Menghirup Keadilan di Tengah Kepalsuan, Mungkinkah?

Oleh: Asy Syifa Ummu Sidiq

MuslimahNewsID, OPINI — Salah satu kebahagiaan manusia adalah mendapatkan rasa adil dalam dirinya. Keadilan akan membuahkan ketenangan.  Jika perasaan itu mampu dirasakan oleh semua orang, maka tidak akan ada lagi orang yang merasa teraniaya. Rakyat pun  akan setia dan patuh pada sang pemimpinnya.

Baru-baru ini perlakuan keadilan banyak dipertanyakan. Penyikapan aparat atas  kasus yang melibatkan ulama terkemuka  melahirkan pro dan kontra. Awalnya, sang ulama disebut-sebut terjerat kasus karena pelanggaran PSBB. Namun akhirnya kasus berkembang ke pasal penghasutan (merdeka.com, 15/12/20).

Ada lagi kisah ulama yang sudah “sepuh”, kondisi Beliau saat ini pun sering sakit-sakitan. Namun, beliau tetap berada dalam tahanan. Dengan dalih membahayakan NKRI. Padahal jika dilihat, di usia Beliau yang sudah renta, daya apa yang dimiliki untuk membahayakan NKRI. Beliau hanya ulama yang hanif, taat dan tak pernah korupsi, kolusi apalagi nepotisme.

Di sisi lain, masih ingat kisah seorang bocah pahlawan yang meninggal karena berusaha melindungi ibunya dari pemerkosaan. Pelaku yang notabene ternyata mantan pembunuh dan akhirnya dipenjara. Ternyata dapat keluar dari penjara karena program remisi pemerintah saat wabah corona. Nyatanya dengan kebijakan itu, kejahatan bertambah. Pelakunya mantan   narapidana yang mengikuti program remisi.

Baca juga:  Keadilan di Inggris Hanya untuk Segelintir Orang

Mimpi Keadilan dalam Demokrasi

Menurut kamus Wikipedia keadilan adalah sikap yang bebas dari diskriminasi dan ketidakjujuran. Dengan begitu, seseorang dikatakan adil manakala sesuai standar hukum baik hukum agama, hukum negara maupun hukum sosial (hukum adat).

Jika disandarkan pada makna keadilan di atas, apakah perlakuan terhadap para ulama tadi sudah dapat dikatakan adil?Hingga saat ini, ulama-ulama yang terlihat berbeda pendapat dengan pandangan pemerintah seakan dicari-cari terus kesalahannya. ini setiap peristiwa yang berhubungan dengan beliau selalu dicari celah kesalahannya.

Tapi kasus korupsi yang semakin menggurita seakan dibiarkan saja. Pelakunya susah sekali ditemukan, padahal kalau berhubungan dengan kata terorisme cepat sekali penanganannya. Bahkan beberapa orang dikabarkan sengaja dipenjarakan demi menutupi kesalahan tuannya. Dimana letak pengadilan yang adil? Seberapa bahayakah ulama, jika dibanding para koruptor atau kelompok yang menyulut disintegrasi bangsa? Bagi demokrasi, dimana letak keadilan sesungguhnya? Apakah keadilan hanya sebatas istilah yang tak mungkin terealisasi di iklim demokrasi?

Keadilan dalam Islam

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Baca juga:  Mewujudkan Keadilan

Berlaku adil adalah perintah Allah SWT. Sebagai seorang muslim sepantasnya kita berlaku adil. Dalam posisi apapun. Menjadi ibu rumah tangga, pimpinan perusahaan, sekolah, apalagi pemimpin kaum muslimin wajib dapat berlaku adil.

Keadilan sendiri lebih menitik beratkan pada pengertian menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Menurut Ibn Qudamah seorang ahli fikih dari Mazhab Hambali, menyatakan bahwa keadilan itu tersembunyi, motivasi melakukannya hanya karena Allah. Maka, Islam memaknai keadilan jika kita mampu menempatkan segala sesuatu sesuai hukum syara’.

Lantas bagaimana cara Islam menghadapi pelanggaran? Seseorang dikatakan salah apabila melanggar aturan. Baik aturan agama maupun aturan negara. Aturan negara dalam Islam disandarkan juga pada hukum syara’. Maka, hukumannya pun akan disesuaikan dengan hukum syara’ yang ada.

Dalam upaya penegakan hukum, Islam terlebih dahulu akan melakukan pembuktian. Setelah dilakukan proses pembuktian, barulah qadhi memberikan keputusannya. Jika dari hasil pembuktian itu terbukti tak bersalah maka terdakwa akan bebas. Namun, jika sebaliknya qadhi akan memberikan sanksi.

Sanksi dalam Islam dibagi menjadi 4, hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat. Hudud adalah sanksi dengan kemaksiatan yang kasus dan sanksinya sudah ditetapkan syariat. Jinayat adalah penyerangan terhadap manusia. Jinayat dibagi menjadi 2: Pertama, penyerangan terhadap jiwa (pembunuhan). Sanksinya bisa berupa qishah,  diyat dan kafarah. Kedua, penyerangan terhadap organ tubuh. Sanksinya adalah diyat.

Baca juga:  Mengharapkan Keadilan dari Ketidakadilan

Ta’zir adalah sanksi kemaksiatan yang tidak ada had dan kafarah. Qadhi yang berhak menetapkan sanksi dengan pertimbangan pelaku, kasus, politik dll. Mukhalafat adalah sanksi yang diberikan ketika tidak menaati ketetapan yang dikeluarkan negara, baik itu berupa larangan ataupun perintah.

Dari sini, Islam tidak akan langsung menghakimi seseorang yang dinilai salah. Harus dibuktikan dulu dengan menghadirkan saksi. Semuanya juga dilandaskan pada hukum syara’. Bukan atas dasar suka atau tidak suka. Bahkan bukan pula karena kepentingan seseorang/kelompok. Sehingga orang tak akan mudah menuduh orang lain. Karena Islam melindungi kehormatan tiap Jiwa. Jika demikian, masihkah ragu mengambil sistem Islam sebagai solusi masalah kehidupan? Wallahu’alam bishowab.

2 thoughts on “Menghirup Keadilan di Tengah Kepalsuan, Mungkinkah?

  • 20 Desember 2020 pada 14:44
    Permalink

    Sesuatu yang tidak mungkin di dalam sistem kapitalis demokrasi ini,karena manusia yang mengatur kebijakan dan hukum …hanya sistem Islam dalam KHILAFAH yang akan memberikan keadilan seadil-adilnya

Tinggalkan Balasan