang, ditemani istrinya Hindun binti Utbah.

Persiapan Menuju Medan Perang

Kaum muslimin memantau pergerakan dan menganalisa kekuatan musuh. Abbas bin Abdul Muthalib menjadi intelijen pasukan kafir Quraisy dari Makkah. Nabi Saw. terus melakukan pembaharuan berita musuh dari beberapa penjuru. Ini sengaja dilakukan agar mampu memetakan langkah dan strategi apa yang harus dilakukan dalam menghadapi serangan musuh.

Rasul Saw.  mengumpulkan sejumlah sahabat untuk bermusyawarah membicarakan apakah mereka akan tetap tinggal di Madinah dan bertahan disana, ataukah mereka akan keluar menghadapi kaum musyrikin.

Saat musyawarah terjadi, Nabi Saw berpendapat untuk tetap tinggal di Madinah, dengan alasan bahwa Madinah adalah benteng yang kokoh. Namun sekelompok kaum muslimin yang tidak mengikuti perang Badar berkata, “Wahai Rasul, keluarlah bersama kami untuk menghadapi mereka”.

Pasukan kaum muslimin berangkat menuju Uhud. Rasul dan para sahabat bergerak setelah pertengahan malam, melewati pepopohan dan jalan yang jarang dilalui oleh orang-orang. Hal ini dilakukan agar musuh tidak mengetahui jejak perjalanan kaum muslimin dan mengetahui seberapa besar kekuatan mereka.

Pengkhianatan Kaum Munafik

Ketika pasukan sudah sampai di Asy-Syauth (sebuah kebun yang berada di antara kota Madinah dan bukit Uhud), Abdullah bin Ubay bin Salul -tokoh munafik- menarik diri dari rombongan pasukan perang beserta tiga ratus orang kaum musyrikin lainnya dengan alasan bahwa peperangan tidak akan terjadi.

Baca juga:  Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Selain itu dia pun menyampaikan penolakan atas keputusan berperang di luar kota Madinah. Abdullah bin Amru bin Haram berusaha membujuk mereka, namun tidak berhasil.

Sikap pembangkangan ini pun ternyata menimpa Bani Salamah dan Bani Haritsah. Mereka berencana keluar dari pasukan namun Allqh langsung menegur dan menjaga mereka dengan firman-Nya, “Ketika dua golongan dari padamu ingin mundur karena takut, padahal Alloh adalah wali bagi kedua golongan tersebut. Karena itu hendaklah orang-orang mukmin itu bertawakkal kepada Alloh.” (QS. Ali Imron: 122)

Rasulullah Saw. Memotivasi Pasukan Kaum Muslimin

Rasul Saw. menyiapkan 50 pasukan memanah dan menempatkannya di bukit Uhud dengan amanah tidak boleh turun dari bukit apapun yang terjadi di bawah bukit. Sebelum perang dimulai, Rasul Saw. membakar pasukan kaum muslimin untuk senantiasa bersemangat menghadapi musuh dan bersabar di medan pertempuran.

Al-waqidi berkata, sebelum perang Uhud Rasulullah berkhutbah di hadapan pasukan, “Wahai segenap manusia! Aku wasiatkan kepada kalian sebagaimana yang Alloh wasiatkan kepadaku dalam kitab-Nya untuk beramal dengan menaati-Nya dan mejauhi larangan-Nya. Sungguh hari ini kalian berada di tempat berpahala, tentunya bagi siapa saja yang telah disebutkan baginya apa yang menjadi kewajibannya lalu mempersiapkan dirinya untuk bersabar, yakin, bersungguh-sungguh, dan bersemangat. Sungguh, jihad melawan musuh adalah suatu hal yang berat dan tidak disukai. Sangat sedikit orang yang bersabar diatas jalan-Nya kecuali bagi orang-orang yang Allah teguhkan hidayah-Nya. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taat kepada-Nya dan setan bersama orang yang bermaksiat kepada-Nya. Maka mulailah amal-amal kalian dengan bersabar diatas jihad dan raihlah dengannya apa yang Allah janjikan kepada kalian. Kalian harus melakukan apa yang aku perintahkan. Aku sangat ingin menyampaikan nasihat kepada kalian  bahwa perselisihan, pertikaian dan patah semangat merupakan kelemahan yang tidak disukai oleh Allah dan tidak akan mendatangkan kemenangan dan kejayaan.”

Pasukan Pemanah Tergoda Ghanimah

Rasulullah Saw. mewanti-wanti kepada para pasukan untuk tidak menyerang sebelum diperintahkan untuk menyerang termasuk tidak mengizinkan pasukan pemanah untuk turun dari bukit sebelum diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

Baca juga:  Pelajaran Berharga dari Perang Uhud

Pasukan pemanah melihat kekalahan menimpa pasukan kafir Quraisy dan sekutunya. Mereka melihat bergelimpangannya harta ghanimah yang berserakan di medan pertempuran. Kondisi di lembah membuat pasukan pemanah goyang keimanannya dan tergoda untuk turun ke lembah, padahal instruksi awal dari Rasul tidak boleh turun dari bukit, apapun yang terjadi di lembah.

Pasukan Kaum Muslimin Dipukul Mundur

Pasukan kafir quraisy semakin terdesak dan mereka memilih untuk mundur dari medan Uhud. Saat mereka sudah mulai menjauh dari medan Uhud dan melihat adanya pasukan pemanah turun dari bukit, menjadikan mereka berpikir ulang untuk menyerang kaum muslimin. Akhirnya pasukan kafir Quraisy kembali ke medan Uhud dan mengepung kaum muslimin dari dua arah sekaligus, arah bukit Uhud dan arah belakang pasukan kaum muslimin. Kaum muslimin diserang habis-habisan dan barisan mulai kacau.

Pasukan kaum muslimin semakin terdesak hingga mampu menembus benteng pertahanan Rasulullah Saw. Pasukan Quraisy melempari Rasul Saw. dengan batu hingga berhasil melukai hidung dan memecahkan gigi depan Beliau Saw. Wajah beliau yang mulia terluka hingga memancarkan darah.

Ibnu Qami’ah menyerang Mush’ab bin Umair karena sangat mirip dengan wajah Rasulullah Saw. sehingga tersiarlah isu bahwa Muhammad sudah terbunuh. Kabar itu semakin membuat kacau pasukan kaum muslimin. Sebagian dari mereka ada yang lari kembali ke Madinah, sebagian lari ke bukit Uhud dan sebagian memilih untuk melanjutkan peperangan dan syahid.

Baca juga:  Kafir Quraisy Menginginkan Kehancuran Islam dan Kaum Muslimin

Para Sahabat Melindungi Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. kembali mengatur strategi. Sembilan orang sahabat menjadi pelindung utama Rasul dari serangan musuh. Thalhah bin Ubaidillah maju menyerang musuh sehingga beliau banyak terluka bahkan tangan kanannya lumpuh oleh anak panah. Sa’ad bin Abi Waqqas tampil melindungi Rasulullah Saw.

Nusaibah binti Ka’ab pun melindungi Rasul dengan pedangnya, namun ia terkena lemparan busur panah dan mengalami luka yang parah. Abu Dujanah tampil menjadi tameng Rasulullah Saw. dengan tubuhnya.

Abu bakar setia mendampingi Rasulullah saw. Umar dan sahabat yang lainnya berusaha memukul mundur pasukan musuh. Mereka berperang mati-matian untuk terus memukul mundur musuh dan tidak beranjak sedikit pun dari medan perang.

Perang Uhud telah usai, puluhan sahabat menemui kesyahidan. Kekalahan dialami kaum muslimin ketika tidak mengikuti arahan dan instruksi Rasulullah Saw. Ditambah lagi sikap kaum munafikin yang mundur dari medan pertempuran dan upaya mereka mempengaruhi sebagian kaum muslimin untuk tidak ikut berjihad di medan Uhud.

Para sahabat segera bertobat kepada Allah SWT. Mereka berkomitmen menaati Allah dan Rasul-Nya serta setia bersama perjuangan Rasulullah Saw. Wallahua’lam bishshowab. [MNewsRgl]

Sumber: Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Al Azhar Press

Caption: Pasukan Quraisy melempari Rasul Saw. dengan batu hingga berhasil melukai hidung dan memecahkan gigi depan Beliau Saw.

Tinggalkan Balasan